UNHAS.TV - Iran melancarkan serangan udara dengan sasaran kapal kargo dan minyak yang melintas di Selat Hormuz, Kamis waktu setempat. Pejabat pemerintahan Amerika Serikat menyatakan, Iran menggunakan sejumlah drone saat serangan itu terjadi. Sumber lain menyebutkan, kapal yang diserang berbendera Singapura.
Serangan itu terjadi setelah Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa hanya kapal yang yang mengikuti jalur yang ditentukan oleh Iran yang akan melintas dengan aman. Serangan itu pun membantah jaminan Presiden Donald Trump bahwa selat tersebut bebas dilewati siapa saja.
Serangan itu sendiri mengagetkan pihak Amerika Serikat karena kedua pihak --Iran dan Amerika Serikat-- telah menandatangani nota kesepahaman perdamaian kedua negara pada pekan lalu.
Akibat serangan itu, Organisasi Maritim Internasional (IMO) PBB untuk sementara waktu menghentikan misi mengevakuasi ratusan kapal dan lebih dari 11 ribu pelaut yang terdampar di wilaayah Teluk Persia sejak perang pecah pada 28 Februari 2026.
Dikutip dari CNN, Operasi Perdagangan Maritim Inggris yang memantau lalu lintas maritim di wilayah tersebut melaporkan bahwa kapal kargo itu diserang dari sisi kanan lambung kapal sehingga merusak anjungan. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Namun, sejauh ini pihak pemerintahan Republik Islam Iran belum memberi tanggapan atau menyatakan bertanggung jawab atas serangan pada kapal itu.
HORMUZ - Kapal yang sedang berada di wilayah Selat Hormuz. Foto: @NewsHour.




-300x200.webp)


-300x200.webp)
