JAKARTA, UNHAS.TV - Anggota Komisi XIII DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Dr Hj Meity Rahmatia, menilai sistem pembelajaran di sekolah perlu dievaluasi secara menyeluruh untuk mencegah berulangnya kasus kekerasan di lingkungan pendidikan.
Menurut Meity, sekolah sejatinya merupakan ruang sosial yang harus menghadirkan suasana aman, nyaman, dan damai bagi seluruh unsur di dalamnya.
Meity menyampaikan pandangan tersebut saat menanggapi kasus kekerasan yang melibatkan guru dan murid di Tanjung Jabung Timur, Jambi, yang videonya beredar luas di media sosial pekan lalu.
Dalam rekaman di sebuah SMK tersebut, terlihat seorang guru dikeroyok oleh sejumlah siswanya di lingkungan sekolah.
“Sekolah adalah ruang sosial dunia pendidikan. Guru, peserta didik, dan pegawai merupakan satu kesatuan yang idealnya memiliki relasi yang dekat dan akrab," ujarnya," kata Meity kepada awak media di Senayan, Senin (19/1/2026).
"Karena itu, sistem pembelajaran yang dibangun harus mampu menciptakan atmosfer sosial pendidikan yang nyaman dan aman,” lanjutnya.
Menurut Meity, meski dunia pendidikan tidak lepas dari berbagai persoalan struktural, sistem pembelajaran tetap menjadi kunci utama dalam membentuk iklim sosial sekolah.
Sistem tersebut, kata dia, seharusnya tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik di dalam kelas, tetapi juga mencakup seluruh bentuk interaksi sosial di lingkungan sekolah.
“Transformasi keilmuan ini tidak hanya dalam bentuk angka-angka ketika di dalam kelas, tetapi juga dalam bentuk pemikiran dan perilaku sosial di luar kelas,” ujarnya.
Ia menilai proses pembelajaran yang menyeluruh memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter dan kepribadian, baik bagi guru maupun peserta didik.
Potret Kegagalan Sistem Pembelajaran
Dalam konteks kasus di Jambi, Meity menyayangkan terjadinya pengeroyokan siswa terhadap guru dan memandang peristiwa tersebut sebagai potret kegagalan sistem pembelajaran dalam membentuk karakter peserta didik.
“Apapun alasannya, tindakan kekerasan tidak dibenarkan dalam lingkungan sekolah. Murid bertindak seperti hakim jalanan dan kehilangan nalar sebagai peserta didik. Ini menunjukkan sistem pengendalian sosial melalui aturan, norma, dan etika tidak bekerja dengan baik,” kata Meity.
Ia menambahkan, kegagalan tersebut mencerminkan tidak berjalannya fungsi pendidikan sebagai sistem yang mengedepankan harmoni dan keteraturan.
Meity juga menegaskan bahwa jika sistem pembelajaran berfungsi dengan baik, relasi sosial yang sehat antara pendidik dan peserta didik akan terbentuk secara alami.
“Tujuan pendidikan nasional sudah ditegaskan dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan diatur lebih rinci dalam undang-undang tentang sistem pendidikan nasional.
"Pendidikan tidak hanya menekankan aspek keilmuan, tetapi juga pembentukan karakter yang berketuhanan dan berakhlak mulia,” ujarnya.
Anggota DPR RI dari daerah pemilihan Sulawesi Selatan I itu berharap evaluasi sistem pembelajaran dilakukan secara serius, berkesinambungan, dan berkelanjutan.
Menurut dia, langkah tersebut semakin mendesak di tengah tantangan dunia pendidikan yang kian kompleks di era digital.
“Tantangannya semakin besar. Pembentukan karakter di sekolah sering kali tidak mampu mengimbangi pengaruh sosial dari platform media daring. Dalam banyak kasus kekerasan, pelaku terinspirasi dari konten yang mereka konsumsi secara intensif,” kata Meity.
Kasus kekerasan di Jambi sendiri kini ditangani oleh pihak kepolisian. Guru yang terlibat diketahui bernama Agus Saputra, pengajar di SMKN 3 Berbak.
Dalam video yang beredar, terlihat aksi dorong dan saling pukul antara Agus dan beberapa siswa, dengan masing-masing pihak saling melempar dalih.
Meity berharap kejadian serupa tidak terjadi di Sulawesi Selatan maupun daerah lain. “Sekolah harus kembali menjadi ruang aman bagi semua,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya penyelesaian konflik di lingkungan sekolah melalui mekanisme yang berlaku, dengan mengedepankan pendekatan kekeluargaan, adab, dan etika. (*)
Anggota DPR RI Meity Rahmatia saat kunjungan ke sekolah. Atas kejadian siswa keroyok guru SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Meity dorong evaluasi sistem pembelajaran. (dok pribadi)








