UNHAS.TV - Deretan bendera merah putih berkibar di tepi Jalan Sultan Alauddin, Makassar, pertengahan Agustus 2026.
Ada bendera berukuran kecil untuk sepeda motor, umbul-umbul, pita, hiasan kendaraan, hingga kain panjang yang biasa dipasang sebagai latar dekorasi gedung.
Warna merah dan putih mendominasi trotoar di tengah lalu lintas kendaraan yang tak pernah benar-benar sepi. Merah putih, itulah warna bendera Indonesia.
Pemandangan seperti itu berulang setiap tahun. Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, pedagang atribut musiman muncul di sejumlah ruas jalan Makassar.
Mereka datang membawa satu harapan sederhana, memanfaatkan beberapa pekan di bulan Agustus untuk menambah penghasilan.
Della Puspita Sari adalah salah satunya. Selama empat tahun terakhir, ia menggelar dagangan bendera menjelang 17 Agustus.
Tahun ini, ia mulai berjualan sejak akhir Juli dan berencana mengakhirinya setelah puncak perayaan kemerdekaan.
“Sudah empat tahun,” kata Della saat ditemui di Jalan Sultan Alauddin, Jumat (15/8/2026).
Musim jualan bendera bagi Della berlangsung singkat. Namun hari kerjanya panjang. Ada kalanya ia membuka lapak sejak subuh dan baru membereskan dagangan menjelang pukul 23.00.
“Iya, seharian,” ujarnya.
Untuk memulai usaha musiman itu, Della menyiapkan modal sekitar Rp10 juta. Berbeda dengan sejumlah pedagang lain, sebagian barang yang ia ambil dapat dikembalikan kepada pemasok jika tidak habis terjual. Karena itu, modal terus ia putar sepanjang musim penjualan.
Barang paling murah di lapaknya adalah bendera kecil untuk kendaraan atau bendera bertiang kayu. Harganya sekitar Rp5.000. Ada pula bendera Merah Putih yang dijual Rp25 ribu hingga Rp35 ribu.
Sementara dekorasi atau background berukuran besar bisa dibanderol hingga ratusan ribu rupiah. Harga di lapangan tidak selalu sama dengan label. Tawar-menawar menjadi bagian sehari-hari.
“Kadang menurun harganya karena orang menawar. Bahkan menawarnya sampai setipis harga modalnya, Kak,” kata Della.
Menjelang 17 Agustus, persoalan lain muncul. Harga dari pemasok perlahan naik. Barang yang pada awal musim ia dapatkan seharga Rp13 ribu per bendera, kemudian naik menjadi Rp14 ribu dan Rp15 ribu.
“Apalagi kalau sudah mendekati puncaknya Hari Kemerdekaan, tambah naik juga barangnya,” ujarnya.
Kenaikan harga itu membuat margin keuntungan pedagang semakin tipis. Di sisi lain, pembeli tetap menginginkan harga terjangkau. Della harus menghitung ulang harga jual agar dagangannya tetap laku tanpa menggerus modal.
Ia pun belum tahu persis berapa keuntungan yang diperoleh tahun ini. Perhitungan baru akan dilakukan setelah masa penjualan selesai.
“Modal saya terus saya putar. Sisanya saya cari keuntungannya,” kata Della. “Tipis juga ini keuntungannya. Yang penting bisa untuk dimakan juga dengan anak-anak,” lanjutnya
Bagi Della, lapak merah putih di pinggir jalan bukan sekadar bagian dari semarak perayaan kemerdekaan. Di balik kain-kain yang berkibar tertiup angin itu, ada kebutuhan rumah tangga yang ikut bergantung pada ramainya pembeli.
Pembeli Berubah, Penjual Bertambah
>> Baca Selanjutnya
PENJUAL BENDERA - Della Puspita Sari, salah seorang penjual bendera Merah Putih di Jl Sultan Alauddin, Makassar, 15 Agustus 2026. (Unhas TV/Venny Septiani)








