
LAUNCHING BUKU - Sesi dokumentasi bersama penulis Buku Jelajah Lintas Batas karya Drs Sudirman MM dan campervan yang digunakan untuk berpetualang di Halaman Kantor Unhas TV, Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar, Senin (13/7/2026). (Dok Unhas TV)
Menurut Sudirman, kegiatan di alam terbuka menuntut tanggung jawab moral. Seorang petualang harus memahami bahwa kawasan yang dikunjungi memiliki ekosistem, aturan sosial, dan nilai budaya yang perlu dihormati. Sikap ceroboh dapat membahayakan pelaku perjalanan sekaligus merusak lingkungan.
Salah satu pengalaman yang ia ceritakan terjadi ketika masih menjadi mahasiswa biologi. Saat itu, Sudirman mengikuti penelitian mengenai aktivitas harian monyet di kawasan hutan Sulawesi.
Selama sekitar satu tahun, ia tinggal di hutan di wilayah Enrekang dan Maiwa untuk mengamati perilaku satwa tersebut.
Dalam penelitian itu, Sudirman pernah berhadapan dengan sekelompok monyet yang menunjukkan perilaku agresif. Seekor pemimpin kelompok mendekat dan bersiap menyerang. Ia memilih tetap berdiri, menjaga pandangan, serta mengendalikan rasa takut agar tidak memicu serangan.
Pertemuan tersebut berlangsung sekitar lima menit. Setelah saling berhadapan, kelompok monyet itu akhirnya menjauh. Sudirman menyebut pengalaman tersebut sebagai salah satu peristiwa yang paling sulit ia lupakan.
Kejadian itu, menurut dia, memperlihatkan pentingnya ketenangan ketika menghadapi situasi berbahaya. Pengetahuan mengenai perilaku satwa perlu disertai kemampuan mengendalikan emosi. Kepanikan dapat mendorong seseorang mengambil keputusan yang memperbesar risiko.
Sesi berbagi buku dipandu akademikus Universitas Hasanuddin sekaligus pembicara publik, Dr Eddyman W. Ferial SSi MSi.
Diskusi berlangsung interaktif dengan kehadiran sejumlah penanggap yang menyampaikan pandangan dan pertanyaan mengenai isi buku, keselamatan perjalanan, hingga cara memulai kegiatan petualangan.
Peserta juga membahas posisi masyarakat lokal dalam perjalanan. Sudirman mengatakan interaksi dengan warga dapat membantu petualang memahami medan, kebiasaan, serta risiko di suatu wilayah.
Pengetahuan lokal kerap menjadi sumber informasi penting yang tidak ditemukan dalam peta maupun panduan perjalanan.
Karena itu, ia mengingatkan pelaku perjalanan agar tidak memandang daerah tujuan sekadar sebagai tempat untuk didatangi dan didokumentasikan. Setiap wilayah memiliki kehidupan sosial dan budaya yang harus dihargai.
Petualang perlu menjaga perilaku, mengurangi sampah, mematuhi aturan setempat, serta menghindari tindakan yang merusak alam.
Melalui buku Jelajah Lintas Batas, Sudirman ingin mendorong masyarakat mengenal Indonesia secara lebih dekat. Perjalanan, menurut dia, dapat memperluas wawasan, melatih keberanian, dan membentuk karakter apabila dilakukan dengan pengetahuan serta tanggung jawab.
Buku tersebut sekaligus menjadi ajakan agar kekayaan alam dan budaya Indonesia tidak sekadar dikagumi dari kejauhan.
Keduanya perlu dipahami, dirawat, dan diwariskan melalui perjalanan yang aman, beretika, serta berpihak pada kelestarian.
(Zahra Tsabita Sucheng / Unhas TV)







-300x166.webp)
