Ekonomi
Makassar

Harga Cabai Makin 'Pedas', Pedagang Pasar Terong Makassar Keluhkan Pembeli Sepi

HARGA CABAI - Pedagang tengah menata cabai dagangannya di Pasar Tradisional Terong, Makassar, Jumat (4/9/2026). Harga cabai melonjak hingga dua kali lipat akibat kemarau panjang dan menurunnya pasokan lokal. (Unhas TV/Wandi Nojeng)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Harga cabai di sejumlah pasar tradisional Kota Makassar, Sulawesi Selatan, semakin “pedas” dalam beberapa pekan terakhir.

Kenaikan harga yang mencapai dua kali lipat membuat sebagian masyarakat mengurangi pembelian, sementara aktivitas jual beli di pasar mulai mengalami penurunan.

Pantauan di Pasar Tradisional Terong, Kecamatan Wajo, Makassar, Jumat (4/9/2026), menunjukkan suasana pasar yang relatif lebih lengang dibandingkan hari-hari sebelumnya. Sejumlah pedagang mengaku penurunan daya beli mulai terasa sejak harga cabai terus bergerak naik.

Komoditas yang paling terasa kenaikannya adalah lombok kecil atau cabai rawit. Dua pekan sebelumnya, harga cabai rawit masih berada di kisaran Rp25 ribu per kilogram. Kini, harganya melonjak hingga Rp58 ribu per kilogram.

Kenaikan juga terjadi pada jenis cabai lainnya. Lombok keriting yang sebelumnya dijual sekitar Rp30 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp40 ribu per kilogram. Sementara lombok besar mengalami kenaikan dari Rp42 ribu menjadi Rp60 ribu per kilogram.

Pedagang menyebut lonjakan harga tersebut dipicu oleh berkurangnya pasokan akibat musim kemarau panjang yang berdampak terhadap produksi petani cabai. Kondisi cuaca membuat hasil panen menurun sehingga stok di pasar ikut terbatas.

Selain faktor produksi, tingginya distribusi cabai dari wilayah Sulawesi Selatan ke sejumlah daerah di Pulau Jawa, khususnya Jakarta, juga disebut menjadi salah satu penyebab berkurangnya pasokan lokal.

Pedagang cabai di Pasar Terong, Bahrun, mengatakan kenaikan harga terjadi secara cepat dalam satu pekan terakhir. Kondisi tersebut membuat jumlah pembeli mengalami penurunan meski kebutuhan cabai masih tetap ada.



Pedagang cabai di Pasar Terong, Bahrun. (Unhas TV/Wandi Nojeng)


“Agak naik ini harga lombok. Lombok kecil Rp58 ribu per kilo dari sebelumnya sekitar Rp45 ribu. Lombok keriting dari Rp34 ribu naik menjadi Rp38 ribu. Kenaikan sudah terjadi satu minggu terakhir,” ujar Bahrun.

Menurut dia, distribusi cabai yang terbatas akibat musim kemarau menjadi salah satu penyebab utama. Selain itu, banyak pasokan yang dikirim ke Pulau Jawa, terutama Jakarta.

“Meski mengalami kenaikan cukup signifikan, masih ada warga yang membeli. Tapi tidak seperti hari biasanya, biasanya ramai, sekarang agak sepi,” katanya.

Harga Pangan Lain Relatif Stabil

Di tengah kenaikan harga cabai, sejumlah kebutuhan pokok lain di Pasar Terong masih berada dalam kondisi relatif normal. Harga beras dan daging ayam tidak mengalami perubahan berarti.

Pergerakan berbeda justru terjadi pada komoditas telur ayam. Jika biasanya harga telur mengalami kenaikan menjelang momentum perayaan Maulid Nabi Muhammad, kali ini harga telur justru mengalami penurunan.

Harga telur ayam yang sebelumnya berada di angka Rp53 ribu per rak turun menjadi sekitar Rp48 ribu per rak. Untuk telur ukuran besar, harga juga turun dari Rp55 ribu menjadi Rp50 ribu per rak.

Pedagang berharap kondisi pasokan cabai segera kembali normal sehingga harga dapat lebih terkendali. Sementara masyarakat mulai menyesuaikan pola belanja dengan membeli cabai dalam jumlah lebih sedikit untuk mengimbangi kenaikan harga.

Kenaikan harga cabai menjadi salah satu tekanan baru bagi konsumen di tengah upaya menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok di pasar tradisional Makassar.

(Wandi Nojeng / Unhas TV)