
Manuskrip tulisan tangan Sir Isaac Newton yang berisi perhitungannya tentang akhir dunia berdasarkan interpretasi dari kitab suci. Credit: Jerusalem Hebrew University.
Perhitungan Newton: 1.260 Tahun Menuju 2060
Newton menggunakan pendekatan numerologi berbasis teks kitab Daniel dan Wahyu dalam Alkitab. Ia mengasumsikan bahwa angka-angka yang disebutkan dalam kitab-kitab ini, seperti 1.260, 1.290, 1.335, dan 2.300, bukan hanya sekadar hari, melainkan tahun.
Menurutnya, periode 1.260 tahun merupakan masa penyimpangan gereja dari ajaran aslinya. Newton menghitung bahwa penyimpangan ini dimulai pada tahun 800 Masehi, saat berdirinya Kekaisaran Romawi Suci. Dengan menambahkan 1.260 tahun, ia pun mendapatkan tahun 2060 sebagai momen berakhirnya dunia seperti yang kita kenal.
Dalam salah satu suratnya yang ditulis pada tahun 1704, Newton menjelaskan bahwa "satu waktu, dua waktu, dan setengah waktu" dalam Alkitab setara dengan 42 bulan atau 1.260 hari. Jika setiap hari dianggap sebagai satu tahun, maka totalnya menjadi 1.260 tahun.
Meski demikian, Newton tetap berhati-hati dalam menentukan tanggal pasti. Ia menulis bahwa "mungkin ini akan terjadi lebih lama dari itu, tetapi saya tidak melihat alasan mengapa itu terjadi lebih cepat." Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ia yakin dengan perhitungannya, ia tetap membuka kemungkinan bahwa prediksinya tidak sepenuhnya akurat.
Pandangan Seorang Ilmuwan dan Teolog
Banyak orang terkejut mengetahui bahwa seorang ilmuwan besar seperti Newton juga sangat terlibat dalam studi keagamaan. Namun, Profesor Stephen Snobelen dari Departemen Sejarah Sains dan Teknologi di University of King's College, Halifax, Nova Scotia, mengatakan bahwa Sir Isaac Newton sangat berhati-hati dalam menetapkan tanggal-tanggal ramalan. Ia khawatir bahwa kegagalan prediksi manusia yang tidak sempurna, jika didasarkan pada nubuat ilahi, dapat merusak reputasi Alkitab.
Dalam pernyataannya mengenai tahun 2060, Prof. Snobelen menjelaskan bahwa Newton tidak percaya dunia akan berakhir dalam arti yang sebenarnya.
Ia menambahkan, "Bagi Newton, tahun 2060 M lebih merupakan awal yang baru. Itu bukanlah akhir dari dunia, melainkan akhir dari suatu zaman lama dan awal dari era baru—sebuah masa yang dalam tradisi Yahudi disebut sebagai Zaman Mesianik, dan dalam keyakinan Kristen premilenial dikenal sebagai Milenium atau Kerajaan Tuhan."
Dalam pencariannya akan kebenaran, Newton tidak hanya mengandalkan eksperimen dan perhitungan ilmiah, tetapi juga eksplorasi spiritual dan teologis. Ia percaya bahwa hukum-hukum alam adalah cara Tuhan mengatur dunia, dan tugas manusia adalah memahami hukum-hukum tersebut untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Meskipun prediksi Newton tentang kiamat mungkin terdengar spekulatif bagi banyak orang saat ini, hal ini tetap menjadi bukti bahwa bahkan seorang ilmuwan terbesar pun tidak bisa lepas dari pencarian makna spiritual dalam kehidupan.(*)