Pendidikan

Adakan Rapat Koordinasi, BPOM RI dan Unhas Perkuat Kolaborasi Riset Obat dan Makanan

KOORDINASI - Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia melakukan rapat koordinasi bersama Universitas Hasanuddin guna memperkuat kolaborasi riset dan pengembangan obat serta makanan di Indonesia di ruang rapat Rektor lantai delapan Gedung Rektorat Universitas Hasanuddin, Makassar, Kamis, 5 Maret 2026. (unhas tv/moh resha maharam)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia memperkuat kerja sama dengan Universitas Hasanuddin dalam pengembangan riset obat dan makanan.

Kolaborasi tersebut dibahas dalam rapat koordinasi yang digelar di ruang rapat Rektor lantai delapan Gedung Rektorat Universitas Hasanuddin, Makassar, Kamis (5/3/2026).

Pertemuan itu dipimpin langsung oleh Rektor Universitas Hasanuddin, Prof Jamaluddin Jompa, dan dihadiri Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI, Prof Taruna Ikrar, bersama jajaran pejabat BPOM.

Sejumlah pimpinan universitas turut hadir dalam pertemuan tersebut, antara lain Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Wakil Rektor Bidang Kemitraan, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), serta para dekan dari berbagai fakultas di lingkungan kampus.

Rapat koordinasi ini menjadi forum awal untuk memperkuat sinergi antara lembaga pemerintah dan perguruan tinggi dalam pengembangan penelitian di bidang kesehatan, khususnya terkait obat, pangan, serta sistem pengawasan produk yang beredar di masyarakat.

Dalam sambutannya, Taruna Ikrar memaparkan perjalanan panjang lembaga pengawasan obat dan makanan di Indonesia. Menurut dia, institusi tersebut telah hadir sejak awal abad ke-19 dan mengalami sejumlah perubahan struktur kelembagaan hingga menjadi Badan POM seperti sekarang.

“Sejarahnya panjang. Lembaga ini sudah ada sejak 1817. Awalnya hanya menangani bidang kefarmasian, kemudian berkembang menjadi Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, hingga akhirnya menjadi Badan POM seperti yang kita kenal hari ini,” ujar Taruna.

Ia menambahkan, kunjungannya ke Universitas Hasanuddin memiliki makna khusus karena kampus itu merupakan almamaternya. Karena itu, ia berharap kerja sama antara BPOM dan universitas dapat semakin intensif, terutama dalam pengembangan riset dan inovasi.

“Kedatangan saya kali ini tentu sebagai Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan, tetapi juga sebagai alumni dari kampus tercinta ini. Ada tiga kegiatan utama yang kami lakukan hari ini. Pertama adalah pertemuan resmi dengan rektor yang akan melahirkan berbagai komitmen kerja sama,” kata Taruna.

Ia menjelaskan, kerja sama tersebut diarahkan pada penguatan konsep kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan dunia industri. Sinergi tiga pihak ini dinilai penting untuk mempercepat pengembangan inovasi di sektor kesehatan dan pangan.

Menurut Taruna, model kolaborasi tersebut sejalan dengan agenda pembangunan nasional yang menekankan pentingnya penguatan riset dan inovasi dalam mendukung kemandirian bangsa.

Melalui kerja sama dengan perguruan tinggi, BPOM berharap dapat mendorong lahirnya riset-riset baru yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat. Selain itu, hasil penelitian di lingkungan kampus juga diharapkan dapat dihilirisasi sehingga memberikan manfaat nyata bagi publik.

Sementara itu, Rektor Universitas Hasanuddin Prof Jamaluddin Jompa menyambut baik inisiatif penguatan kolaborasi tersebut. Menurut dia, kerja sama dengan lembaga pemerintah seperti BPOM membuka peluang luas bagi pengembangan penelitian lintas disiplin di kampus.

Kolaborasi ini juga dinilai penting untuk meningkatkan kontribusi perguruan tinggi dalam pengembangan inovasi nasional, terutama di bidang obat, pangan, dan kesehatan masyarakat.

Pertemuan tersebut diakhiri dengan pembahasan sejumlah rencana program kerja sama, termasuk peluang kolaborasi riset, pengembangan sumber daya manusia, serta dukungan terhadap program inovasi di sektor obat dan makanan.

Melalui sinergi antara BPOM, perguruan tinggi, dan dunia industri, kedua pihak berharap riset nasional dapat berkembang lebih kuat dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan kesehatan di Indonesia. (*)