
Manager Inkubator Bisnis Dinas Koperasi dan UMKM Kota Makassar Khairul Umam. (Dok Unhas TV)
Sementara untuk aspek visual, pelaku UMKM dapat memperoleh bantuan desain logo dan kemasan. Desain tersebut diberikan secara gratis kepada pelaku usaha yang mengikuti pendampingan.
“Konsultasi datang ke inkubator semuanya gratis,” kata Khairul. Ia menilai fasilitas ini seharusnya dimanfaatkan oleh pelaku UMKM, terutama mereka yang ingin memperbaiki kualitas usaha namun terkendala biaya pendampingan.
Pada bidang pemasaran, inkubator membantu pelaku UMKM memahami branding dan digital marketing. Khairul mengatakan pemasaran digital kini menjadi kebutuhan utama. Di era 1990-an, pelaku usaha harus membawa produk secara langsung dari pintu ke pintu.
Namun pada 2026, kata dia, bisnis dapat dijalankan dari rumah dengan memanfaatkan akun digital, iklan daring, dan berbagai alat produksi konten. “Digital marketing itu penting sekali karena dunia sudah berubah,” ujarnya.
Meski demikian, Khairul mengatakan pemahaman pelaku UMKM terhadap urgensi digitalisasi belum selalu diikuti kemampuan teknis. Banyak pelaku usaha sudah mengetahui pentingnya pemasaran digital, tetapi belum mampu menavigasi teknologi secara efektif.
Mereka masih perlu belajar cara membuat iklan daring, meningkatkan visibilitas produk di mesin pencari, membuat konten, hingga membaca data konsumen.
Karena itu, inkubator memasukkan materi digitalisasi usaha ke dalam tahapan pembinaan. Pelaku UMKM didorong memahami penggunaan platform digital, bukan sekadar hadir di media sosial.
Mereka diarahkan untuk memahami siapa pasar yang dibidik, bagaimana menyampaikan nilai produk, dan strategi apa yang paling tepat untuk memperbesar eksposur.
Program pelatihan juga dilakukan berbasis wilayah. Khairul menyebut ada pelatihan berbasis rukun warga yang menyasar 1.312 UMKM.
Pelatihan itu disusun dengan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan pelaku usaha di Makassar. Materinya dibagi dalam tiga tahapan, yakni prainkubasi, inkubasi, dan akselerasi.
Pada tahap prainkubasi, pelaku usaha mendapat materi tentang pola pikir kewirausahaan, digitalisasi, dan legalitas usaha.
Pada tahap inkubasi, peserta dibimbing untuk mengembangkan produk, memperbaiki model bisnis, dan mencatat keuangan. Pencatatan keuangan menjadi penting karena lembaga pembiayaan biasanya memeriksa riwayat keuangan sebelum memberi akses modal.
Setelah produk dan bisnis dinilai lebih siap, pelaku UMKM masuk tahap akselerasi. Pada tahap ini, inkubator membantu membuka akses ke ritel, perbankan, dan sumber permodalan lain. Produk yang telah dikurasi dan diperbaiki kualitasnya didorong agar dapat masuk ke pasar yang lebih besar.
Khairul mengatakan ukuran keberhasilan UMKM naik kelas dapat dilihat dari beberapa indikator. Indikator paling baku adalah perubahan skala usaha, dari mikro menjadi kecil, kecil menjadi menengah, lalu menengah menjadi korporasi. Namun, ia mengakui jarak antara usaha mikro dan kecil masih lebar.
Selain skala usaha, indikator lain dapat dilihat dari legalitas, kemampuan merekrut tenaga kerja, pertumbuhan omzet, peningkatan kapasitas produksi, jumlah cabang, dan akses ke ritel.
Menurut Khairul, usaha yang tidak berani merekrut orang biasanya cenderung stagnan karena kapasitas produksinya tidak berkembang.
Dinas Koperasi dan UMKM Kota Makassar juga melakukan pengukuran dampak melalui metode random sampling. Beberapa UMKM yang telah mengikuti program dipantau untuk melihat perubahan omzet, legalitas, kapasitas usaha, dan produksi.
Dari pemantauan tersebut, Khairul mengatakan ada hubungan antara keaktifan pelaku usaha mengikuti pendampingan dan pertumbuhan bisnis mereka.
Ia menegaskan keberhasilan program tetap bergantung pada komitmen pelaku usaha. Pemerintah dan inkubator dapat menyediakan pelatihan, konsultan, serta akses pasar. Namun, pemilik usaha harus menjalankan arahan, memperbaiki produk, dan aktif berkonsultasi.
Khairul juga menyoroti kesalahan umum pelaku UMKM. Selain takut mengurus legalitas, banyak pelaku usaha terlalu cepat menempatkan modal sebagai masalah utama.
Menurut dia, modal memang penting, tetapi bukan satu-satunya faktor penentu. Tanpa pola pikir kewirausahaan dan perencanaan bisnis yang matang, modal besar dapat habis tanpa menghasilkan pertumbuhan.
Ia menyarankan pelaku usaha menyusun rencana bisnis sebelum menentukan kebutuhan modal. Melalui rencana bisnis, pelaku usaha dapat melihat jenis produk yang ingin dibuat, segmen pasar yang dituju, harga jual, kebutuhan alat, biaya produksi, dan potensi keuntungan.
Untuk usaha tertentu, modal besar mungkin diperlukan. Namun, ada pula jenis usaha, terutama berbasis jasa dan digital, yang dapat dimulai dengan modal lebih kecil.
Bagi pelaku UMKM yang ingin memiliki daya saing, Khairul memberikan tiga pesan utama. Pertama, pahami pasar. Pelaku usaha harus tahu siapa konsumen yang ingin disasar, karena setiap segmen memiliki kebutuhan, daya beli, dan alasan membeli yang berbeda. Kedua, pahami produk.
Pemilik usaha harus mampu menjelaskan nilai, manfaat, dan keunggulan produknya dengan cara yang sesuai dengan target pasar. Ketiga, terus belajar.
Menurut Khairul, wirausaha harus bersikap seperti spons yang menyerap informasi dari banyak tempat. Setiap orang dapat menjadi guru, dan setiap pengalaman dapat menjadi sekolah.
Ia mengatakan pengembangan usaha selalu berjalan seiring dengan pengembangan diri, karena pengusaha akan terus berhadapan dengan masalah baru yang menuntut kedisiplinan, ketekunan, dan kemampuan mengambil keputusan.
Dengan berbagai program tersebut, Pemerintah Kota Makassar berharap UMKM lokal tidak hanya bertahan di tengah arus digitalisasi, tetapi juga mampu tumbuh, membuka lapangan kerja, memperluas pasar, dan naik kelas.
Inkubator bisnis diposisikan sebagai ruang percepatan, tempat pelaku usaha memperbaiki fondasi bisnis sebelum masuk ke kompetisi pasar yang lebih luas. (*)





 Katadata-300x161.webp)


