UNHAS.TV - Kerusuhan terbesar di Kota Paris, Lyon, dan Marseile, pada Minggu kemarin, memberikan pesan yang amat kuat bahwa negeri itu sedang tidak baik-baik saja. Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern Prancis, lebih dari 550 ribu orang berkumpul meluapkan amarah mereka.
Pertokoan dihancurkan, mobil-mobil polisi jadi sasaran amuk, dan Limoges (balai kota abad ke-19 yang berusia lebih dari 140 tahun) hancur akibat kebakaran yang dimulai oleh perusuh pada hari Sabtu.
Di tengah kerumunan ribuan demonstran, sering muncul sekelompok orang berpakaian serba hitam, wajah tertutup masker atau hood, bergerak kompak seperti satu tubuh. Mereka jarang membawa spanduk serikat buruh atau poster tuntutan spesifik.
Sebaliknya, mereka meninggalkan jejak kaca pecah bank, tempat sampah terbakar, grafiti "ACAB" (All Cops Are Bastards), dan simbol anarki. "Kasihan para pemilik boutique yang dijarah. Jadi para pendemo disusupi oleh orang-orang yang di sini disebut black bloc. Mereka pakai balaclava supaya wajahnya tidak dikenali," kata Anny Rahimah Arman, alumnus Sastra Prancis Unhas yang sudah bermukim di Kota Paris sejak belasan tahun lalu..
Bukan Organisasi, Melainkan Cara Bertindak
Menurut para peneliti seperti ilmuwan politik Francis Dupuis-Déri, black bloc adalah metode aksi, bukan gerakan terstruktur dengan pemimpin, kartu anggota, atau markas.
"Tidak ada satu Black Bloc, melainkan black blocs," tulisnya. Setiap kali terjadi demonstrasi besar, sekelompok orang membentuk formasi ini secara spontan, lalu bubar setelah aksi selesai. Ukurannya bisa puluhan hingga ribuan orang, tergantung konteks.
Asal-usulnya berasal dari Berlin Barat awal 1980-an. Aktivis autonomist (gerakan kiri radikal non-hierarkis) yang menduduki rumah-rumah kosong (squat) menghadapi penggusuran polisi.
Mereka berpakaian hitam, bertopeng, dan bergerak bersama untuk melindungi diri sekaligus melawan. Polisi Jerman menyebut mereka Schwarzer Block (blok hitam). Taktik ini menyebar lewat gerakan anti-globalisasi, terutama "Battle of Seattle" 1999, lalu masuk Prancis secara mencolok saat protes NATO di Strasbourg 2009. Sejak aksi menentang Loi Travail (UU Ketenagakerjaan) 2016, black bloc menjadi elemen rutin dalam banyak demonstrasi sosial di Prancis.
BLACK - Gerakan black bloc yang turut terlibat pada kerusuhan di sejumlah wilayah di Prancis. Foto: Instagram Charlles Baudry





-300x181.webp)


