MAKASSAR, UNHAS.TV - Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin menggelar kuliah umum yang membahas Amerika Serikat dari sudut pandang kepulauan serta konsep translasi dalam kajian sosial-budaya di Aula Prof Mattulada, Fakultas Ilmu Budaya Unhas, Rabu (29/4/2026).
Kuliah umum ini terbuka untuk umum dan diikuti puluhan peserta, mulai dari mahasiswa hingga calon mahasiswa. Mereka hadir untuk menyimak pemaparan Prof Brian Russel Roberts, akademisi yang mengulas kembali cara pandang terhadap identitas geografis Amerika Serikat.
Dalam kuliahnya, Prof Brian mengatakan Amerika Serikat selama ini lebih sering dipahami sebagai negara kontinental.
Pandangan itu melekat pada narasi umum tentang Amerika yang membentang dari satu laut ke laut lainnya. Namun, ia menawarkan cara baca berbeda dengan melihat Amerika Serikat sebagai negara kepulauan atau archipelagic nation.
Menurut Brian, pembacaan tersebut penting karena Amerika Serikat tidak hanya memiliki daratan utama yang luas, tetapi juga klaim wilayah laut dan pulau-pulau di kawasan Karibia serta Pasifik.
Karena itu, pemahaman tentang Amerika tidak cukup dilihat dari batas kontinental semata, melainkan juga dari keterhubungan wilayah laut, pulau, dan sejarah kekuasaannya.
“Gagasan umum tentang Amerika Serikat adalah bahwa negara itu merupakan negara kontinental. Ia membentang dari laut ke laut," kata Prof Brian dalam sesi kuliah umum tersebut.
"Namun, pekerjaan saya sebelumnya mencoba menceritakan ulang Amerika Serikat bukan sebagai benua, melainkan sebagai negara kepulauan,” lanjutnya.
Brian menjelaskan, pendekatan kepulauan membuka ruang baru untuk memahami relasi antara wilayah, mobilitas, budaya, dan kekuasaan.
Dalam perspektif ini, Amerika tidak hanya dibaca sebagai pusat daratan besar, tetapi sebagai ruang yang tersusun dari banyak hubungan lintas pulau dan laut.
Selain membahas konsep Amerika sebagai negara kepulauan, Brian juga mengulas gagasan translasi. Ia menekankan translasi tidak hanya berkaitan dengan alih bahasa dari satu kata ke kata lain. Lebih jauh, translasi juga menyangkut perpindahan makna dalam konteks sosial, budaya, dan lokasi tertentu.
Menurut dia, satu kata dapat memiliki pengertian berbeda ketika berada dalam ruang sosial dan geografis yang berbeda. Perbedaan itu juga dapat muncul dalam penerjemahan suara, ekspresi, dan pengalaman masyarakat di berbagai wilayah.
Brian mengatakan pemikirannya tentang translasi berkaitan dengan konsep kepulauan. Ia merujuk pada gagasan filsuf Karibia, Edward Glissant, yang memandang pemikiran kepulauan sebagai bentuk translasi, atau sebaliknya, translasi sebagai cara berpikir kepulauan. Gagasan itu, kata Brian, menjadi titik awal bagi proyek akademik yang sedang ia kembangkan.
“Yang mulai saya bicarakan adalah ide tentang translasi dan bagaimana hal itu berhubungan dengan konsep kepulauan. Pemikiran ini menjadi satu titik mula bagi proyek yang lebih besar,” ujarnya.
Kuliah umum berlangsung interaktif. Peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga mengajukan pertanyaan kepada narasumber.
Sejumlah mahasiswa tampak aktif menanggapi paparan Brian, terutama saat diskusi menyentuh hubungan antara bahasa, budaya, dan cara memahami wilayah.
Brian mengaku senang dapat berdialog dengan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Unhas. Ia menilai peserta menunjukkan minat dan sikap kritis dalam mengikuti diskusi.
Melalui kegiatan ini, Fakultas Ilmu Budaya Unhas berharap mahasiswa dapat memperluas wawasan global, terutama dalam memahami geografi, budaya, dan translasi secara lebih komprehensif dalam kajian humaniora.
(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)
Prof Brian Russel Roberts, akademisi dari University of Virginia, AS. (Unhas TV/Venny Septiani)








