Siapa Mereka?
Profil peserta black bloc tidak seragam. Banyak yang berasal dari kalangan muda berpendidikan—mahasiswa, pekerja intelektual, atau generasi menengah yang sering dijuluki "anak guru" atau “fils à papa” oleh pejabat Prancis.
Namun, ada juga yang dari latar belakang kelas pekerja, pendukung sepak bola sayap kiri, atau aktivis dari berbagai aliran. Mereka biasanya terkait dengan spektrum ultrakiri: anarkis, autonomis, antikapitalis, antifasis radikal, ekologis radikal, dan kadang Marxist-Leninist.
Tidak ada "anggota tetap", yang ada adalah jaringan kecil berbasis afinitas (kelompok yang saling percaya) yang berkoordinasi lewat mulut ke mulut atau saluran terbatas.
Beberapa dikenal oleh intelijen Prancis, tetapi tidak ada data publik akurat tentang jumlah total. Di aksi besar, seperti 1 Mei atau protes reformasi pensiun, jumlah yang teridentifikasi sebagai black bloc bisa mencapai ratusan hingga sekitar 1.000–2.000 orang di Paris, jauh lebih kecil dibanding total demonstran.
Apa Tujuan Mereka?
Inti ideologi black bloc adalah penolakan radikal terhadap kapitalisme, negara, otoritas, dan masyarakat konsumsi. Mereka melihat bank, perusahaan multinasional (McDonald’s, Nike, dll.), agen properti, dan peralatan polisi sebagai simbol sistem yang tidak adil. Merusak vitrin bank atau membakar tempat sampah bukan sekadar "amuk", melainkan pesan politis: sistem ini layak diserang.
Slogan yang sering muncul —“Tout le monde déteste la police”, “Ne prenons pas le pouvoir, détruisons-le”, atau "ACAB"— mencerminkan pandangan bahwa kekuasaan harus dihancurkan, bukan direbut.
Beberapa ingin menciptakan suasana "insurksional" atau zona otonom (seperti semangat ZAD di Notre-Dame-des-Landes). Mereka membedakan diri dari penjarah murni: fokusnya bukan mengambil barang, melainkan menghancurkan simbol. Penjarah oportunis sering datang belakangan memanfaatkan kekacauan.
Di Prancis, black bloc sering mengambil posisi cortège de tête (barisan depan) demonstrasi, memaksa bentrokan dengan polisi dan kadang bentrok dengan petugas keamanan serikat buruh. Kehadiran mereka sering mengalihkan perhatian media dari tuntutan utama demonstrasi damai (gaji, pensiun, biaya hidup, atau layanan publik).
Dampak dan Kontroversi
Bagi pendukung, black bloc adalah bentuk perlawanan langsung yang menolak kompromi dengan sistem. Bagi kritikus —termasuk banyak demonstran damai dan serikat— mereka merusak citra gerakan, memberi dalih bagi pemerintah untuk menekan aksi protes, dan menimbulkan kerugian material yang tidak menarget penguasa sejati.
Sebaliknya, bagi warga yang muak dengan kerusuhan itu, black bloc tak lebih dari sekelompok perusuh, kelompok barisan yang kalah dari panggung sosial kehidupan di Prancis, lalu mencari jati diri dan ekspresi dengan cara merusak.
Fenomena black bloc tetap hadir dalam aksi-aksi terkini, termasuk mobilisasi besar Oktober 2026 terkait biaya hidup dan layanan publik. Black bloc terus menjadi bayangan hitam yang sulit diabaikan: taktik anonim yang menantang negara di ruang publik, sekaligus menimbulkan perdebatan tajam tentang batas-batas perlawanan yang sah.
Dengan kata lain, black bloc di Prancis bukan sekadar "perusuh berbaju hitam". Mereka adalah ekspresi radikal dari ketidakpuasan terhadap tatanan yang ada—ekspresi yang memilih konfrontasi simbolik dan langsung sebagai bahasa politiknya.(*)





-300x165.webp)


