Sport

Inter Rebut Gelar Ganda Domestik Musim 2025-2026, Cristian Chivu: Jangan Dianggap Biasa

GELAR GANDA - Pelatih Cristian Chivu mempersembahkan gelar Coppa Italia untuk Inter Milan atau capaian dua tropi di musim 2025/2026. (Tangkapan layar mykle.com)

MILAN, UNHAS.TV - Inter Milan menutup musim domestik dengan gelar ganda setelah mengalahkan Lazio 2-0 dalam final Coppa Italia di Stadion Olimpico, Roma, Kamis (14/5/2026) dini hari.

Dua gol pada babak pertama dari Marcus Thuram dan Lautaro Martinez memastikan Nerazzurri membawa pulang trofi utama kedua mereka musim ini.

Kemenangan itu melengkapi keberhasilan Inter meraih Scudetto Serie A. Bagi klub asal Milan tersebut, ini gelar ganda domestik pertama sejak 2010. Saat itu Cristian Chivu masih menjadi pemain Inter di bawah asuhan Jose Mourinho. Musim tersebut juga berakhir dengan gelar Liga Champions.

Kini Chivu berdiri di sisi berbeda. Ia menjadi sosok yang memimpin Inter merawat dominasi domestik. Ia menilai dua trofi musim ini tidak boleh dianggap sebagai capaian biasa.

“Inter memenangi dua trofi musim ini. Kami layak mendapatkannya setelah menjalani kampanye yang baik,” kata Chivu kepada Sportmediaset setelah pertandingan.

“Kami semua bahagia dengan apa yang telah kami lewati dalam beberapa tahun ini. Kami bahagia untuk para penggemar. Kami juga bahagia untuk klub yang selalu mendukung kami,” lanjutnya.

Chivu menegaskan Scudetto dan Coppa Italia tetap memiliki nilai besar bagi klub. “Kami memenangi Scudetto dan Coppa Italia. Itu tidak boleh pernah dianggap biasa. Karena itu kami sangat bahagia,” ujarnya.

Final di Roma berjalan sesuai kendali Inter sejak awal. Thuram membuka keunggulan sebelum Martinez menggandakan skor masih pada babak pertama. Keunggulan dua gol membuat Inter lebih leluasa mengatur ritme. Lazio berusaha mengejar, tetapi tidak cukup tajam untuk mengubah hasil.

Trofi ini menjadi gelar Coppa Italia ke-10 bagi Inter. Mereka kini hanya berada di bawah Juventus, yang masih memegang rekor dengan 15 gelar. Inter juga memperpanjang catatan kuat di final Coppa Italia. Mereka selalu menang dalam lima final terakhir yang mereka mainkan.

Aktor Utama Lautaro Martinez

Martinez kembali menjadi tokoh penting dalam laga puncak. Golnya ke gawang Lazio membuat penyerang Argentina itu mengoleksi tiga gol di final Coppa Italia.

Catatan tersebut menyamai jumlah gol Hernan Crespo dan Julio Cruz untuk Inter dalam partai final turnamen yang sama.

Meski begitu, Martinez memilih mengalihkan perhatian kepada Chivu. Ia menilai pelatih itu memberi pengaruh besar terhadap kebangkitan tim setelah musim sebelumnya berjalan sulit.



COPPA ITALIA - Kapten Inter Milan Lautaro Martinez cium tropi Coppa Italia setelah mengalahkan Lazio 2-0 di laga final, Kamis (14/5/2026) dini hari. (Tangkapan layar mykle.com)


“Kami memberi Chivu nilai 10 dari 10, karena ia banyak membantu kami,” kata Martinez. “Ini sangat berarti, karena tidak mudah kembali ke jalur yang benar setelah apa yang terjadi musim lalu. Tetapi kami mampu menjalani musim yang benar-benar luar biasa.”

Musim Inter tidak sepenuhnya sempurna. Ambisi mereka di Eropa berhenti setelah kalah dari Bodo/Glimt pada babak play-off fase gugur.

Kegagalan itu membatasi capaian Inter di luar Italia. Namun dua gelar domestik membuat musim mereka tetap berakhir dengan kuat.

Di sisi lain, kekalahan ini memperpanjang tekanan terhadap Lazio dan pelatih Maurizio Sarri. Lazio gagal menjadikan Coppa Italia sebagai jalan menuju pencapaian penting. Di Serie A, mereka juga tidak mampu mengamankan tiket kompetisi Eropa.

Sarri tidak memberi jawaban tegas soal masa depannya. Ia hanya menyebut persoalan itu masih terbuka.

“Saya tidak peduli dengan masa depan saya malam ini. Itu sedang dibahas oleh kedua pihak,” kata Sarri.

“Saya sedih untuk para pemain. Saya melihat mereka dalam kondisi mental yang sulit. Saya juga sedih untuk para penggemar.”

Sarri juga menyoroti jadwal derby melawan Roma pada MInggu (17/5/2026) pukul 12.30 waktu setempat. Lazio sebelumnya mendorong perubahan jadwal agar laga dimainkan lebih malam.

Permintaan itu memicu perdebatan karena pertandingan tersebut masih berpengaruh dalam persaingan menuju Liga Champions.

“Perasaan saya, pada Ahad pukul 12.30, saya tidak akan datang,” ujar Sarri. “Kekacauan ini berasal dari serangkaian kesalahan liga. Jika saya presidennya, saya bahkan tidak akan menurunkan tim. Ada lima tim bersaing untuk Liga Champions, yang bernilai 80 juta, dan laga Roma dimainkan pukul 12.30? Ini bukan sepak bola.”

Kontras emosi terlihat jelas di Olimpico. Inter merayakan gelar ganda domestik dan melanjutkan tradisi kuat di Coppa Italia. Lazio meninggalkan stadion dengan kekalahan, ketidakpastian, dan agenda derby yang masih memanas. (*)