MAKASSAR, UNHAS.TV – Pernikahan dalam budaya Bugis dan Makassar tidak hanya menyatukan dua insan, tetapi juga merepresentasikan nilai-nilai budaya yang diwariskan lintas generasi. Mulai dari busana, tata upacara, hingga rias pengantin, semuanya sarat makna simbolik.
Namun, di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan media sosial, tradisi rias pengantin Bugis-Makassar kini mengalami transformasi yang signifikan.
Hal tersebut menjadi perbincangan dalam program Field Notes Unhas TV yang menghadirkan Nurfadillah Hirana sebagai Narasumber.
Dalam perbincangan tersebut, Hirana menjelaskan bahwa penampilan, termasuk riasan wajah, merupakan bentuk komunikasi tanpa kata.
Dalam perspektif antropologi, penampilan menjadi simbol yang merepresentasikan identitas, karakter, hingga budaya seseorang.
Lebih jauh, ia menguraikan bahwa makeup tidak hanya berfungsi sebagai alat mempercantik diri, tetapi juga memiliki empat dimensi, yakni sebagai alat estetika, praktik budaya, ekspresi cinta, dan bahkan sumber konflik.
“Makeup itu praktik budaya karena dia diajarkan, dilakukan secara kolektif, dan berkembang dari waktu ke waktu. Tapi di sisi lain, juga bisa menjadi masalah karena adanya perbedaan standar kecantikan antar generasi,” jelasnya.
Hirana mencontohkan pengalaman di lapangan saat merias pengantin, di mana sering terjadi perbedaan pendapat antara pengantin dengan orang tua atau keluarga terkait hasil riasan.
Hal ini dipicu oleh perbedaan selera antara generasi lama yang cenderung menyukai riasan bold dan tegas, dengan generasi sekarang yang lebih memilih tampilan natural atau soft glam.
Dalam penelitiannya, Hirana menemukan bahwa transformasi rias pengantin Bugis-Makassar terlihat jelas pada berbagai aspek, seperti penggunaan dadasa (hiasan dahi khas), pilihan warna makeup, hingga teknik riasan.
Jika dahulu riasan identik dengan warna-warna berani seperti merah pada bibir dan eyeliner tebal untuk menegaskan sorot mata, kini tren bergeser ke tampilan yang lebih lembut, natural, dan menyesuaikan warna kulit.
Bahkan, beberapa elemen tradisional seperti dadasa mulai ditinggalkan atau dimodifikasi, terutama karena pengaruh penggunaan hijab dan pertimbangan estetika modern.
Selain itu, perkembangan teknologi dan media sosial menjadi faktor utama perubahan tersebut. Akses mudah terhadap tren kecantikan global, termasuk dari Korea dan Thailand, turut membentuk preferensi generasi muda terhadap standar kecantikan yang lebih minimalis.
“Sekarang orang bisa dengan mudah melihat standar kecantikan dari berbagai budaya di dunia. Itu yang akhirnya memengaruhi cara pandang terhadap rias pengantin,” tambahnya.
Meski demikian, Hirana menilai bahwa perubahan ini bukan berarti menghilangkan nilai budaya, melainkan menunjukkan dinamika budaya yang terus berkembang mengikuti zaman.
(Andrea Ririn Karina / Unhas TV)
MAKEUP PENGANTIN - Nurfadillah Hirana (kiri) tampil sebagai Narasumber dalam program Field Notes Unhas TV dengan tema pergeseran makna rias pengantin dalam etnis Bugis-Makassar. (Dok Unhas TV)


-300x203.webp)





