Mahasiswa
Program
Unhas Story

Jangan Tunggu Siap: Alin, Antropologi, dan Selempang Putri Indonesia di Usia 18



Laylyn Dwy Fajriany - Runner Up 1 Puteri Indonesia Sulsel 2026, mahasiswi Antropologi FISIP Unhas yang berprestasi. (dok unhas tv)


Alin tidak menutup mata pada bagian sulit itu. Membagi waktu, katanya, “struggle banget”. Ia mengingatkan bahwa manusia bukan superman.

Yang ia lakukan adalah membiasakan diri menyusun prioritas dan menerima kenyataan bahwa tidak semua hal harus sempurna. “Yang penting dilakukan,” ujarnya.

Ini kalimat yang sederhana, tetapi di tangan anak muda perfeksionis, sering menjadi kalimat paling sulit untuk dipercayai.

Lalu datanglah panggung yang membuat namanya dikenal lebih luas: Puteri Indonesia Sulawesi Selatan 2026. Ia mendaftar pada usia 18 tahun, usia minimum untuk ikut. Ia bimbang.

Ia merasa peserta lain pasti bukan orang-orang yang datang “iseng”, pasti sudah punya persiapan panjang. Keraguannya membuat ia hanya menatap tautan pendaftaran selama tiga hari—membiarkannya menggantung seperti pintu yang belum berani ia buka.

Sampai hari terakhir. Ibunya—yang ia panggil bunda—berkata: “Bismillah, coba saja.” Alin mengisi formulir. Mengirim. Selesai.

Sesudah itu, ia mulai menyiapkan sesuatu yang sering menjadi nyawa ajang pageant: advokasi. Tema yang ia bawa terasa pas dengan jurusan yang baru ia tekuni: mendidik dengan ilmu, membesarkan dengan budaya.

Ia melihat generasi sekarang—Gen Z dan seterusnya—hidup dalam arus modernisasi yang cepat, sementara budaya sering terdorong ke pinggir sebagai aksesori, bukan identitas.

Alin ingin mengatakan: budaya bukan benda museum yang disimpan rapi lalu dilupakan. Budaya harus dibawa “ke mana-mana”—tetap hidup dalam keseharian, bahkan ketika peradaban makin maju.

Karantina dan rangkaian tahapan tidak ia gambarkan sebagai medan tempur. Ia justru menyebutnya seperti gathering keluarga. Ia merasa enjoy. Ia yang termuda, katanya, jadi paling banyak geraknya.

Tantangan terbesar bukan soal bertemu orang hebat lain. Tantangannya adalah meyakinkan diri sendiri. Ia menggambarkan adanya “kata-kata” dalam diri yang datang diam-diam: bisa nggak ya? Dan kata-kata itu harus dihadapi sendiri, meski lingkungan sudah memberi dukungan.

Di titik itulah, pelajaran profesionalisme muncul kembali—bukan sebagai slogan, melainkan sebagai simpul pengalaman. Ia percaya, kemampuan dapat diasah.

Tapi kepercayaan—sekali pecah—sulit dirakit. Dan dunia kerja, dunia organisasi, dunia panggung, semuanya bergerak dengan mata uang yang sama: kepercayaan.

Ada satu cerita kecil yang menguatkan gagasan itu. Di salon tempat ia bekerja—salon yang ia sebut cukup high-end—pernah ada pelanggan menolak disentuh olehnya.

“Aku nggak mau dipegang sama kamu, kamu kan baru.” Kalimat itu sempat “kena mental”, katanya. Tapi justru dari situ ia belajar: ia harus upgrade diri agar orang percaya.

Ia tidak bisa mengontrol sikap orang, ia hanya bisa mengontrol responsnya. Dari bertemu berbagai karakter, ia belajar lebih sabar dan lebih dewasa. Profesional, bagi Alin, bukan tentang menang, melainkan tentang tidak tumbang ketika dipandang remeh.

Soal dukungan, Alin menyebut lingkungan sebagai faktor penting. Ia menggambarkan bundanya yang justru lebih excited: dari urusan baju, persiapan, sampai mengingatkan bahwa pada akhirnya Alin harus bisa sendiri. Karena di karantina, ia akan sendirian.

Ia juga berterima kasih pada panitia, pada orang-orang yang terus memberi support, dan pada lingkaran sosial yang membuat proses kompetisi terasa hangat, bukan saling menjatuhkan.

Di akhir wawancara, Alin menyampaikan pesan yang terasa seperti ringkasan hidupnya sendiri: jangan tunggu siap. Jalan dulu. Belajar sepanjang proses.

Kesempatan, katanya, tidak datang dua kali. Ia menyadari banyak orang menunda karena ingin “sempurna”—padahal hidup jarang memberi kondisi ideal. Menunggu siap sering kali hanyalah nama lain dari takut memulai.

Namun ia menambahkan catatan yang lebih tajam: bukan hanya takut melangkah, tapi takutlah jika tidak bisa bertanggung jawab pada diri sendiri.

Karena kehidupan dipegang sendiri. Lingkungan yang baik memang membantu—tapi cara memanfaatkannya tetap ditentukan oleh individu.

Kini, sebagai Runner-up 1 Puteri Indonesia Sulawesi Selatan 2026, ia menyebut tanggung jawabnya jelas: menjadi contoh yang baik dan berdampak.

Tetapi ia tidak berbicara tentang dampak sebagai jargon. Ia memahaminya dari sesuatu yang paling praktis: ia harus mempersiapkan diri matang, menjaga sikap, dan memastikan orang yang melihatnya merasakan pengaruh yang sehat. Ia ingin orang terinspirasi bukan oleh selempang, melainkan oleh konsistensi.

Di sela-sela semua rencana, ia tetap menyebut prioritas jangka pendek yang terdengar membumi: fokus kuliah, pengembangan diri, dan menjalankan amanah selama setahun ke depan. Ambisinya tidak meledak-ledak.

Ia menaruhnya dalam hal-hal yang bisa dikerjakan hari ini: hadir di kelas, bekerja ketika perlu, memegang komitmen, dan menjaga kepercayaan.

Di studio Unhas TV itu, selempang memang mencuri mata. Tapi cerita Alin justru menyimpan daya tarik pada bagian yang biasanya luput: disiplin kecil, kerja harian, dan keyakinan yang dibangun perlahan.

Ia bukan tokoh yang mengaku selalu siap. Ia tokoh yang berkali-kali ragu, lalu tetap melangkah. Dan mungkin di situlah relevansinya bagi banyak anak muda: keberanian tidak selalu berbentuk suara lantang.

Kadang ia hanya berupa satu tindakan sederhana—mengisi tautan pendaftaran di hari terakhir—lalu bertahan untuk tidak menyia-nyiakan kepercayaan setelahnya. (*)