
Dalam skala yang lebih luas, Sheikh Taqi Usmani, seorang ulama dan ekonom terkemuka, juga menekankan pentingnya integrasi antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai spiritual dalam praktik ekonomi.
Baginya, ekonomi syariah bukan hanya soal transaksi bebas bunga, tetapi juga keadilan sosial dan distribusi kekayaan yang adil. Halide dengan caranya sendiri telah mencoba mengimplementasikan nilai-nilai itu dalam setiap upayanya.
Ekonom Muslim terkemuka, Umer Chapra, dalam salah satu tulisannya mengungkapkan bahwa "Etika bisnis yang dilandasi oleh agama dan moralitas sangat dibutuhkan dalam kegiatan ekonomi dan bisnis."
Kutipan itu seakan mempertegas apa yang telah dilakukan Halide sepanjang hidupnya. Ia bukan hanya mengajarkan prinsip-prinsip ekonomi syariah, tetapi juga berusaha menghidupinya dalam tindakan nyata.
Perjalanan Prof. Halide
Ia mencintai ekonomi, barangkali seperti seorang anak mencintai laut. Semua bermula di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin. Kemudian, jalan itu membawanya ke Institut Pertanian Bogor (IPB).
Di sana ia mendalami ekonomi pertanian dan menulis disertasi yang menuntut kesabaran dan pengorbanan. Istrinya, Hajjah Maria, mengetik disertasi sepanjang 140 halaman dengan mesin ketik manual dalam waktu empat hari. Anaknya, Halmar, Marlijah, Rialid, Lidemar, dan Alimar, turut membantu. Semua berkorban. Tapi pengorbanan tak pernah merasa sia-sia.
Di Unhas, Halide bukan hanya seorang pengajar. Ia seorang mentor, sebuah jembatan yang menghubungkan teori dengan praktik. Ia menjabat berbagai posisi penting: Direktur Muda University Extension Education (1967-1968), Pembantu Rektor (1968-1969), Kepala Laboratorium Statistik (1971-1977), Koordinator Konsultan Lembaga Manajemen (1973-1977).
Di tingkat provinsi, ia menjadi Tim Ahli Kamar Dagang dan Industri daerah Sulawesi Selatan (1973-1977). Namun, ia tak pernah meninggalkan dakwah. Sejak 1979, suaranya mengudara, menyampaikan ceramah yang menyejukkan. Kadang-kadang, suaranya menggemuruh di Masjid Istiqlal saat ia menjadi khatib Salat Idul Fitri.
Di akhir hidupnya, Halide tetap teguh. Bagi orang-orang yang mengenalnya, ia bukan hanya seorang ekonom atau muballiq. Ia adalah seseorang yang mempertemukan agama dan ilmu dalam satu kesatuan.
Sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh ekonom Muslim terkemuka, Umer Chapra, bahwa etika bisnis yang dilandasi oleh agama dan moralitas sangat dibutuhkan dalam kegiatan ekonomi dan bisnis.
Halide telah membuktikan bahwa ilmu dan agama bukanlah dua kutub yang berseberangan, melainkan dua sayap yang bersama-sama menerbangkan manusia menuju kehidupan yang lebih adil dan sejahtera.
*Penulis adalah blogger, peneliti, dan Digital Strategist. Lulus di Unhas, UI, dan Ohio University. Kini tinggal di Bogor, Jawa Barat.