Lingkungan
Sosial

EIIC 2026 Dorong Kolaborasi Global untuk Transisi Energi Berkeadilan di Indonesia Timur

EIIC 2026 - Unhas menjadi tuan rumah Eastern Indonesia International Conference on Energy Transition and Critical Mineral atau EIIC 2026. Konferensi dibuka di Aula Profesor Amiruddin, Fakultas Kedokteran Unhas, Kampus Tamalanrea, Makassar, Selasa (14/7/2026).

MAKASSAR, UNHAS.TV - Universitas Hasanuddin (Unhas) menjadi tuan rumah Eastern Indonesia International Conference on Energy Transition and Critical Mineral atau EIIC 2026.

Forum internasional ini mempertemukan akademisi, masyarakat adat, pemerintah, industri, organisasi masyarakat sipil, serikat buruh, dan lembaga internasional untuk membahas transisi energi serta pengelolaan mineral kritis di Indonesia Timur.

Konferensi dibuka di Aula Profesor Amiruddin, Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Kampus Tamalanrea, Makassar, Selasa (14/7/2026).

Lebih dari 100 peserta mengikuti kegiatan yang mengangkat tema “Percepatan Transisi Energi dan Mineral Kritis yang Berkeadilan di Indonesia”.

Forum tersebut digelar di tengah meningkatnya kebutuhan energi bersih dan permintaan terhadap mineral kritis untuk mendukung teknologi rendah karbon.

Di sisi lain, pengembangan industri pertambangan masih menghadapi persoalan perlindungan lingkungan, pemenuhan hak masyarakat, serta pemerataan manfaat ekonomi.

EIIC 2026 menjadi ruang dialog lintas sektor untuk mengurai persoalan tersebut. Sejumlah pembicara membahas potensi mineral kritis di kawasan timur Indonesia, perkembangan industri nikel, perlindungan ekosistem, dampak sosial pertambangan, hingga percepatan dekarbonisasi industri.

Koordinator Aliansi Sulawesi Muhammad Al Amin mengatakan konferensi itu bertujuan mengevaluasi berbagai persoalan yang muncul dalam pelaksanaan transisi energi dan pengelolaan mineral kritis.

Menurut dia, kebijakan energi tidak cukup hanya mengejar target penurunan emisi, tetapi juga harus memperhatikan masyarakat yang terdampak langsung.

“Konferensi ini bertujuan merefleksikan dan mendiskusikan persoalan mengenai transisi energi dan mineral kritis di Indonesia Timur,” kata Al Amin.

Ia mengatakan EIIC 2026 juga diarahkan untuk membangun kerja sama produktif antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, masyarakat sipil, dan organisasi internasional.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan yang memperkuat standar perlindungan sosial dan lingkungan.

Menurut Al Amin, keterlibatan berbagai kelompok penting agar pengambilan kebijakan tidak hanya didominasi pemerintah dan pelaku industri.

Masyarakat adat, buruh, serta warga yang hidup di sekitar wilayah pertambangan harus memperoleh ruang untuk menyampaikan pengalaman dan kepentingannya.

“Kita berharap terwujud transisi energi dan pengelolaan mineral kritis yang berkeadilan bagi rakyat dan generasi mendatang,” ujarnya.

Dibahas dari Berbagai Sudut Pandang

Guru Besar Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, Prof Dr Eng Adi Maulana ST MPhil, menilai antusiasme peserta, khususnya kalangan peneliti, menunjukkan isu nikel masih menjadi perhatian besar.

Banyaknya pertanyaan selama seminar, kata dia, menandakan perkembangan industri tersebut perlu dibahas secara kritis dari berbagai sudut pandang.

Menurut Adi Maulana, perdebatan akademik saat ini tidak lagi berhenti pada pertanyaan apakah Indonesia membutuhkan pertambangan.

Pembahasan telah bergeser pada model pertambangan yang diperlukan untuk menunjang pembangunan tanpa mengorbankan lingkungan dan masyarakat.

“Pertanyaannya bukan lagi apakah kita membutuhkan tambang, tetapi tambang seperti apa yang kita butuhkan,” kata Adi Maulana.

Ia mengatakan praktik pertambangan yang dibutuhkan adalah kegiatan yang bertanggung jawab, berkelanjutan, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Pengelolaan sumber daya mineral juga harus disertai standar perlindungan lingkungan yang kuat, pengawasan yang efektif, dan keterbukaan dalam proses pengambilan keputusan.

Adi Maulana menambahkan, pertanyaan dan pandangan peserta selama seminar dapat menjadi bahan untuk memperkaya riset yang tengah dilakukan.

Pertukaran gagasan antara peneliti, masyarakat, pemerintah, dan pelaku industri dinilai membantu akademisi melihat persoalan secara lebih utuh.

Konferensi EIIC 2026 berlangsung selama tiga hari. Rangkaian kegiatan dimulai dengan seminar internasional di Unhas, kemudian dilanjutkan dengan diskusi mengenai dekarbonisasi industri, perlindungan lingkungan, serta pemenuhan hak masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam.

Al Amin berharap forum tersebut tidak berhenti sebagai tempat bertukar pandangan. Hasil konferensi diharapkan dapat dirumuskan menjadi rekomendasi strategis bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam menyusun kebijakan energi serta pertambangan.

Melalui EIIC 2026, Universitas Hasanuddin dan para mitranya berupaya memperkuat posisi Indonesia Timur dalam pembahasan transisi energi nasional.

Wilayah yang menyimpan kekayaan mineral besar itu diharapkan tidak hanya menjadi lokasi eksploitasi sumber daya, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi, perlindungan lingkungan, dan pembangunan sosial yang berkelanjutan.

(Zahra Tsabita Sucheng / Unhas TV)