TARAKAN, UNHAS TV – Peneliti Universitas Hasanuddin berada di garis depan upaya penyelamatan Hiu Gangga (Glyphis gangeticus), salah satu spesies hiu paling langka dan paling misterius di dunia yang selama bertahun-tahun nyaris tak terlacak keberadaannya.
Melalui riset kolaboratif bersama James Cook University dan Universitas Borneo Tarakan, para peneliti berhasil menemukan kembali populasi spesies langka tersebut di Sungai Sesayap, Kalimantan Utara, sekaligus merancang langkah konservasi untuk mencegah kepunahannya.
Temuan ini menjadi kabar penting bagi dunia konservasi global. International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan Hiu Gangga dalam kategori Critically Endangered atau kritis terancam punah.
Populasi globalnya diperkirakan tersisa kurang dari 250 individu dewasa, dengan setiap subpopulasi diyakini berjumlah sangat kecil.
Yang membuat Hiu Gangga begitu istimewa adalah habitatnya yang tidak lazim. Berbeda dengan kebanyakan hiu yang identik dengan laut lepas, Hiu Gangga justru hidup di wilayah sungai tropis, muara, dan kawasan pesisir berlumpur.
Hiu muda banyak ditemukan di perairan tawar dan muara, sementara individu dewasa bergerak ke wilayah pesisir. Kemampuan beradaptasi di dua lingkungan berbeda—air tawar dan air asin—menjadikannya salah satu spesies hiu yang sangat unik di dunia.
Secara historis, spesies ini pernah tercatat di sistem sungai besar Asia Selatan dan Asia Tenggara, mulai dari Sungai Gangga dan Brahmaputra di India-Bangladesh, wilayah Myanmar, Pakistan, hingga Kalimantan bagian utara. Namun, karena hidup di perairan keruh dengan visibilitas rendah dan sangat jarang terlihat, Hiu Gangga sering dijuluki sebagai “hiu hantu” dalam dunia konservasi.

Di tengah kelangkaan itu, riset lapangan yang dilakukan tim peneliti pada 2023 menghadirkan kejutan besar. Dalam waktu kurang dari tiga minggu, tim peneliti berhasil mendokumentasikan 43 individu Hiu Gangga di Sungai Sesayap. Jumlah ini menjadikan kawasan tersebut sebagai salah satu habitat tersisa paling penting bagi kelangsungan hidup spesies yang nyaris menghilang dari catatan ilmiah.
Bagi Universitas Hasanuddin, temuan ini bukan sekadar capaian akademik. Ini adalah bukti bahwa perguruan tinggi Indonesia dapat memainkan peran nyata dalam menjawab persoalan lingkungan global melalui riset yang berdampak langsung.
Komitmen itu ditegaskan dalam Workshop on Conservation Planning for the Ganges Shark (Glyphis gangeticus) yang berlangsung di Universitas Borneo Tarakan, Selasa (13/5), yang mempertemukan peneliti, pemerintah, organisasi nelayan, dan pegiat konservasi untuk menyusun strategi perlindungan jangka panjang.
Mewakili Rektor Unhas, Prof. Rohani Ambo Rappe menegaskan bahwa keterlibatan peneliti Universitas Hasanuddin merupakan bagian dari komitmen jangka panjang dalam penguatan konservasi berbasis sains dan kolaborasi internasional.
Menurutnya, kerja sama antara Unhas dan James Cook University yang dimulai sejak 2022 tidak hanya bertujuan mengumpulkan data ilmiah, tetapi juga membangun model konservasi yang realistis dan melibatkan masyarakat sebagai bagian dari solusi.
“Temuan ini bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies langka, tetapi juga tentang bagaimana kita membangun model konservasi yang adil, kolaboratif, dan dapat diterima masyarakat. Karena itu, kami mendorong lahirnya konsorsium riset hiu dan pari di Kalimantan agar penguatan data ilmiah dan kebijakan dapat berjalan beriringan,” ujar Prof. Rohani.
Peneliti dari James Cook University, Dr. Michael Grant, mengungkapkan bahwa Sungai Sesayap telah ditetapkan sebagai Important Shark and Ray Area (ISRA) pada 2024. Pengakuan internasional ini menegaskan pentingnya kawasan tersebut sebagai daerah asuhan (nursery ground) bagi hiu sungai yang sangat langka.
Namun, tantangan konservasi tidak sesederhana melindungi habitat. Ancaman utama Hiu Gangga justru datang dari kedekatannya dengan aktivitas manusia. Karena hidup di kawasan sungai dan muara yang menjadi ruang ekonomi masyarakat, spesies ini kerap tertangkap secara tidak sengaja (bycatch) oleh nelayan yang memasang jaring.

Peneliti Unhas di Tarakan
Diskusi dalam workshop menunjukkan bahwa Hiu Gangga bukan target utama tangkapan nelayan karena nilai ekonominya rendah. Fakta ini menjadi dasar penting bagi pendekatan konservasi yang lebih inklusif.
Alih-alih menerapkan larangan total yang berpotensi memukul ekonomi warga, tim peneliti—termasuk dari Unhas—mendorong skema perlindungan yang lebih realistis, seperti pelepasan hiu muda yang tertangkap, pengaturan ukuran tangkap, pembatasan alat tangkap tertentu, serta penguatan edukasi publik.
Sebagai langkah lanjutan, peneliti Universitas Hasanuddin akan terlibat dalam studi sosial-ekonomi di delapan desa sepanjang Sungai Sesayap untuk memetakan hubungan masyarakat dengan ekosistem hiu dan pari, sekaligus mengidentifikasi model insentif konservasi yang berkelanjutan.
Selain tangkapan sampingan, ancaman terhadap Hiu Gangga juga datang dari degradasi habitat akibat sedimentasi, pembukaan lahan pertanian, hingga pembangunan bendungan yang mengubah aliran sungai.
Temuan kembali spesies ini di Sungai Sesayap menjadi catatan penting, mengingat kemunculan terakhir Hiu Gangga di wilayah Kalimantan sebelumnya tercatat lebih dari dua dekade lalu.
Melalui riset berbasis sains, kolaborasi internasional, dan pendekatan konservasi yang berpihak pada masyarakat, peneliti Universitas Hasanuddin menunjukkan bahwa kampus tidak hanya menjadi pusat produksi pengetahuan, tetapi juga aktor nyata dalam penyelamatan biodiversitas dunia.
undefined








