MAKASSAR, UNHAS.TV - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino tahun 2026 akan berada pada kategori lemah hingga moderat.
Kepala BMKG Wilayah IV Makassar, Nasrol Adil SSi MT, menyebutkan bahwa indikasi awal penguatan El Nino telah terdeteksi sejak April 2026 melalui kenaikan suhu muka laut di Samudera Pasifik.
“Indikator paling kuat itu adalah kenaikan suhu muka laut, khususnya di wilayah Pasifik Timur. Namun saat ini masih berada pada level netral,” ujarnya dalam program Unhas Speak Up di Studio Unhas TV, Jumat (1/5/2026).
Nasrol menjelaskan bahwa BMKG mengklasifikasikan El Nino ke dalam beberapa kategori, mulai dari netral, lemah, moderat, hingga kuat (strong) dan sangat kuat (very strong).
Ia menegaskan bahwa istilah “El Nino Godzilla” yang beredar di masyarakat bukan merupakan terminologi ilmiah yang digunakan BMKG.
“Kita tidak mengenal istilah El Nino Godzilla. Dalam sejarah, El Nino kuat pernah terjadi pada 1964, sementara kategori very strong terjadi pada 1997–1998 dengan anomali mencapai 2,4 derajat Celcius,” jelasnya.
Menurutnya, fenomena tersebut memiliki dampak luas, tidak hanya terhadap cuaca, tetapi juga terhadap sektor sosial dan ekonomi. Ia mencontohkan peristiwa El Nino ekstrem pada masa lalu yang berdampak pada gagal panen hingga krisis ekonomi.
Lebih lanjut, Nasrol mengungkapkan bahwa pada 2026 ini, El Nino diprediksi mencapai puncaknya pada periode Agustus hingga September. Kondisi ini berpotensi memperpanjang musim kemarau di Indonesia, khususnya di wilayah Sulawesi Selatan.
“Biasanya puncak kemarau terjadi Juni, Juli, Agustus. Namun dengan adanya El Nino, periode kering bisa dimulai lebih awal dari April dan berlanjut hingga September atau Oktober,” katanya.
Dari sisi wilayah, ia menyebutkan bahwa sebagian besar daerah di Sulawesi Selatan akan terdampak relatif merata, dengan wilayah barat seperti Makassar, Maros, dan Takalar mengalami puncak lebih awal dibanding wilayah timur seperti Bone dan Wajo.
Selain faktor El Nino, Nasrol menambahkan bahwa kondisi kekeringan juga dipengaruhi oleh pola musim (monsun) dan pergerakan matahari. Kombinasi faktor tersebut menyebabkan berkurangnya pasokan uap air dari Australia yang cenderung kering.
“Jadi bukan hanya El Nino, tetapi juga pengaruh monsun dan posisi matahari yang menentukan tingkat kekeringan di wilayah kita,” ujarnya.
BMKG juga mengidentifikasi tiga sektor utama yang paling rentan terdampak, yakni ketersediaan air bersih, pertanian, dan energi. Penurunan debit air, misalnya, dapat berdampak pada pembangkit listrik tenaga air (PLTA) serta produksi pangan.
“Ketersediaan air, pangan, dan energi ini sangat berkorelasi. Kalau air berkurang, pertanian terganggu, dan energi juga bisa terdampak,” jelasnya.
Dorong Pemerintah Lakukan Mitigasi
Sebagai langkah antisipasi, BMKG telah mengeluarkan peringatan dini sejak April 2026 dan mendorong pemerintah daerah untuk segera melakukan mitigasi.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah koordinasi lintas sektor, termasuk dengan dinas pertanian, perikanan, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
“Ketika indeks El Nino mulai naik ke 0,3 atau masuk kategori lemah, itu sudah menjadi sinyal untuk melakukan antisipasi secara intensif,” tegas Nasrol.
Selain itu, BMKG juga mendorong pelaksanaan operasi modifikasi cuaca pada periode awal musim kemarau, saat kelembaban udara masih cukup tinggi.
Langkah ini bertujuan untuk mengisi cadangan air di bendungan dan embung sebelum kondisi menjadi lebih kering.
Ia juga mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam mitigasi, seperti penghematan air, penyesuaian pola tanam, hingga upaya penghijauan.
“Penanaman pohon itu penting karena bisa membantu mengurangi dampak bencana hidrometeorologi, termasuk kekeringan dan angin kencang,” pungkasnya.
Dengan berbagai indikator yang telah terpantau, BMKG menekankan bahwa kesiapsiagaan menjadi kunci utama dalam menghadapi potensi dampak El Nino 2026, agar risiko terhadap masyarakat dapat diminimalkan sejak dini.
(Achmad Ghiffary M / Unhas TV)
Kepala BMKG Wilayah IV Makassar, Nasrol Adil SSi MT saat hadir dalam program Unhas Speak Up membahas fenomena El Nino 2026 di Studio Unhas TV, Jumat (1/5/2026) lalu. (Unhas TV/Salman)



-300x188.webp)




