Unhas Story

Jejak Aflahal 'Ali' Mukmin di Jalan Pertukaran Ilmu, Menyambung Unhas dengan Jepang




President Makassar Internasional MUN 2025 Muhammad Aflahal 'Ali' Mukmin . (dok unhas.tv)


Setiap kali akan mengikuti konferensi atau lomba, Ali menyiapkan diri dengan serius. Untuk kompetisi MUN, ia biasanya meluangkan dua bulan persiapan: riset mendalam, latihan debat, hingga berbicara di depan cermin atau tembok.

Kadang ia bahkan berdebat dengan AI menggunakan voice message untuk melatih argumen. “Itu membantu melatih public speaking,” katanya.

Sedangkan untuk konferensi internasional, persiapannya lebih singkat—sekitar satu bulan, meski sering kali undangan resmi baru datang kurang dari tiga minggu sebelum keberangkatan. “Saya sudah siapkan dulu riset dasar, jadi kalau tiba-tiba dapat konfirmasi, saya tinggal melanjutkan,” jelasnya.

Dari semua pengalaman itu, Ali menarik satu pelajaran besar: adaptasi lebih penting daripada kepintaran semata.

“Di forum internasional, saya bertemu orang-orang dengan latar belakang luar biasa—ada yang double major, ada yang profesor. Kalau dibandingkan di atas kertas, jelas tidak bisa. Tapi yang dicari bukan yang terhebat, melainkan siapa yang bisa beradaptasi paling cepat,” ujarnya.

Menurutnya, banyak orang pintar di kampung halamannya. Namun, tidak semua mampu beradaptasi dengan lingkungan baru. “Kalau kesempatan mungkin tidak selalu ada di tangan kita. Tapi kemampuan beradaptasi bisa kita latih,” katanya.

Selain prestasi, Ali tak lupa membawa identitas budayanya. Pengalaman mengenakan Batik Luwu di Vietnam menjadi titik balik. Ia merasa budaya lokal bisa menjadi kekuatan diplomasi yang kuat di forum internasional.

“Di Indonesia, batik sudah biasa. Tapi di luar negeri, orang sangat menghargai. Itu membuat saya sadar bahwa budaya kita punya nilai yang luar biasa,” katanya.

Kini, di semester lima, Ali masih menjabat sebagai Presiden Makassar MUN 2025. Tapi mimpinya melampaui itu. Ia ingin menjadikan pengalaman internasionalnya sebagai bekal untuk berkontribusi lebih besar, baik bagi kampus, daerah, maupun negara.

“Yang saya bawa pulang bukan hanya penghargaan, tapi juga relasi, wawasan, dan pengalaman. Semua itu ingin saya bagikan kembali,” ujarnya.

Tahun depan, ia berencana membangun komunitas internasional berbasis Sorowako bersama kawan-kawan dari Malaysia. Ia juga terus mendorong mahasiswa lain untuk tidak takut mencoba. “Jangan berhenti pada rasa minder. Kalau ada kesempatan, ambil saja dulu.”

Muhammad Aflah Mukmin alias Ali membuktikan bahwa asal-usul dari kota kecil tak menghalangi langkah seseorang menjangkau dunia. Dari Sorowako, ia kini melanglang ke forum-forum global, bertemu presiden, hingga memperkenalkan batik Luwu di panggung internasional.

Ia mungkin masih muda, tapi perjalanan dan pandangannya tentang adaptasi, komunikasi, dan keberanian mencoba memberi inspirasi. “Saya selalu percaya, bukan yang paling kuat yang bertahan, tapi yang paling bisa beradaptasi,” ujarnya.

Sebuah filosofi sederhana yang membawanya melampaui batas, dari desa kecil di Luwu Timur menuju panggung diplomasi internasional. (*)