Budaya
Internasional

Forum Sastra Mesir–Arab Saudi Berakhir di Aleksandria, Era Baru Kerja Sama Sastra Arab Resmi Dimulai

KOLABORASI BUDAYA - Forum Sastra Mesir–Arab Saudi memperkuat kolaborasi budaya dan jaringan sastra Arab global. (Foto: Istimewa)

MAKASSAR, UNHAS.TV — Forum Sastra Mesir–Arab Saudi Pertama resmi ditutup di Perpustakaan Aleksandria pada Selasa, 16 Juni 2026, dengan menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis yang bertujuan memperkuat kerja sama kebudayaan, mendorong penerbitan karya para sastrawan kedua negara, memanfaatkan kecerdasan buatan dalam pengembangan sastra, serta menyusun laporan tahunan mengenai perkembangan sastra Arab kontemporer di Mesir dan Arab Saudi.

Menurut laporan yang dipublikasikan oleh harian Mesir Youm7 (اليوم السابع) pada 16 Juni 2026, acara penutupan dihadiri oleh Direktur Perpustakaan Aleksandria, Ahmed Abdullah Zayed, Penasihat Kebudayaan Asosiasi Sastra dan Sastrawan Arab Saudi, Khalid Al-Harbi, serta sejumlah penyair, novelis, dan intelektual dari kedua negara.

Dalam sesi penutupan, Direktur Pusat dan Museum Manuskrip Perpustakaan Aleksandria, Madhat Issa, membacakan rekomendasi forum yang menekankan pentingnya memperkaya lanskap budaya Mesir dan Arab Saudi melalui berbagai program sastra, budaya baca, dan pertukaran intelektual.

Forum juga merekomendasikan dukungan penerbitan karya-karya kreatif para novelis dan penyair dari kedua negara agar dapat menjangkau khalayak pembaca yang lebih luas di dunia Arab.

Salah satu rekomendasi yang menarik perhatian adalah perlunya mengkaji bagaimana berbagai genre sastra dapat memanfaatkan perkembangan kecerdasan buatan tanpa kehilangan nilai artistik dan kemanusiaannya.

Para peserta juga menyepakati penerbitan sebuah buku ilmiah yang menghimpun seluruh makalah dan hasil diskusi forum dengan pengawasan bersama antara Perpustakaan Aleksandria dan Asosiasi Sastra dan Sastrawan Arab Saudi.

Sebagai bentuk keberlanjutan kerja sama, penyelenggaraan forum kedua akan dilaksanakan di Arab Saudi dengan koordinasi langsung dari Asosiasi Sastra dan Sastrawan Saudi.

Forum tersebut juga mendorong pembentukan komite koordinasi permanen yang bertugas memantau pelaksanaan rekomendasi, mengevaluasi program bersama, serta menyusun laporan berkala mengenai dampak budaya dan media dari kerja sama kedua negara.

Peserta forum turut mengusulkan agar pertemuan berikutnya diberi nama tokoh sastra besar dari Mesir dan Arab Saudi, misalnya “Siklus Naguib Mahfouz dan Ghazi Al-Gosaibi”, guna memperkenalkan generasi baru kepada para tokoh penting dalam sejarah sastra Arab modern.

Dua Pilar Sastra Arab Modern

Forum ini memiliki arti penting karena mempertemukan dua pusat utama perkembangan sastra Arab kontemporer.

Mesir selama lebih dari satu abad dikenal sebagai jantung penerbitan, kritik sastra, dan gerakan intelektual Arab modern.

Dari Mesir lahir nama-nama besar seperti Naguib Mahfouz, Taha Hussein, Abbas Mahmoud Al-Aqqad, Tawfiq Al-Hakim, Yusuf Idris, serta Nawal El Saadawi yang karya-karyanya diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia.

Sementara itu Arab Saudi dalam beberapa dekade terakhir berkembang menjadi salah satu pusat sastra paling dinamis di kawasan Teluk.

Negara itu melahirkan tokoh-tokoh penting seperti Ghazi Al-Gosaibi, Abdo Khal, Turki Al-Hamad, Mohammed Hasan Alwan, Raja Alem, dan Hamza Shehata yang memperkaya khazanah sastra Arab modern dengan perspektif sosial, sejarah, dan budaya yang beragam.

Dampak bagi Penyebaran Sastra Arab di Dunia

Para pengamat menilai forum ini dapat menjadi titik awal terbentuknya jaringan sastra Arab yang lebih terintegrasi antara kawasan Afrika Utara dan Teluk Arab.

Kerja sama penerbitan bersama akan mempercepat distribusi novel, puisi, dan karya kritik sastra ke berbagai negara Arab yang selama ini masih terfragmentasi oleh batas-batas nasional.

Penerbitan laporan tahunan mengenai sastra Arab kontemporer berpotensi menjadi rujukan akademik penting bagi universitas, pusat studi Timur Tengah, dan lembaga penerjemahan internasional.

Kolaborasi antara Mesir dan Arab Saudi juga dapat memperluas penerjemahan karya sastra Arab ke bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Turki, Persia, Melayu, dan Indonesia sehingga jangkauan pembacanya semakin global.

Bagi negara-negara Muslim non-Arab seperti Indonesia, Malaysia, Pakistan, Turki, Iran, dan berbagai negara di Afrika, forum semacam ini membuka peluang lebih besar untuk mengakses perkembangan terbaru sastra Arab melalui program penerjemahan, pertukaran akademik, festival sastra, serta kerja sama penelitian.

Dalam jangka panjang, sinergi antara pusat intelektual Mesir dan kekuatan budaya Arab Saudi diperkirakan akan memperkuat posisi bahasa Arab sebagai salah satu bahasa kebudayaan dunia sekaligus memperluas pengaruh sastra Arab di tengah transformasi digital dan perkembangan kecerdasan buatan yang semakin pesat.

Haeruddin menilai Forum Sastra Mesir–Saudi penting bagi penguatan kajian sastra Arab. (Foto: Dok. Pribadi)
Haeruddin menilai Forum Sastra Mesir–Saudi penting bagi penguatan kajian sastra Arab. (Foto: Dok. Pribadi)


Ketua Prodi Sastra Arab FIB Unhas: Forum Aleksandria Berpotensi Menjadi Pusat Konsolidasi Sastra Arab Modern dan Memperluas Pengaruh Bahasa Arab ke Dunia Global

Menanggapi hasil Forum Sastra Mesir–Arab Saudi Pertama di Perpustakaan Aleksandria, Ketua Program Studi Sastra Arab Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Haeruddin, S.S., M.A., menilai forum tersebut bukan sekadar pertemuan sastra biasa, melainkan momentum strategis yang dapat menentukan arah perkembangan sastra Arab kontemporer pada masa mendatang.

"Yang kita saksikan di Aleksandria bukan hanya pertemuan dua negara, melainkan perjumpaan dua pusat besar peradaban sastra Arab modern. Mesir selama lebih dari satu abad menjadi episentrum pemikiran, kritik, dan penerbitan sastra Arab, sementara Arab Saudi kini tampil sebagai salah satu kekuatan budaya baru yang memiliki dukungan kelembagaan, sumber daya, dan visi pengembangan sastra yang sangat kuat. Ketika keduanya bersinergi, dampaknya akan dirasakan oleh seluruh dunia Arab," ujar Haeruddin.

Menurutnya, rekomendasi forum yang mendorong penerbitan bersama, pertukaran intelektual, pemanfaatan kecerdasan buatan, hingga penyusunan laporan tahunan sastra Arab kontemporer menunjukkan bahwa dunia Arab mulai membangun ekosistem sastra yang lebih terintegrasi, modern, dan berorientasi global.

"Selama ini perkembangan sastra Arab sering bergerak secara parsial di berbagai negara. Forum ini memberikan harapan lahirnya sebuah ruang kolaborasi yang mampu menghubungkan para sastrawan, akademisi, penerjemah, penerbit, dan lembaga kebudayaan dalam satu jaringan yang lebih luas dan berkelanjutan," katanya.

Haeruddin menegaskan bahwa manfaat forum tersebut tidak hanya dirasakan oleh negara-negara Arab, tetapi juga oleh dunia Islam secara keseluruhan, termasuk Indonesia yang memiliki tradisi panjang dalam pembelajaran bahasa Arab.

"Kami melihat forum ini sebagai jembatan penting bagi negara-negara non-Arab untuk mengakses perkembangan terbaru sastra Arab modern. Semakin banyak karya sastra Arab diterjemahkan dan dipublikasikan secara internasional, semakin besar pula peluang masyarakat Indonesia untuk mengenal pemikiran, budaya, dan dinamika sosial dunia Arab melalui karya-karya sastra yang berkualitas," jelasnya.

Ia juga menilai bahwa keterlibatan kecerdasan buatan dalam rekomendasi forum menunjukkan bahwa dunia sastra Arab tidak lagi hanya berbicara tentang pelestarian tradisi, tetapi juga tentang kesiapan menghadapi transformasi teknologi global.

"Ini merupakan pesan penting bahwa sastra Arab tidak ingin menjadi penonton dalam revolusi teknologi. Sebaliknya, sastra Arab ingin menjadi bagian aktif dalam membangun masa depan kebudayaan dunia tanpa kehilangan identitas, nilai kemanusiaan, dan kekayaan estetikanya," ujarnya.

Lebih jauh, Haeruddin berharap kerja sama antara Mesir dan Arab Saudi dapat menjadi model kolaborasi budaya yang kemudian melibatkan perguruan tinggi, pusat penelitian, dan lembaga sastra dari berbagai negara Muslim.

"Saya meyakini bahwa forum ini dapat menjadi titik awal lahirnya gerakan internasional baru dalam pengembangan sastra Arab. Jika konsistensi kerja sama ini terus dijaga, maka dalam beberapa tahun ke depan kita akan menyaksikan semakin banyak karya sastra Arab yang diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia, semakin kuat posisi bahasa Arab sebagai bahasa ilmu dan kebudayaan global, serta semakin luas pengaruh sastra Arab dalam membangun dialog antarperadaban di tingkat internasional," pungkas Haeruddin.(*)