MAKASSAR, UNHAS.TV - Program Jelajah Sampah Kota Makassar memasuki titik ke-14 dengan menyambangi Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar, Minggu (16/8/2026).
Kegiatan yang digelar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar di kawasan Jalan Perumnas Bumi Tamalanrea Permai (BTP) itu menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran warga mengelola sampah sejak dari sumbernya.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin alias Appi hadir bersama Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar sekaligus Ketua TP PKK Kota Makassar, Melinda Aksa. Kepala DLH Kota Makassar Helmy Budiman turut mendampingi kegiatan tersebut.
Munafri mengatakan Jelajah Sampah tidak dirancang hanya sebagai kegiatan memungut sampah. Program itu, menurut dia, menjadi ruang bagi masyarakat untuk melihat langsung persoalan lingkungan sekaligus memahami peran mereka dalam pengelolaan sampah.
“Persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya oleh pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat, mulai dari rumah tangga, komunitas hingga berbagai unsur lainnya,” kata Munafri.
Ia menilai penyelesaian persoalan sampah harus dimulai dari rumah. Warga didorong membiasakan pemilahan sampah, mengurangi produksi sampah, serta mengolah material yang masih memiliki nilai guna.
Menurut Munafri, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, komunitas, dan pemangku kepentingan menjadi salah satu kunci menjaga kebersihan kota.
“Pengelolaan sampah harus dimulai dari kesadaran masyarakat, dibantu oleh pemerintah dan komunitas. Kolaborasi ini sangat penting menjaga kebersihan kota,” ujarnya.
Jelajah Sampah juga digunakan sebagai sarana edukasi untuk mengenalkan perbedaan sampah organik dan anorganik serta cara pengolahannya. Munafri berharap kegiatan di Tamalanrea tidak berhenti sebagai agenda seremonial.
“Jelajah Sampah titik ke-14 ini jangan berhenti sebagai kegiatan seremonial. Kita ingin ada gerakan nyata dari masyarakat untuk mengurangi, memilah, mengolah, dan mengelola sampah mulai dari lingkungan masing-masing,” kata dia.
Dari Biopori hingga Aksi Plogging
Kepala DLH Kota Makassar Helmy Budiman mengatakan Jelajah Sampah telah dilaksanakan sejak Juni 2026. Tamalanrea menjadi kecamatan ke-14 yang menjadi lokasi kegiatan.
Program tersebut melibatkan pemerintah kecamatan dan kelurahan, RT/RW, kader Posyandu, kader keluarga berencana, komunitas, serta kelompok masyarakat lainnya.
“Jelajah Sampah Kota Makassar merupakan sebuah kegiatan yang sifatnya edukasi dan kolaboratif,” ujar Helmy.
Menurut dia, kegiatan dirancang dalam dua bentuk, yakni aktivitas dalam dan luar ruangan. Dalam sesi indoor, warga memperoleh pelatihan pengolahan sampah menggunakan biopori dan komposter, pengolahan sampah organik dengan maggot, serta pembuatan eco-enzyme.
Adapun kegiatan luar ruangan mencakup diskusi persoalan sampah, pameran produk daur ulang, hingga aksi plogging atau memungut sampah sembari berjalan.
Dalam aksi plogging di Tamalanrea, DLH mencatat sampah yang terkumpul sebanyak 13,6 kilogram. Sampah tersebut terdiri atas 1,02 kilogram sampah organik, 3,12 kilogram anorganik, 0,18 kilogram bahan berbahaya dan beracun atau B3, serta 8,74 kilogram residu.
Helmy mengatakan pemilahan hasil plogging tersebut sekaligus menjadi cara memperlihatkan kepada masyarakat jenis sampah yang ditemukan di lingkungan sehari-hari.
DLH berharap rangkaian Jelajah Sampah dapat mendorong masyarakat membatasi timbulan sampah dan meningkatkan kemampuan mengelolanya secara mandiri.
Program yang menggunakan pendekatan edukatif dan interaktif itu menyasar berbagai kelompok, mulai pelajar, komunitas, hingga masyarakat umum.
Pemerintah Kota Makassar menempatkan Jelajah Sampah sebagai salah satu gerakan untuk meningkatkan partisipasi warga menuju target Makassar Bebas Sampah 2029.
“Ini menjadi momentum kolektif untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam upaya pembatasan timbulan sampah,” kata Helmy. (*)
JELAJAH SAMPAH - Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin melihat dari dekat pengolahan sampah organik saat menghadiri Jelajah Sampah ke-14 di Tamalanrea, Makassar, Minggu (16/8/2026). Kegiatan ini mengedukasi warga melalui pemilahan dan plogging untuk mengelola sampah mandiri. (Dok Pemkot Makassar)
 Puntondo-300x169.webp)







