Pada 5 September 2026, sebuah peristiwa penting akan berlangsung di Baruga A.P. Pettarani Universitas Hasanuddin. Kay Rala Xanana Gusmão akan berdiri di hadapan sivitas akademika Unhas.
Dia berdiri bukan sebagai Perdana Menteri Timor-Leste atau tokoh penting Asia Tenggara, melainkan sebagai seseorang yang diterima ke dalam keluarga akademik Universitas Hasanuddin.
Hari itu, Unhas akan menganugerahkan kepadanya gelar Doktor Kehormatan. Xanana dijadwalkan menyampaikan orasi ilmiah sebelum Rektor Unhas menyerahkan ijazah dengan didampingi Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Ada sesuatu yang menarik dari pilihan Unhas kepada Xanana. Jika gelar akademik biasanya diperoleh melalui ruang kuliah, penelitian, dan disertasi, gelar kehormatan diberikan karena universitas menemukan pengetahuan dalam perjalanan hidup seseorang.
Dalam diri Xanana, ruang kuliah itu adalah sejarah. Ia mengalami kolonialisme, perlawanan, penjara, diplomasi, kemerdekaan, lalu pemerintahan. Perjalanannya memperlihatkan bahwa politik bukan hanya perkara merebut kekuasaan, tetapi juga bagaimana sebuah bangsa yang terluka belajar berdiri dan membangun masa depan.

Karena itu, penganugerahan ini bukan semata seremoni akademik. Gelar honoris causa berbicara tentang orang yang menerimanya sekaligus universitas yang memberikannya.
Ketika universitas memilih seseorang untuk menerima kehormatan akademik tertinggi, universitas sedang mengatakan bahwa ada sesuatu dari perjalanan, pemikiran, dan pengabdiannya yang layak diwariskan.
Xanana akan masuk ke dalam jejak panjang itu.
Pada 1963, ketika Unhas masih sangat muda, Presiden Soekarno menerima gelar Doktor Honoris Causa atas kiprahnya dalam hubungan internasional, termasuk perjuangan pengembalian Irian Barat.
Setahun kemudian, Chaerul Saleh menerima kehormatan dalam bidang sosiologi. Mohammad Hatta kemudian menyusul dalam bidang ekonomi dan koperasi.
Nama-nama itu menunjukkan bahwa sejak awal Unhas tidak memandang universitas sebagai menara yang terpisah dari pergulatan bangsanya. Pengetahuan tidak hanya ditemukan di kampus. Ia juga lahir dari tindakan, keputusan, perjuangan, dan pergulatan manusia dengan zamannya.
Pada 2005, hadir nama besar dari belahan lain dunia: Nelson Mandela. Hidup Mandela telah menjadi laboratorium kemanusiaan. Ia berjuang melawan apartheid, menjalani puluhan tahun dalam penjara, lalu keluar bukan membawa pembalasan, melainkan rekonsiliasi bagi Afrika Selatan.
Setahun kemudian, B.J. Habibie menerima kehormatan serupa. Jika Mandela membawa pesan perdamaian, Habibie membawa keyakinan pada ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemampuan manusia Indonesia untuk berdiri sejajar dengan bangsa lain.
Pada 2007, Unhas memberikan gelar kehormatan kepada Najib Tun Abdul Razak, ketika itu Wakil Perdana Menteri Malaysia dan kelak menjadi Perdana Menteri Malaysia ke-6. Najib mempunyai ikatan historis dengan Sulawesi Selatan.
Dari garis keluarganya mengalir darah Bugis, bagian dari sejarah panjang migrasi orang Bugis ke Semenanjung Melayu. Karena itu, kunjungannya ke Makassar juga memiliki dimensi kultural: seorang pemimpin Malaysia datang ke tanah tempat sebagian akar leluhurnya berasal.
Kisah Najib mengingatkan betapa sejak berabad-abad silam Sulawesi Selatan telah terhubung dengan dunia Melayu.
Jejak itu berlanjut kepada Harifin A. Tumpa dalam hukum, peradilan, dan hak asasi manusia; Muhammad Jusuf Kalla dalam ekonomi, politik, dan perdamaian; serta ilmuwan dunia Bruce Alberts dalam sains, pendidikan, dan diplomasi ilmu pengetahuan.
Jika nama-nama tersebut diletakkan dalam satu garis panjang, tampak sebuah pola. Unhas tidak hanya memberikan penghargaan kepada orang-orang yang menghasilkan pengetahuan, tetapi juga kepada orang-orang yang perjalanan hidupnya menghasilkan pengetahuan.
Di Sini, Xanana menemukan tempatnya.
Ada gema Mandela dalam perjalanan Xanana, meskipun keduanya lahir dari sejarah yang berbeda. Keduanya mengalami perjuangan dan penjara. Keduanya kemudian bergerak dari ruang perlawanan menuju pusat kekuasaan.
Pada akhirnya, keduanya berhadapan dengan pertanyaan yang lebih rumit daripada memenangkan perjuangan: bagaimana membangun sebuah bangsa setelah konflik berakhir?
Perjuangan mungkin memiliki musuh yang jelas. Membangun perdamaian jauh lebih rumit. Seseorang harus berhadapan dengan ingatan, trauma, kepentingan politik, kemiskinan, harapan masyarakat, bahkan bekas lawan. Kemenangan dapat diumumkan dalam sehari, tetapi rekonsiliasi membutuhkan waktu bergenerasi.
Xanana mengetahui dunia semacam itu dari dekat.
Kehadirannya juga memiliki resonansi tersendiri bagi Unhas. Kampus ini berdiri di kawasan yang sejak berabad-abad menghadap dunia maritim Asia Tenggara. Dari Makassar, manusia, perahu, perdagangan, dan gagasan bergerak menuju Semenanjung Melayu, Maluku, Nusa Tenggara hingga Timor.
Kisah Najib menunjukkan bagaimana orang Bugis menyeberangi laut dan menjadi bagian dari sejarah Malaysia. Kini Xanana datang dari Timor membawa pengalaman perjalanan sebuah bangsa.
Universitas adalah tempat yang tepat untuk mempertemukan pengalaman itu dengan generasi berikutnya.
Mahasiswa yang menyaksikan Xanana mengenakan toga kehormatan mungkin mengenalnya dari buku sejarah. Sebagian bahkan belum lahir ketika perjuangan kemerdekaan Timor-Leste berlangsung. Namun sejarah mempunyai cara untuk menjadi hidup ketika orang yang menjalaninya hadir di depan mata.
Di situlah gelar kehormatan menemukan maknanya. Ia bukan sekadar tambahan gelar pada nama seseorang. Ia adalah cara universitas mengatakan bahwa pengetahuan tidak seluruhnya berada di rak perpustakaan.
Sebagiannya berada dalam pengalaman manusia: keberanian mengambil keputusan, konflik, kegagalan, kemampuan berdamai, dan kesediaan menatap masa depan setelah melewati masa lalu yang keras.

Xanana Gusmao saat ditahan di LP Cipinang
Maka pada 5 September nanti, ketika Promotor Prof. Hafid Abbas membacakan pertimbangan akademik dan Xanana berdiri menyampaikan orasi ilmiahnya, yang berlangsung di Baruga A.P. Pettarani bukan hanya upacara pemberian gelar.
Ada sebuah perjumpaan antargenerasi: generasi yang mengalami kerasnya sejarah bertemu dengan generasi yang kelak menulis sejarah baru.
Barangkali itulah makna terdalam gelar kehormatan. Bukan untuk menambah kebesaran orang yang menerimanya. Xanana, sebagaimana Soekarno, Hatta, Mandela, Habibie, dan tokoh-tokoh sebelumnya, telah memiliki tempatnya sendiri dalam sejarah.
Justru sebaliknya. Universitas sedang mengundang sejarah masuk ke dalam kampus, agar pengalaman panjang seorang manusia tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi berubah menjadi pengetahuan.
Pada 5 September 2026, satu nama lagi akan masuk dalam jejak panjang itu: Kay Rala Xanana Gusmão.
undefined
-300x200.webp)







