MAKASSAR, UNHAS.TV - Sebanyak 26 mahasiswa tunanetra mengikuti Orientasi Dunia Kerja dan Karier yang diselenggarakan Yayasan Mitra Netra bersama Universitas Hasanuddin (Unhas) dan Universitas Negeri Makassar (UNM).
Kegiatan bertema “Lebih Siap, Lebih Baik” itu berlangsung di Unhas Hotel and Convention, Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar, pada 29-30 Agustus 2026.
Program tersebut dirancang untuk mempersiapkan mahasiswa tunanetra memasuki sektor pekerjaan formal. Para peserta dibekali pemahaman mengenai tantangan, peluang, dan langkah strategis yang perlu ditempuh untuk membangun karier setelah menyelesaikan pendidikan tinggi.
Kegiatan di Makassar merupakan bagian dari rangkaian orientasi serupa yang telah digelar sejak tahun lalu.
Sebelumnya, Yayasan Mitra Netra mengadakan program tersebut di Jakarta, Tangerang Selatan, Bandung, dan Yogyakarta. Makassar menjadi kota kelima yang disambangi dalam rangkaian kegiatan itu.
Kepala Bagian Hubungan Masyarakat dan Divisi Ketenagakerjaan Yayasan Mitra Netra, Aria Indrawati, mengatakan pemilihan kota dilakukan dengan mempertimbangkan jumlah mahasiswa tunanetra yang sedang menempuh atau telah menyelesaikan pendidikan tinggi.
Menurut Aria, program ketenagakerjaan Mitra Netra berfokus pada penyandang tunanetra lulusan perguruan tinggi. Kelompok ini dinilai memiliki potensi memasuki sektor formal, tetapi masih menghadapi kesenjangan antara kompetensi pencari kerja dan kebutuhan perusahaan.
“Melalui sesi hari pertama sudah terbaca bahwa masih ada kesenjangan yang cukup lebar antara kemampuan calon pencari kerja tunanetra dan permintaan dunia kerja,” kata Aria, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Pada sesi awal, peserta memperoleh gambaran mengenai kondisi ketenagakerjaan penyandang disabilitas netra di Indonesia, khususnya di Makassar. Informasi tersebut diberikan agar peserta memahami situasi yang akan mereka hadapi sekaligus menentukan kemampuan yang perlu ditingkatkan.
Intervensi bagi Pencari Kerja dan Pemberi Kerja
Aria mengatakan Mitra Netra menjalankan intervensi dari dua sisi. Selain meningkatkan kapasitas calon pekerja tunanetra, yayasan berupaya membuka komunikasi dengan pemerintah dan pihak-pihak yang berpotensi menyediakan lapangan pekerjaan.
Sebelum kegiatan berlangsung, Mitra Netra telah menemui Dinas Ketenagakerjaan Kota Makassar. Pertemuan itu digunakan untuk memperkenalkan potensi tenaga kerja tunanetra serta menjajaki kerja sama dalam memperluas kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas.
Di sisi lain, intervensi diarahkan kepada mahasiswa tunanetra dan penyandang tunanetra yang baru lulus dari perguruan tinggi. Mereka didorong mengenali kesenjangan kompetensi, meningkatkan kapasitas, serta mempersiapkan diri sebelum lowongan pekerjaan terbuka.
Aria menyebut kesempatan kerja formal bagi penyandang tunanetra di Makassar masih sangat terbatas. Kondisi tersebut, kata dia, tidak boleh membuat calon pekerja berhenti mempersiapkan diri. Mereka justru harus meningkatkan keterampilan agar mampu bersaing ketika peluang tersedia.
“Kalau mereka ingin memecahkan telur, mereka harus melakukan sesuatu dengan terus meningkatkan kapasitas, baik keterampilan teknis maupun keterampilan nonteknis yang dibutuhkan,” ujarnya.
Menurut Aria, kompetensi menjadi kunci agar penyandang tunanetra dapat diterima bukan semata-mata karena kebijakan afirmatif, melainkan karena memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Karena itu, orientasi tidak berhenti pada pemberian motivasi.
Peserta diminta menyusun rencana aksi pribadi berdasarkan hasil evaluasi terhadap kemampuan masing-masing. Rencana tersebut memuat langkah konkret untuk memperkecil kesenjangan antara kapasitas calon pekerja dan kualifikasi yang diminta perusahaan.
Mitra Netra juga menawarkan sejumlah agenda lanjutan. Di antaranya pelatihan keterampilan nonteknis sebelum bekerja, pelatihan komputer tingkat dasar bagi peserta yang belum menguasainya, serta pelatihan komputer tingkat lanjutan. Sejumlah program itu direncanakan berlangsung pada 2027.
Selama dua hari, peserta turut menerima materi praktis mengenai penyusunan daftar riwayat hidup atau CV, teknik menghadapi wawancara kerja, dan komunikasi nonverbal.
Materi tersebut disusun untuk membantu peserta menampilkan kompetensi dan berkomunikasi secara profesional dalam proses rekrutmen.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem ketenagakerjaan yang lebih inklusif di Makassar. Kolaborasi antara yayasan, perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia usaha dinilai diperlukan untuk memperluas akses penyandang disabilitas terhadap pekerjaan yang layak.
Aria berharap orientasi tersebut meningkatkan kepercayaan diri peserta sekaligus memperkuat kesiapan mereka memasuki dunia profesional.
Ia juga mendorong perusahaan membuka kesempatan kerja yang setara dengan menilai calon pekerja tunanetra berdasarkan kompetensi, bukan keterbatasan penglihatan.
(Zahra Tsabita Sucheng / Unhas TV)
ORIENTASI KARIER - Sebanyak 26 mahasiswa tunanetra mengikuti orientasi karier di Unhas Hotel and Convention, Makassar, Sabtu (29/8/2026). Kegiatan Mitra Netra, Unhas, dan UNM ini membekali peserta menghadapi pekerjaan formal inklusif. (Unhas TV / Zahra Tsabita Sucheng)





-300x176.webp)


