
PENALTI BALASAN - Striker Atletico Madrid Julian Alvarez berhasil mengeksekusi tendangan penalti balasan untuk mengubah skor 1-1 atas Arsenal di semifinal Liga Champions, Kamis (30/4/2026) dini hari. (The Sun/Getty)
Tekanan Atletico akhirnya membuahkan hasil. Dari situasi sepak pojok, tembakan Marcos Llorente mengenai tangan Ben White. VAR meminta Makkelie meninjau tayangan ulang di monitor pinggir lapangan. Setelah melihat insiden tersebut, wasit memberi penalti untuk Atletico.
Alvarez maju sebagai eksekutor. Sepakannya keras dan terarah, membuat Raya tidak sempat bereaksi. Bola meluncur deras ke gawang Arsenal dan mengubah skor menjadi 1-1. Gol itu membuat atmosfer Metropolitano semakin bising.
Atletico hampir berbalik unggul ketika Antoine Griezmann melepaskan tembakan yang membentur tiang.Pemain asal Prancis itu terjatuh setelah melihat peluang emasnya gagal menjadi gol. Momen tersebut menjadi salah satu kesempatan terbaik tuan rumah untuk mengamankan kemenangan.
Arsenal kemudian mencoba keluar dari tekanan. Eberechi Eze sempat terjatuh di kotak penalti setelah berduel dengan Hancko.
Wasit awalnya memberi isyarat adanya pelanggaran, tetapi keputusan itu kemudian dibatalkan setelah peninjauan ulang. Arsenal merasa berhak mendapat penalti kedua, namun laga tetap berlanjut dengan skor imbang.
Hasil ini membuat Arsenal berada dalam posisi cukup baik menjelang leg kedua. Mereka akan bermain di Emirates, tempat Atletico pernah kalah telak 0-4 pada fase grup. Catatan itu memberi keuntungan psikologis bagi tim London utara.
Meski begitu, laga di Madrid menguras energi Arsenal. Mereka harus bertahan dalam tekanan panjang, memblok tembakan, dan menjaga konsentrasi hingga peluit akhir. Arteta masih harus menyiapkan timnya menghadapi Fulham di Liga Primer Inggris pada akhir pekan.
Dengan musim yang hanya menyisakan beberapa laga, Arsenal masih berpeluang mengejar dua gelar yakni Liga Primer dan Liga Champions.
Hasil imbang di Madrid belum memastikan apa pun, tetapi cukup untuk menjaga mimpi mereka kembali ke final Eropa, dua dekade setelah kekalahan di partai puncak. (*)








