MAKASSAR, UNHAS.TV - Beragam booth edukasi kesehatan hadir dalam Pameran Kesehatan Lingkungan yang digelar Tim Peneliti Stanford-Unhas Alliance for Planetary Health Research in Asia-Pacific di UPT SPF SD Inpres Galangan Kapal I, II, III, dan IV, Minggu (10/5/2026).
Salah satu booth yang menarik perhatian masyarakat ialah edukasi faktor risiko lingkungan terkait banjir dan demam berdarah dengue (DBD).
Melalui booth tersebut, masyarakat diajak memahami hubungan antara kondisi lingkungan, banjir, hingga munculnya berbagai penyakit yang kerap ditemukan di wilayah padat penduduk seperti Kecamatan Tallo.
Field Staff Stanford-Unhas sekaligus Penanggung Jawab Booth Faktor Risiko Lingkungan: Banjir, Aliyyah Ansariadi menjelaskan, riset yang dilakukan timnya berfokus pada pengalaman ibu hamil saat menghadapi banjir di lingkungan tempat tinggal mereka.
“Nah salah satu dari riset kami kemarin itu tentang banjir dan riset yang kami lakukan adalah riset kualitatif, di mana kami keliling dan mewawancarai ibu hamil yang pernah menjadi responden kami,” ujarnya.
Dari hasil wawancara tersebut, tim peneliti menemukan sejumlah penyebab banjir di lingkungan masyarakat, mulai dari saluran air yang tersumbat, kondisi lingkungan yang kurang bersih, hingga minimnya daerah resapan air.
Aliyyah mengatakan, masyarakat sebenarnya telah memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan melalui kerja bakti rutin yang dilakukan di beberapa wilayah.
“Ternyata ada juga upaya dari komunitas mereka untuk membersihkan lingkungannya, seperti diadakan kerja bakti secara rutin setiap minggu oleh kepala lurahnya,” jelasnya.
Selain edukasi penyebab banjir, booth tersebut juga memberikan pemahaman mengenai risiko penyakit yang dapat muncul akibat genangan air, khususnya demam berdarah dengue (DBD).
Ia menjelaskan, genangan air pascabanjir menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus dengue.
“Nah cara untuk melindungi diri dari demam berdarah ini yang pertama adalah kita harus mencegah berkembang biaknya nyamuk yang membawa penyakit ini, yaitu dengan menguras bak mandi atau menimbun daerah yang rawan terkena genangan air,” katanya.
Sementara itu, Ketua Tim Peneliti Stanford-Unhas Alliance for Planetary Health Research in Asia-Pacific, Ansariadi SKM MScPH PhD menyebut, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk menyampaikan hasil riset sekaligus edukasi kesehatan kepada masyarakat secara langsung.
“Kami berharap masyarakat juga tahu apa yang kami lakukan dan bagaimana hasilnya. Selain itu, edukasi yang kami berikan terkait kenapa masalah kesehatan ini muncul bisa diterima oleh masyarakat,” tuturnya.
Menurutnya, edukasi kesehatan berbasis lingkungan masih perlu dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat benar-benar memahami persoalan kesehatan di sekitarnya dan terdorong untuk mengubah perilaku menjadi lebih sehat.
Melalui berbagai booth edukasi yang dihadirkan, Ansariadi berharap pameran tersebut tidak hanya menjadi ruang pamer hasil penelitian, tetapi juga media pembelajaran kesehatan lingkungan yang mudah dipahami masyarakat.
(Achmad Ghiffary M / Moh. Resha Maharam / Unhas TV)
KESEHATAN LINGKUNGAN - Salah satu booth yang menarik perhatian masyarakat ialah edukasi faktor risiko lingkungan terkait banjir dan demam berdarah dengue (DBD), Minggu (10/5/2026). Pameran Kesehatan Lingkungan ini digelar Tim Peneliti Stanford-Unhas Alliance for Planetary Health Research in Asia-Pacific di UPT SPF SD Inpres Galangan Kapal I, II, III, dan IV. (Unhas TV/Moh Resja Maharam)

-300x169.webp)




 2026 Kembali Digelar (1)-300x200.webp)

