News

Ini Penjelasan Ilmiah dari Kasus Tabrakan Maut di Bekasi

TAKSI - Taksi Green SM yang hancur setelah tertabrak kereta di Bekasi. (foto: media sosial)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Kecelakaan maut yang mengakibatkan 14 korban meninggal dunia dari tabrakan Kereta Api jarak jauh Argo Bromo Anggrek (rute Gambir–Surabaya Pasar Turi) dan Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line, diduga bermula dari mogoknya satu taksi Green SM (Xanh SM/VinFast) di atas rel.

Taksi Green SM ini mogok atau berhenti di tengah rel, diduga karena masalah teknis pada mobil listrik. Taksi tersebut kemudian tertabrak meski masinis KRL Commuter Line (rute Cikrang-Jakarta/Angke) sudah melakukan pengereman mendadak.

Akibatnya, KRL yang menabrak taksi berhenti mendadak di area emplasemen Stasiun Bekasi Timur. KRL lain yang berada di belakangnya (atau yang tertahan sinyal) kemudian ditabrak dari belakang oleh kereta Argo Bromo Anggrek dengan kecepatan cukup tinggi.

Direktur Utama Kereta Api Indonesia (KAI) Bobby Rasyidin menyebut, insiden awal (temperan taksi di JPL 85) diduga mengganggu sistem pernsinyalan dan operasional di area stasiun sehingga memicu efek domino berupa tabrakan dua kereta.

Sopir taksi Green SM mengaku mobilnya tiba-tiba tidak bisa bergerak, seakan-akan mesin terkunci, saat berada di tengah perlintasan. Ia sempat mencoba mendorong mobil tapi gagal dan akhirnya tertabrak KRL. Sopir selamat karena sudah di luar kendaraan.

Penjelasan Ilmiah

Ada banyak kasus, kecelakaan di lintasan kereta api karena mobil mogok di atas rel. Mobil yang mogok di atas rel kereta api utamanya disebabkan oleh gangguan pada sistem kelistrikan mobil akibat medan magnet kuat dari dinamo lokomotif dan kabel-kabel pengantar arus listrik pada rel. 

Medan magnet ini dapat mempengaruhi kinerja komponen mesin (koil/dinamo) hingga menyebabkan mati mesin atau "banting mesin". 

Berikut adalah beberapa faktor penyebab utamanya:

  • Medan Magnet Kuat: Lokomotif seri CC memiliki roda kereta (Bugi) dengan dinamo yang menghasilkan medan magnet kuat, yang mampu memancar pada rel baja dan mematikan mesin kendaraan di dekatnya.
  • Emisi Elektromagnetik: Rel kereta api seringkali memiliki kabel yang menghantarkan arus listrik, menghasilkan emisi elektromagnetik yang mengganggu sistem kelistrikan mobil.
  • Faktor Psikologis (Panik): Pengemudi sering panik saat melihat atau mendengar kereta mendekat, menyebabkan perpindahan gigi yang salah atau menginjak rem mendadak, yang berakibat mesin mati.
  • Kondisi Jalan (Gundukan): Rel seringkali lebih tinggi daripada permukaan jalan di sekitarnya. Hal ini dapat membuat kolong mobil tersangkut atau memaksa pengemudi berhenti mendadak di atas rel.
  • Menerobos Palang Pintu: Memaksa menerobos saat palang sudah mulai ditutup dapat menyebabkan mobil terjebak di tengah rel. 

Maka sangat disarankan untuk tidak pernah memaksakan melintas jika palang kereta sudah mulai ditutup. Jika kemudian mesin mobil mati di tengah rel dan jarak kereta api kurang dari 1 km, segera keluar dari mobil dan menepi ke tempat aman.(*)