UNHAS.TV - PARA pemain Argentina tak menutupi bahwa sejarah Perang Falkland atau Malvinas akan menjadi salah satu latar emosional ketika mereka menghadapi Inggris pada semifinal Piala Dunia 2026.
Meski pelatih Lionel Scaloni berusaha meredam muatan politik pertandingan, sejumlah pemain mengakui laga itu memiliki arti lebih besar bagi publik Argentina.
Seusai menyingkirkan Swiss di perempat final dengan skor 3-1, para pemain kembali menyanyikan lagu tim yang dibuka dengan kalimat “Untuk Malvinas”.
Nama tersebut digunakan Argentina untuk menyebut kepulauan di Atlantik Selatan yang kini berstatus wilayah seberang laut Inggris dan menjadi sumber sengketa panjang kedua negara.
Penyerang Jose Manuel Lopez, yang dikenal dengan julukan Flaco, berasal dari Corrientes, wilayah Argentina yang mengirim banyak prajurit dalam perang Malvinas tahun 1982.
Sejumlah tentara dari daerah itu tewas dalam konflik yang meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Argentina.
“Dari empat garis lapangan hingga ke luar stadion, ini adalah pertandingan yang memiliki sejarah panjang, rasa sakit, dan banyak hal di belakangnya,” kata Lopez.
Namun ia menegaskan para pemain tetap akan bersikap profesional dan memperlakukan laga semifinal Piala Dunia 2026 tersebut seperti pertandingan lain, bertarung hingga detik terakhir.
Lopez menyebut semifinal melawan Inggris merupakan pertandingan yang diimpikan banyak pemain sejak kecil. Menurut dia, status laga sebagai semifinal Piala Dunia sudah cukup menjadi sumber motivasi tanpa perlu tambahan tekanan dari luar lapangan.
Gelandang Leandro Paredes juga memahami besarnya makna pertandingan itu bagi negaranya.
“Kami tahu apa arti laga melawan Inggris bagi negara kami. Namun ini tetap pertandingan sepak bola dan kami akan menghadapinya dengan cara terbaik,” ujar dia.
Argentina datang ke semifinal setelah menjalani laga sulit melawan Swiss. Tim asuhan Scaloni sempat kehilangan kendali, membiarkan lawan menyamakan kedudukan, sebelum kartu merah Breel Embolo mengubah arah pertandingan. Menghadapi Inggris, konsentrasi dan disiplin diperkirakan menjadi tuntutan utama.
Bek Cristian Romero menjanjikan perjuangan total. “Kami akan memberikan jiwa kami melawan Inggris,” katanya.
Ia menyadari kemenangan dan kekalahan merupakan bagian dari sepak bola, tetapi Argentina, menurut Romero, akan mengerahkan seluruh tenaga untuk kembali mencapai final.
Duka Mengenang Antonio Rattin
Pertandingan melawan Swiss juga dibayangi kabar duka. Scaloni dan seluruh anggota tim mengenakan ban hitam untuk mengenang mantan kapten Argentina, Antonio Rattin, yang meninggal pada hari pertandingan.
Nama Rattin memiliki kaitan kuat dengan rivalitas Inggris-Argentina. Ia diusir dalam perempat final Piala Dunia 1966 di Wembley setelah wasit asal Jerman, Rudolf Kreitlein, menuduhnya melakukan “kekerasan lewat ucapan”, meski sang wasit tidak memahami bahasa Spanyol.
Rattin merasa keputusan tersebut memihak tuan rumah dan sempat menolak meninggalkan lapangan pertandingan.
Ia kemudian duduk di karpet merah yang disediakan untuk Ratu Inggris sebelum dikawal dua polisi keluar stadion. Dalam perjalanan meninggalkan lapangan, ia merusak bendera kecil Inggris.
Pelatih Inggris saat itu, Alf Ramsey, belakangan menyebut pemain Argentina sebagai “binatang” dan melarang skuadnya bertukar kaus. Insiden tersebut mempertebal ketegangan yang terus menyertai pertemuan kedua negara.
Pertemuan dengan Inggris karena itu hampir selalu dibaca melalui dua lapis ingatan: persaingan sepak bola dan sengketa kedaulatan.
Generasi pemain sekarang tidak mengalami langsung perang tersebut, tetapi simbol Malvinas tetap hidup dalam nyanyian tribun, percakapan publik, dan identitas nasional.
Tekanan itu akan mengikuti Argentina ketika memasuki lapangan untuk memperebutkan tempat di final.
Laga itu pun diperkirakan berlangsung keras dan sangat emosional. Scaloni kini berupaya menjaga fokus tim.
“Ini pertandingan sepak bola. Pesannya adalah: ini pertandingan sepak bola,” kata dia. Scaloni menyebut Inggris lawan tangguh dengan pelatih berkualitas.
Namun bagi banyak orang Argentina, semifinal itu jelas membawa beban lebih panjang daripada 90 menit pertandingan. (*)
PERANG MALVINAS - Striker Jose Manuel Lopez menyebut rivalitas sengit antara Argentina dan Inggris salah satunya dipicu perseteruan dalam Perang Malvinas tahun 1982. (Screenshot The Sun)




-300x202.webp)


