.webp)
KESEHATAN MENTAL - Peserta mengikuti jalan santai memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia di kampus Universitas Hasanuddin, Makassar, Sabtu (10/10/2026). Melalui program UH-PRIME, Unhas mengampanyekan kepedulian kesehatan mental dengan membagikan poster dan bunga kepada pengguna jalan. (Unhas TV/Mustika Syaharuddin)
Selain kampanye publik, peringatan Mental Health Day 2026 mengedepankan pendekatan Move, Connect, Express, Reflect. Pendekatan ini menghubungkan aktivitas fisik, interaksi sosial, kesempatan mengekspresikan perasaan, dan refleksi diri sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan mental.
Melalui aktivitas bergerak bersama, peserta diajak memahami pentingnya kesehatan fisik yang berjalan beriringan dengan kesehatan mental. Sementara itu, ruang interaksi dan berbagi pengalaman diarahkan untuk membangun hubungan sosial yang lebih terbuka dan saling mendukung.
Kegiatan juga menghadirkan sesi talkshow sebagai ruang edukasi dan diskusi mengenai tantangan kesehatan mental serta langkah yang dapat dilakukan untuk menciptakan lingkungan yang lebih peduli.
Aktivitas ekspresi kreatif melalui art therapy turut menjadi bagian dari pendekatan kegiatan untuk memberikan kesempatan bagi peserta dalam mengekspresikan pengalaman dan perasaan.
Di sisi lain, penguatan kesehatan mental juga dikaitkan dengan pentingnya kesetaraan dan inklusivitas.
Farida menegaskan bahwa upaya mewujudkan kesejahteraan perlu memberikan perhatian terhadap kebutuhan setiap individu tanpa mengabaikan perbedaan kondisi maupun latar belakang.
“Jadi kita terus mengkampanyekan kesetaraan, inklusivitas, dan terus bersama mewujudkan kesejahteraan untuk Universitas Hasanuddin secara khusus dan kemanusiaan secara luas,” ungkapnya.
Komitmen tersebut turut diwujudkan melalui keterlibatan seluruh fakultas serta kolaborasi sejumlah unit di lingkungan Unhas. Kegiatan ini diinisiasi oleh Direktorat Kesejahteraan dan Kinerja, Pusat Disabilitas, serta Pusat Pelayanan Psikologi.
Keterlibatan ketiga unit tersebut menunjukkan bahwa penguatan kesehatan mental tidak hanya berkaitan dengan edukasi, tetapi juga membutuhkan perhatian terhadap kesejahteraan, dukungan psikologis, dan pemenuhan kebutuhan kelompok yang beragam di lingkungan kampus.
“Seluruh fakultas terlibat, dan ini diinisiasi dilaksanakan oleh tiga direktorat dan pusat; Direktorat Kesejahteraan dan Kinerja, Pusat Disabilitas dan Pusat Pelayanan Psikologi,” jelas Farida.
Selain dukungan internal, Farida menyebut adanya kerja sama dengan Pemerintah Kota Makassar dan beberapa organisasi nonpemerintah (NGO) untuk mendukung penguatan kesehatan mental di Unhas.
Melalui peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026, Universitas Hasanuddin berupaya mendorong kepedulian terhadap kesehatan mental agar tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
Penguatan UH-PRIME diharapkan menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam membangun budaya saling mendengarkan, mengurangi stigma, serta menciptakan lingkungan akademik yang sehat, inklusif, dan mendukung kesejahteraan seluruh sivitas akademika.
(Mustika Syaharuddin / Unhas TV)








