MAKASSAR, UNHAS.TV — Di tengah semakin besarnya tantangan perubahan iklim terhadap sektor pangan global, Universitas Hasanuddin bersama University of Newcastle Australia dan Pemerintah Australia resmi memulai langkah besar untuk memperkuat ketahanan petani Indonesia melalui program pertanian cerdas iklim yang berorientasi pada masa depan.
Kabar menggembirakan tersebut datang setelah program bertajuk “Smart Agriculture Collaboration: Empowering Rural Farmers for Climate Resilience” secara resmi diluncurkan oleh Pemerintah Australia melalui Australia-Indonesia Institute (AII) yang berada di bawah naungan Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia atau Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) pada 2 Juni 2026.
Peluncuran resmi tersebut sekaligus menjadi penanda bahwa gagasan yang sebelumnya dirumuskan dan didiskusikan secara intensif oleh tim inti yang terdiri atas Dr. Shaleeza Sohail, Dr. Teuku Geumpana, Muhammad Junaid, Ph.D., dan Supratman, Ph.D., kini telah memperoleh legitimasi internasional dan memasuki tahap implementasi nyata di Indonesia.
Informasi mengenai peluncuran program tersebut juga diperjelas oleh Dr. Teuku A. Geumpana melalui unggahan terbarunya di LinkedIn sekitar 21 jam yang lalu yang mengabarkan bahwa proyek kolaboratif tersebut telah memperoleh dukungan resmi dari Pemerintah Australia untuk dijalankan selama satu tahun ke depan.
Program ini dipandang memiliki arti strategis karena sejalan dengan agenda besar Pemerintah Republik Indonesia dalam memperkuat ketahanan pangan nasional dan mewujudkan cita-cita swasembada pangan melalui modernisasi sektor pertanian yang berbasis teknologi, inovasi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Dalam berbagai kesempatan, Presiden Republik Indonesia dan Kementerian Pertanian terus menekankan bahwa peningkatan produktivitas pertanian nasional tidak lagi dapat hanya mengandalkan pola konvensional, melainkan harus ditopang oleh pemanfaatan teknologi digital, sistem informasi cuaca, efisiensi penggunaan air, dan penguatan kapasitas petani menghadapi perubahan iklim.
Melalui proyek ini, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) dipilih sebagai lokasi utama pelaksanaan kegiatan yang akan menjadi laboratorium sosial sekaligus model pengembangan pertanian cerdas iklim di Indonesia.
Sebanyak 300 peserta yang terdiri atas petani, penyuluh pertanian, aparatur pemerintah daerah, profesional digital farming, mahasiswa, dan generasi muda akan mendapatkan pelatihan, pendampingan, serta transfer pengetahuan mengenai teknologi pertanian modern yang lebih adaptif terhadap perubahan cuaca ekstrem.
Dr. Shaleeza Sohail dari University of Newcastle menjelaskan bahwa tim Australia saat ini tengah merampungkan berbagai modul pelatihan yang dirancang untuk membantu petani memahami teknik budidaya yang lebih efisien, berkelanjutan, dan tahan terhadap risiko iklim.
Ia juga memberikan apresiasi terhadap kesiapan Universitas Hasanuddin yang telah membangun koordinasi intensif dengan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Hasanuddin, Prof. drg. Muhammad Ruslin, M.Kes., Ph.D., Sp.BM(K), serta Pemerintah Kabupaten Sidrap di bawah kepemimpinan Bupati H. Syaharuddin Alrif guna memastikan keberhasilan implementasi program di lapangan.
Sementara itu, Dr. Teuku Geumpana menegaskan bahwa keberhasilan transformasi pertanian Indonesia membutuhkan kolaborasi lintas disiplin, lintas lembaga, dan lintas negara agar inovasi yang dihasilkan benar-benar dapat menjawab kebutuhan riil petani.
Menurutnya, keterlibatan media lokal, nasional, dan internasional juga menjadi faktor penting untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai urgensi pertanian cerdas iklim sebagai solusi masa depan sektor pangan Indonesia.
Muhammad Junaid, Ph.D., menyampaikan bahwa program ini tidak hanya dirancang untuk menghasilkan kegiatan pelatihan jangka pendek, tetapi juga untuk membangun model pengembangan pertanian yang dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia.
“Bila kegiatan ini berhasil, maka akan ditawarkan ke seluruh daerah di Indonesia,” kata Muhammad Junaid.
“Namun untuk sementara kami lebih fokus di Sulawesi Selatan karena baru-baru ini program ini juga telah kami diskusikan dengan salah seorang pejabat daerah di Kabupaten Pinrang dan beliau sangat antusias menyambut inisiatif tersebut,” lanjutnya.
Muhammad Junaid mengaku sangat bersyukur karena program ini berhasil memperoleh pendanaan hibah dari Australia-Indonesia Institute di bawah naungan DFAT yang memungkinkan terjadinya transfer pengalaman, teknologi, dan praktik terbaik antara Australia dan Indonesia dalam bidang pertanian.

Tim inti program “Smart Agriculture Collaboration: Empowering Rural Farmers for Climate Resilience” yang terdiri atas Dr. Shaleeza Sohail (University of Newcastle), Dr. Teuku Geumpana, Muhammad Junaid, Ph.D., dan Supratman, Ph.D., menggelar rapat koordinasi daring (7/5/2026) untuk mematangkan implementasi proyek pertanian cerdas iklim yang didukung Australia-Indonesia Institute (AII) di bawah naungan Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia, guna memperkuat ketahanan petani Sulawesi Selatan dan mendukung agenda swasembada pangan Indonesia melalui inovasi smart farming. (Foto: Dok.Pribadi),
Menurutnya, manfaat program ini tidak hanya akan dirasakan oleh petani melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha tani, tetapi juga akan memperkuat kapasitas sumber daya manusia pertanian Indonesia dalam menghadapi tantangan abad ke-21.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai laporan internasional menunjukkan bahwa perubahan iklim telah menyebabkan meningkatnya frekuensi kekeringan, banjir, pergeseran musim tanam, serta serangan hama yang mengancam produksi pangan dunia sehingga konsep climate-smart agriculture semakin menjadi perhatian utama organisasi-organisasi global seperti FAO dan berbagai lembaga pembangunan internasional.
Konsep pertanian cerdas iklim sendiri menekankan tiga tujuan utama secara bersamaan yaitu meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat kemampuan adaptasi petani terhadap perubahan iklim, dan mengurangi dampak emisi gas rumah kaca dari aktivitas pertanian.
Bagi Indonesia yang memiliki lebih dari 29 juta rumah tangga usaha pertanian, penguatan kapasitas petani dalam memahami teknologi digital, informasi iklim, pengelolaan air, dan pertanian presisi dipandang sebagai salah satu kunci utama menjaga ketahanan pangan nasional di masa depan.
Selain memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, program ini juga akan memperkuat reputasi Universitas Hasanuddin sebagai pusat inovasi dan kolaborasi internasional yang aktif berkontribusi dalam menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan.
Rangkaian kegiatan proyek akan meliputi seminar internasional, lokakarya teknis, pendampingan lapangan, serta demonstrasi teknologi pertanian yang dijadwalkan berlangsung pada 2 hingga 14 Agustus 2026.
Untuk seminar internasional yang akan digelar pada 3 Agustus 2026 di Universitas Hasanuddin, Muhammad Junaid menyampaikan bahwa pihak penyelenggara tengah mengupayakan agar Menteri Pertanian Republik Indonesia, Dr.Ir.H.Andi Amran Sulaiman,M.P., dapat hadir sebagai keynote speaker.
Apabila seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, maka Sidrap berpeluang menjadi salah satu model nasional pengembangan petani cerdas iklim yang tidak hanya memperkuat produksi pangan, tetapi juga menunjukkan bagaimana kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah daerah, masyarakat, dan mitra internasional dapat bersama-sama membangun masa depan pertanian Indonesia yang lebih tangguh, modern, dan berkelanjutan.(*)
Gandeng University of Newcastle, Unhas Siapkan Petani Cerdas Iklim di Sidrap demi Swasembada Pangan. (Ilustrasi ChatGPT)








