MAKASSAR, UNHAS.TV - Kemunculan lubang besar atau sinkhole di kawasan persawahan Nagari Situjuah Batua, Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat, beberapa waktu lalu menyita perhatian publik.
Fenomena yang terjadi usai banjir melanda sejumlah wilayah di Sumatera tersebut memunculkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat, mulai dari dugaan peristiwa mendadak hingga kaitannya dengan unsur mistis.
Ketua Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, Dr Eng Ir Hendra Pachri ST MEng, menjelaskan bahwa sinkhole merupakan fenomena geologi yang bersifat alamiah dan umum terjadi, khususnya di wilayah yang tersusun atas batuan gamping atau batu kapur.
“Sinkhole adalah amblasan vertikal permukaan tanah yang dapat membentuk lubang dengan diameter besar dan kedalaman lebih dari 10 meter. Dari sudut pandang geologi, ini merupakan fenomena yang lazim, terutama di daerah karst”, ujarnya.
Menurutnya, proses terbentuknya sinkhole tidak terjadi secara tiba-tiba. Fenomena ini merupakan hasil dari proses geologi yang berlangsung sangat lama, bahkan bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan tahun.
Air hujan dan air tanah berperan sebagai faktor utama yang melarutkan batuan gamping di bawah permukaan, membentuk rongga-rongga yang lama-kelamaan melemahkan daya dukung tanah di atasnya.
“Ketika rongga di bawah permukaan sudah cukup besar dan tidak lagi mampu menopang beban di atasnya, maka tanah bisa runtuh secara mendadak,” jelasnya.
.webp)
Ketua Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Unhas Dr Eng Ir Hendra Pachri ST MEng saat tampil dalam program Unhas Speak Up di Studio Unhas TV. Hendra menyebut fenomena sinkhole merupakan proses panjang dan umumnya terjadi di lingkungan daerah karst. (dok unhas tv)
Terkait banjir bandang yang terjadi sebelum kemunculan sinkhole di 50 Kota, Hendra menegaskan bahwa banjir bukan penyebab langsung, melainkan faktor pemicu yang mempercepat proses keruntuhan.
“Kehadiran air dalam volume besar memberikan tekanan tambahan pada rongga bawah tanah. Setelah banjir surut, rongga yang sudah terbentuk bisa menjadi kering dan kolaps, sehingga runtuhan terjadi lebih cepat,” terangnya.
Ia juga menambahkan bahwa warna air kebiruan yang terlihat di dalam lubang sinkhole merupakan fenomena alamiah, tergantung pada kondisi cahaya, kedalaman, dan kejernihan air tanah.
Namun, karena lokasi sinkhole berada di area persawahan, kualitas air berpotensi tercemar oleh aktivitas pertanian seperti pemupukan.
“Air tanah di batu gamping umumnya jernih, tetapi jika bercampur dengan air permukaan dari sawah, maka kualitasnya perlu diuji. Masyarakat tidak disarankan mengaitkan air tersebut dengan manfaat mistis atau kesehatan,” tuturnya.
Fenomena serupa juga pernah terjadi di Sulawesi Selatan. Hendra menyebutkan bahwa pada tahun 2019, sinkhole muncul di kawasan persawahan di Kecamatan Camba, Kabupaten Maros, dengan diameter mencapai 10-20 meter.
Selain itu, pada April 2025, lubang serupa kembali ditemukan di jalur Bone-Makassar, meski dengan diameter lebih kecil namun kedalaman lebih dari 10 meter.
“Formasi batuan di 50 Kota memiliki kesamaan dengan wilayah karst di Sulawesi Selatan, seperti Maros dan Pangkep, yang sama-sama tersusun oleh batu gamping,” ungkapnya.
Hendra menekankan pentingnya pemetaan geologi bawah permukaan dalam perencanaan tata ruang dan pembangunan.
Menurutnya, risiko sinkhole dapat diminimalkan melalui pemetaan wilayah rawan, penentuan zona risiko, serta edukasi masyarakat mengenai tanda-tanda awal, seperti perubahan warna air sumur atau kemiringan pohon di sekitar lokasi.
“Tantangan terbesar kita adalah mindset dalam perencanaan. Kajian geologi sering dilakukan setelah kejadian terjadi. Padahal, mitigasi seharusnya dilakukan sejak tahap perencanaan,” katanya.
Hendra mengajak seluruh pihak, baik masyarakat maupun pengambil kebijakan, untuk meningkatkan kesadaran terhadap potensi bencana geologi.
“Sinkhole adalah proses alamiah, bukan kejadian mistis. Dengan pemahaman geologi yang baik dan perencanaan berbasis data, risiko terhadap keselamatan manusia dan infrastruktur dapat dikurangi”, pungkasnya.
(Zulkarnaen Jumar Taufik / Unhas TV)
Ketua Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Unhas Dr Eng Ir Hendra Pachri ST MEng saat tampil dalam program Unhas Speak Up di Studio Unhas TV. Hendra menyebut fenomena sinkhole merupakan proses panjang dan umumnya terjadi di lingkungan daerah karst. (dok unhas tv)


-300x200.webp)





