Ekonomi

FEB Unhas dan MDA Perkuat Kapasitas 21 UMKM Luwu melalui Resota UMKM



UMKM - Peserta program pengembangan UMKM mitra binaan PT Masmindo Dwi Area (MDA) saat mengikuti program Resota UMKM yang dilaksanakan oleh MDA dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas. Foto: FEB Unhas


Pada bidang bisnis, Naufal Muhammad Aksah membawakan materi proses bisnis, produksi, dan kualitas yang mencakup pemetaan alur produksi atau jasa, kapasitas usaha, bottleneck, waste, penyusunan SOP sederhana, serta titik kontrol kualitas yang sesuai dengan skala UMKM. 

Adapun Ihya’ Ulumuddin pada bidang pemasaran mengarahkan peserta memperjelas profil pelanggan, menentukan kanal penjualan prioritas, menyusun target penjualan dan pesan promosi, serta memanfaatkan kanal digital untuk memperluas jangkauan pasar.

Rangkaian materi dilengkapi oleh Suhaily Sudarman SE ME melalui penguatan tata kelola dan keberlanjutan usaha, termasuk pembagian peran, administrasi dasar, kontinuitas operasional, legalitas dasar, serta penguatan tata kelola agar rencana pengembangan dapat dijalankan secara lebih terstruktur.

Selama lima hari, proses pembelajaran dibangun secara bertahap dan saling terhubung. Pada tahap awal, setiap pelaku UMKM menyusun baseline usaha untuk memperoleh gambaran aktual mengenai produk atau jasa, pelanggan utama, keunggulan usaha, tantangan, serta kebutuhan pengembangan. Peserta kemudian diarahkan untuk menetapkan tiga persoalan utama yang realistis untuk diperbaiki sehingga masing-masing usaha memiliki titik awal yang jelas untuk mengukur perkembangan selama program. 

Pada aspek keuangan, peserta memperoleh pemahaman konseptual dan mempraktikkan pemisahan kas pribadi dan kas usaha, pengelompokan biaya tetap dan variabel, penghitungan Harga Pokok Produksi (HPP), harga jual, margin, Break-Even Point (BEP), serta kebutuhan modal kerja dasar. Pendekatan ini diharapkan membantu pelaku usaha mengambil keputusan bisnis berdasarkan perhitungan, bukan semata-mata perkiraan.

Pembelajaran kemudian dilanjutkan pada aspek proses produksi dan kualitas. Peserta memetakan alur produksi atau pelayanan mulai dari input hingga produk diterima pelanggan, mengidentifikasi kapasitas dan bottleneck, mengenali waste, serta menyusun SOP dan checklist pengendalian kualitas sederhana. Pada aspek pemasaran, peserta dilatih memperjelas profil pelanggan, menentukan kanal penjualan yang relevan, menyusun target penjualan dan pesan pemasaran, serta memanfaatkan media digital sebagai instrumen untuk memperluas jangkauan pasar. Seluruh hasil pembelajaran tersebut kemudian dikonsolidasikan ke dalam aspek tata kelola dan keberlanjutan sehingga perbaikan usaha tidak berjalan secara parsial, tetapi terhubung dalam satu rencana pengembangan yang lebih utuh.

Salah satu keluaran utama pelatihan adalah Rencana Aksi Tiga Bulan. Rencana tersebut tidak disusun sebagai daftar keinginan, melainkan memuat target, indikator, tahapan pekerjaan, penanggung jawab, waktu pelaksanaan, serta bukti yang harus dihasilkan. Setiap peserta menggunakan hasil kerja dari hari-hari sebelumnya sebagai dasar penyusunannya, sehingga target pengembangan pada aspek keuangan, produksi, kualitas, pemasaran, maupun tata kelola dapat ditelusuri kembali pada persoalan aktual yang ditemukan sejak awal program. 

Proses pembelajaran juga didukung melalui Buku Kerja Pengusaha Naik Kelas yang dirancang untuk menjembatani materi kelas dengan praktik usaha, sehingga peserta dapat memasukkan data, melakukan perhitungan, mengambil keputusan, dan mencatat tindakan yang harus dilakukan secara sistematis.

Menurut Rianda, pendekatan tersebut penting karena persoalan setiap UMKM tidak selalu sama dan membutuhkan respons yang berbeda sesuai kondisi masing-masing usaha. 

"Ada usaha yang persoalan utamanya berada pada biaya dan harga jual, ada yang harus membenahi kualitas produk, ada pula yang membutuhkan strategi pemasaran atau pembagian peran yang lebih jelas. Karena itu, solusi harus dimulai dari diagnosis usaha, bukan dari asumsi," jelasnya.

Rangkaian pelatihan lima hari ditutup dengan presentasi serta asesmen terhadap masing-masing UMKM. Dari 21 UMKM peserta, 10 UMKM dipilih untuk melanjutkan ke tahap pengembangan berikutnya. Seleksi dilakukan menggunakan indikator yang telah disusun sebelumnya, meliputi partisipasi dan keseriusan selama pelatihan sebesar 30 persen, kualitas Rencana Aksi 30 persen, potensi dan kesiapan usaha 25 persen, serta kelengkapan baseline 15 persen. 

Melalui mekanisme tersebut, penetapan UMKM tidak hanya didasarkan pada besar-kecilnya skala usaha, tetapi juga mempertimbangkan kesiapan menjalankan perubahan, kualitas rencana, konsistensi data, dan keterlibatan peserta selama proses pelatihan. Sepuluh UMKM terpilih selanjutnya memasuki tahap pendampingan usaha selama tiga bulan, dengan perkembangan yang dipantau melalui mekanisme supervisi, monitoring, dan evaluasi berbasis bukti.

Director Human Capital and Corporate Services PT Masmindo Dwi Area, Muhammad Suhada, menempatkan program tersebut sebagai bagian dari upaya membangun kemampuan dan kemandirian masyarakat melalui kewirausahaan. Kolaborasi berbagai pihak diharapkan dapat memperkuat kapasitas UMKM sekaligus memperluas dampak ekonomi di wilayah Kabupaten Luwu. 

"Pengembangan UMKM membutuhkan proses yang berkelanjutan. Melalui kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat, kami berharap pelaku usaha dapat semakin mandiri dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat Kabupaten Luwu," ujar Muhammad Suhada.

Program Resota UMKM 2026 merupakan bagian dari implementasi Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) MDA, khususnya Pilar Jaga Masa Depan Desa, yang disusun dengan mempertimbangkan kebutuhan dan aspirasi masyarakat di wilayah operasional perusahaan. 

Bagi FEB Unhas, keterlibatan perguruan tinggi dalam program pengembangan UMKM tidak hanya ditempatkan dalam konteks transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai upaya menghadirkan pendekatan akademik yang dapat digunakan untuk memetakan persoalan, membangun kapasitas pengambilan keputusan, serta mengukur perkembangan usaha secara lebih sistematis. 

Melalui proses tersebut, keberhasilan program diharapkan tidak berhenti pada terlaksananya pelatihan selama lima hari, tetapi dapat dilihat dari perubahan nyata dalam cara pelaku UMKM mengelola dan mengembangkan usahanya setelah kembali ke desa masing-masing.(*)