oleh: Yusran Darmawan*
Di sebuah meja panjang di Islamabad, dunia seakan menyaksikan dua tradisi peradaban duduk berhadapan. Bukan sekadar Iran dan Amerika Serikat, melainkan dua cara berpikir tentang kekuasaan: satu datang dengan warisan filsafat, satu lagi dengan kendali rudal dan nuklir.
Iran, seperti biasa, datang seperti hendak menghadiri simposium ilmiah.
Nama pertama yang muncul adalah Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri yang menempuh pendidikan PhD dalam pemikiran politik di University of Kent, Inggris. Ia bukan sekadar diplomat, melainkan pembaca serius teori-teori konflik dan negosiasi. Dia terbiasa menimbang kata demi kata seperti seorang akademisi mengurai teks klasik.
Di sampingnya, Majid Takht-Ravanchi, Wakil Menteri Luar Negeri dengan gelar PhD ilmu politik dari University of Bern, Swiss, tampil sebagai diplomat karier yang bertahun-tahun hidup dalam ritme Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ia fasih dalam bahasa resolusi, bahasa yang halus, tetapi sering kali lebih tajam daripada ancaman terbuka.
Lalu hadir Mohammad Bagher Qalibaf, Ketua Parlemen, dengan latar belakang doktor dalam geografi politik dari Tarbiat Modares University. Ia membaca dunia sebagai peta kepentingan, ruang yang dipenuhi jalur pengaruh, titik tekan, dan garis kekuasaan.
Sementara itu, Mohammad Bagher Zolghadr, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, melengkapi komposisi itu dengan pengalaman militer dan kedalaman strategis, memahami keamanan sebagai konstruksi panjang negara, bukan sekadar operasi sesaat.
Mereka adalah orang-orang yang terbiasa berpikir dalam paragraf panjang, dalam kerangka teori, dalam sejarah konflik yang tidak pernah sederhana. Jika perlu, mereka bisa memperdebatkan satu istilah dalam dokumen selama berjam-jam, karena mereka tahu, dalam diplomasi, satu kata bisa lebih tajam dari satu rudal.
Di titik ini, kita seperti mendengar gema tua dari filsuf Yunani, Plato. Dalam The Republic, ia pernah membayangkan sebuah dunia di mana negara seharusnya dipimpin oleh para filsuf, oleh mereka yang memahami kebenaran, bukan sekadar mengejar kekuasaan.
Dan, entah disengaja atau tidak, Iran tampak seperti sedang menguji imajinasi Plato itu di abad ke-21.
Di sisi lain meja, Amerika datang dengan gaya yang jauh lebih ringkas, dan, dalam konteks ini, terasa nyaris kontras.
JD Vance, Wakil Presiden, adalah lulusan ilmu politik dan filsafat dari Ohio State University, lalu meraih gelar JD dari Yale. Ia dikenal luas sebagai penulis Hillbilly Elegy, sebuah refleksi sosial yang tajam, tetapi bukan arsitek doktrin diplomasi global.
Di sebelahnya, Steve Witkoff hadir sebagai utusan khusus, seorang pengusaha real estat, terbiasa bernegosiasi dalam angka, proyek, dan margin keuntungan, bukan dalam sejarah panjang rivalitas geopolitik.
Jared Kushner, mantan penasihat presiden, membawa latar belakang sarjana sosiologi dari Harvard. Ia lebih dikenal sebagai figur yang dekat dengan pusat kekuasaan ketimbang sebagai pemikir hubungan internasional.
Dan di ujung barisan, Jenderal Brad Cooper, Komandan CENTCOM, menjadi satu-satunya figur dengan kedalaman strategis dalam konteks keamanan, lulusan pendidikan militer dengan pengalaman operasional yang nyata, namun tetap berada dalam kerangka kekuatan, bukan refleksi filosofis.
Di titik inilah ironi mulai terasa.
Iran berbicara seperti peradaban yang percaya bahwa dunia bisa dipahami. Amerika bertindak seperti kekuatan yang percaya bahwa dunia cukup untuk dikendalikan.
Iran mengirim para filsuf, atau setidaknya teknokrat yang berpikir seperti filsuf. Mereka mengurai konflik dengan konsep, sejarah, dan ketelitian bahasa. Mereka percaya bahwa setiap krisis punya akar, dan akar itu harus dipahami sebelum ditekan.
Amerika, sebaliknya, mengirim para broker, orang-orang yang terbiasa menutup kesepakatan, bukan membuka lapisan makna. Mereka bukan tidak cerdas; justru karena mereka tidak perlu menjadi dalam.
Mereka adalah produk sistem yang tidak menuntut kedalaman, melainkan kedekatan dengan kekuasaan. Dalam sistem seperti itu, legitimasi tidak lahir dari disertasi, melainkan dari akses.
Maka meja itu menjadi panggung kecil dari dua dunia. Satu dunia percaya pada argumen. Dunia lain percaya pada leverage. Satu dunia menulis disertasi. Dunia lain menandatangani kesepakatan.
Bayangkan seorang doktor filsafat politik mencoba menjelaskan kompleksitas kawasan kepada seorang pengembang properti yang terbiasa melihat dunia sebagai peluang proyek.
Yang satu berbicara tentang keseimbangan kekuatan; yang lain berbicara tentang deal. Yang satu mengutip sejarah; yang lain menghitung risiko.
Apakah ini berarti Iran akan menang? Tidak juga.
Sejarah modern menunjukkan bahwa dunia tidak selalu dimenangkan oleh mereka yang paling dalam berpikir, tetapi oleh mereka yang paling dekat dengan tombol keputusan.
Namun tetap saja, ada sesuatu yang menggelitik. Bahwa di abad ke-21, ketika isu yang dibahas adalah nuklir, sanksi, dan stabilitas global, satu pihak datang dengan tesis, sementara pihak lain datang dengan jaringan.
Di Islamabad, diplomasi berubah menjadi teater yang nyaris absurd.
Dan mungkin, jika Plato duduk di salah satu sudut ruangan itu, ia akan tersenyum tipis. Plato melihat mimpinya tentang “negara para filsuf” bertemu dengan realitas dunia yang dikelola oleh para broker kekuasaan.
Dunia menyaksikan. Dan, diam-diam, tertawa kecil melihat kontras itu.
*Penulis adalah blogger, peneliti, dan digital strategist. Pernah kuliah di Unhas, UI, dan Ohio University. Kini tinggal di Bogor, Jawa Barat







