News
Opini

Generasi Emas Kampus Tamalanrea

oleh: Rusman Madjulekka*

ADA yang baru di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar beberapa tahun terakhir. Pengamatan dari jauh seorang alumni. Yakni atmosfer akademik yang terasa memayungi langit kampus di Tamalanrea itu. Terutama di bidang inovasi, kreativitas dan riset mahasiswanya.  

Ukurannya pun tidak main-main. Melalui kompetisi ilmiah yang ketat, berjenjang dan berskala nasional. Namanya: Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas). Yang diselenggarakan Kementerian Ristekdikti secara reguler tiap tahun.   

Paling istimewa 2024, sejumlah mahasiswa Unhas mencetak sejarah sebagai juara umum Pimnas ke-37 yang diselenggarakan di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya. Unhas meraih 19 medali (9 emas, 6 perak, 4 perunggu) serta piala bergilir Adikarta Kertawidya. Yang pertama kali diraih kampus luar Jawa dalam kurun waktu 37 tahun.

Setahun kemudian, di Pimnas ke-38 mahasiswa Unhas kembali juara umum. Meraih total 27 medali yang terdiri dari 6 emas, 7 perak, dan 2 perunggu di kategori poster, serta 9 emas, 2 perak, dan 1 perunggu di kategori presentasi. 

Kejadian langka, pikir saya. Kok ada perguruan tinggi, di luar Jawa, yang bisa juara. Apalagi secara berturut-turut tanpa jeda alias mencetak brace. Biasanya selama ini juaranya selalu didominasi perguruan tinggi dari Jawa. “Sungguh istimewa,” bisik saya dalam hati. 

Saya menyebut mereka sebagai “generasi emas” Unhas yang telah mengembalikan marwah akademik yang redup. Dengan proses dan waktu panjang. Dan tak kalah penting membalikkan potret negatif mahasiswa Unhas yang cukup lama membuat pusing Jusuf Kalla, ketua alumninya masa itu. Saya mengistilahkan, perjalanan itu dari kultur  kampus ke atmosfer akademik. 

Tentu saya punya kenangan di kampus Tamalanrea. Tahun era tahun 1980-an hingga awal 1990-an. Yang dominan: tawuran mahasiswa, egosektoral, fanatisme fakultas, dan perilaku lainnya yang tak mencerminkan seorang intelektual.    

Faktor eksternal, di sekitar kampus tumbuh bak jamur rumah kost atau pondokan mahasiswa. Nampak kumuh dengan tradisi kampung yang kental. Tradisi itulah yang kemudian menjalar masuk kehidupan kampus.  

Lalu muncul ide pimpinan Universitas membangun hunian mahasiswa yang lebih modern dengan konsep flat ala kampus-kampus maju di luar negeri. Namanya saat itu asrama mahasiswa disingkat Ramsis. 

“Kita tidak sekedar membangun fisik tapi juga membangun tradisi dan peradaban baru,” kata  Dr.Anwar Arifin, yang dipercaya pengelola Ramsis kala itu. Yang dimaksud, “Dari sini kultur kampus dimulai,” tambahnya.    

Sebenarnya, ada orang penting dibalik layar yang “bertangan dingin” menghidupkan inovasi dan atmosfer akademik mahasiswa Unhas. Namanya: Prof Ruslin. Ia Wakil Rektor bidang akademik dan kemahasiswaan. Pria bugis yang murah senyum, dokter gigi, kelahiran 2 Juli 1973.

Apa kuncinya?

“Sinergi, komitmen dan membenahi manajemen program kreativitas mahasiswa,” ujarnya.

Ruslin sendiri sudah punya pengalaman managerial inovatif sebagai Direktur Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Pendidikan Unhas. Dimana rumah sakit itu menjadi salah satu RSGM Pendidikan terbaik di Indonesia.

Pengalaman lainnya, saat Ruslin mengelola atmosfer akademik di level fakultas. Saat ia jadi dekan FKG. Cukup banyak capaian yang dihasilkan. Bahkan ia termasuk salah satu dekan dengan prestasi terbaik di Unhas masa itu. 

Rupanya Ruslin ingin menjadikan apa yang ia lakukan di fakultas itu ke skala universitas. Ditambah sentuhan inovasi dan plus lainnya.

Ruslin sudah lama memendam pemikiran itu. Jangan-jangan sudah sejak lama pula dimatangkan dalam pembicaraan pribadi dengan koleganya Prof Jamaluddin Jompa, yang kelak menjadi Rektor Unhas. Sejak sama-sama berjuang memikirkan kampus riset dan atmosfer akademik di Unhas.  

Rupanya konsep besar itu pula yang pernah diajukannya ke Rektor terpilih yang koleganya itu. Yakni setelah Ruslin ditunjuk sebagai Wakil Rektor Unhas sejak 2022 sampai sekarang. 

Konsep itu sudah disetujui. Ruslin langsung berlari cepat. Bekerja sat set. Dengan dibantu anggota timnya - yang mau gak mau- ikut irama lari bosnya. Otaknya sudah penuh dengan rencana. Ia bukan type pejabat yang baru mengadakan rapat perencanaan setelah dilantik. Ia sudah punya konsep matang sejak belum dilantik. 

Ini pekerjaan besar. Pun pertaruhannya berat: reputasi. Kalau sukses, memang akan jadi petir yang mengejutkan. Dan Ruslin sudah membuktikan. 


*Penulis adalah alumni Unhas. Tinggal di Jakarta.