Mahasiswa
Program
Unhas Story

Jangan Tunggu Siap: Alin, Antropologi, dan Selempang Putri Indonesia di Usia 18

undefined

UNHAS.TV - Kalau ada satu hal yang paling sering disalahpahami orang tentang prestasi, itu barangkali anggapan bahwa kemenangan selalu lahir dari kesiapan yang sempurna.

Di studio sederhana Unhas TV, seorang mahasiswi yang baru menginjak semester dua justru bercerita sebaliknya. Ia menang saat masih ragu. Berani melangkah ketika belum merasa “layak”, lalu belajar sambil jalan.

Namanya Laylyn Dwyi Fajriany atau akrab dipanggil Alin. Mahasiswi Antropologi FISIP Unhas angkatan 2025 ini menyandang gelar Runner-up 1 Puteri Indonesia Sulawesi Selatan (Sulsel) 2026.

Di layar studio, selempang yang melintang di dadanya menyita perhatian. Namun Alin tidak memulai kisahnya dari panggung. Ia memulainya dari rasa ingin tahu. “Aku dari kecil suka merhatiin orang,” katanya.

Ia kepo pada perspektif manusia: cara orang bersikap di lingkungan sosialnya, alasan di balik keputusan kecil, dan bagaimana seseorang bisa menjadi dirinya sendiri.


Dari rasa penasaran itu, ia sampai pada pilihan jurusan antropologi. Pilihannya bukan lewat brosur kampus, melainkan lewat pencarian yang lebih khas generasi sekarang: TikTok.

Ia melihat antropologi “cocok banget” dengan minatnya. Lalu ia masuk Unhas melalui jalur Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) atau Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) angkatan 2025.

Antropologi bukan pilihan pertamanya. Ia sempat menaruh harapan pada Hubungan Internasional. Namun ketika akhirnya berada di antropologi, kekecewaan tidak tumbuh.

Yang muncul justru rasa “terbayar”: ada banyak hal yang dipelajari, bukan sekadar adat dan budaya seperti yang ia kira dari hasil pencariannya. Di kelas, ia bertemu isu sosial yang kompleks, membahas masyarakat dari berbagai sudut.

Ada momen yang membuatnya tambah terpikat ketika ia mengetahui salah satu temuan lukisan tertua berada di Maros—dekat dari tempat ia tumbuh. “Semakin belajar, semakin amazed,” katanya.

Di rumah, pilihan itu sempat dipertanyakan. Bagi sebagian keluarga Indonesia, antropologi masih terdengar seperti jurusan yang “nanti jadi apa?”.

Alin mengaku sempat ditentang. Namun ia memegang satu hal: yang menjalani hidup adalah dirinya. “Ini yang jalanin aku,” ujarnya. Ketika ia sudah lulus seleksi dan resmi kuliah, perdebatan perlahan mereda. Ia tetap melangkah.

Yang menarik, sebelum menjadi mahasiswi antropologi, Alin punya pijakan yang tampak berseberangan. Ia lulusan SMK Negeri 8 Makassar, jurusan Tata Kecantikan. Jurusan itu lahir dari rumah: orang tuanya punya usaha salon.

Sejak kecil ia akrab dengan bunyi hair dryer, aroma pewarna rambut, dan percakapan di kursi salon—semacam ruang pengakuan kecil tempat orang datang dengan wajah kusut, lalu pulang dengan senyum.

Alin menyukai transformasi itu. Bukan semata karena hasilnya terlihat “lebih cantik”, melainkan karena ia melihat perubahan mood manusia terjadi di sana: seseorang bisa kembali percaya diri hanya karena rambutnya dirapikan.

Di sekolah, ia belajar makeup, styling, pijat. Tapi ada pelajaran yang menurutnya paling penting yakni tata cara kerja, etika kerja, dan tanggung jawab.

Itu terdengar seperti modul yang biasa-biasa saja, sampai ia mengaitkannya dengan cerita lain di hidupnya—cerita tentang kepercayaan.

“Profesional itu bukan cuma soal bagaimana jagonya kita, tapi soal sikap kita,” kata Alin, lalu menambahkan kalimat yang ia ulang berkali-kali sepanjang wawancara: kalau sudah dipercaya orang, jangan disia-siakan.

Ia mengucapkannya seperti seseorang yang pernah jatuh karena hal kecil, lalu memungut dirinya sendiri pelan-pelan.

Pengalaman kerja Alin tidak tunggal. Ia pernah merintis usaha F&B kecil-kecilan—berawal dari permintaan kepada orang tua agar bisa punya usaha sendiri.

Ia semula ingin mengambil peran tim pemasaran, tapi lama-lama “keterusan” dan akhirnya mengurus banyak hal sendirian.

Ia juga tetap bekerja di salon karena awalnya menjalani PKL dari SMK. Sampai kini, ketika urusan kampus longgar, ia kembali ke salon.

Ia menyebut kerja sebagai “healing”—pilihan kata yang mungkin terdengar aneh bagi orang yang menganggap kerja selalu sumber stres, tapi masuk akal bagi Alin yang mengaku tidak bisa diam.

Selain itu, ia pernah menjadi model: model makeup, model runway. Ia bahkan sempat menjadi coach di sekolahnya sendiri, meski ia mengakui masih sama-sama belajar.

Hidupnya bergerak seperti kalender yang penuh coretan: kuliah, kerja, latihan, kegiatan. Ada energi yang tampak tidak habis-habis—dan juga risiko yang mengintai: kelelahan.

Tips untuk Membagi Waktu

>> Baca Selanjutnya