oleh: Yusran Darmawan*
Ada malam ketika sebuah negeri seperti menahan napasnya sendiri. Layar-layar televisi menyala tanpa suara. Jalan-jalan Teheran terasa lebih sunyi dari biasanya.
Jika suatu hari kabar itu benar-benar datang, bahwa Ayatollah Ali Khamenei telah meninggal, maka yang berakhir bukan sekadar satu kehidupan. Yang terlipat adalah satu bab panjang dalam sejarah Republik Islam Iran.
Ia lahir pada 1939 di Mashhad, dari keluarga ulama sederhana. Sejak muda ia menyerap pelajaran agama di Qom, menyimak gagasan perlawanan terhadap rezim Shah, dan terpengaruh kuat oleh Ruhollah Khomeini.
Ia dipenjara, diawasi, ditekan. Revolusi 1979 membuka pintu yang selama ini tertutup rapat; ia masuk sebagai bagian dari generasi yang membangun sistem baru di atas reruntuhan monarki lama.
Pada Juni 1981, sebuah bom yang disembunyikan dalam tape recorder meledak saat ia berpidato. Ledakan itu merobek tubuhnya, merusak lengan kanannya secara permanen. Ia selamat, tetapi tidak utuh.
Tubuhnya menyimpan luka revolusi. Sejak itu, lengannya tak lagi berfungsi normal. Setiap gerak yang kaku menjadi pengingat bahwa kekuasaan yang ia genggam lahir dari pertarungan yang keras, bahkan berdarah.
Ia pernah menjadi Presiden Iran dalam masa Perang Iran-Irak; ia menyaksikan generasi muda pergi ke medan tempur dan tak kembali. Lalu pada 1989, setelah wafatnya Ruhollah Khomeini, ia diangkat menjadi Pemimpin Tertinggi.
Banyak yang meragukan. Namun waktu memperlihatkan kemampuannya mengonsolidasikan sistem, mengikat negara, ulama, dan militer dalam satu poros ideologis.
Di belakangnya berdiri kekuatan seperti Islamic Revolutionary Guard Corps, penjaga revolusi yang bukan hanya memegang senjata, melainkan juga pengaruh ekonomi dan geopolitik kawasan.
Selama lebih dari tiga dekade, suaranya menentukan arah kebijakan Iran; dari program nuklir hingga sikap terhadap Amerika dan Israel. Ia dipuja sebagai penjaga revolusi, dikritik sebagai simbol kekuasaan yang keras.
Namun ia selalu hadir. Seperti bayang-bayang panjang yang tak pernah benar-benar pergi dari langit politik Iran.
Kini, bayangkan jika lelaki yang selamat dari bom itu akhirnya ditaklukkan oleh waktu.
Tangis mungkin pecah di jalan-jalan. Doa-doa membumbung dari masjid ke masjid. Sebagian merasakan kehilangan yang tulus; sebagian lain menyimpan pertanyaan yang lama terpendam.
Di ruang-ruang tertutup, para elite akan bergerak cepat. Majelis Ahli bersidang. Para komandan memastikan stabilitas tidak retak. Dunia luar menghitung ulang; apakah Iran akan mengeras, atau justru melunak.
Namun di balik kalkulasi geopolitik, ada kenyataan yang lebih sederhana, sekaligus lebih getir. Bahkan seorang pemimpin yang pernah lolos dari ledakan maut pun tidak bisa lolos dari kematian. Tubuhnya mungkin tegak selama puluhan tahun. Pada akhirnya ia tetap rapuh.
Dan ketika saat itu tiba, ketika napas terakhirnya lepas pelan di sebuah ruang yang sunyi, barangkali ia meninggal dengan tersenyum. Sebuah senyum tipis, tidak ditujukan pada kamera, melainkan pada keyakinan bahwa dirinya hanyalah satu mata rantai.
Dirinya bisa punah dan binasa. Jasadnya kembali menjadi tanah Persia yang keras dan berdebu. Namun sistem yang ia bangun, sistem yang merawat nilai Islam dalam bingkai negara, tidak ikut terkubur bersamanya.
Sejarah Iran membuktikan; figur bisa gugur, keyakinan kolektif sering kali justru mengeras dalam kehilangan. Dari rahim krisis dan duka, bisa saja lahir sosok lain, dengan luka berbeda, dengan suara berbeda; bangkit sebagai singa Persia yang tangguh, berdiri tegak melawan apa yang mereka sebut kezaliman.
Seperti bisikan sufi besar Persia, Jalal ad-Din Rumi, tentang kehilangan yang sesungguhnya tak pernah benar-benar hilang:
این رفتن نیست، دگرگونه شدن است
خورشید فرو میرود
تا از افقی دیگر سر برآورد
Ini bukanlah kepergian, melainkan perubahan wujud. Matahari tenggelam. Agar dari ufuk lain ia kembali terbit.
Karena dalam negeri yang dibangun di atas revolusi dan keyakinan, kematian bukan selalu akhir. Kadang ia hanya senja; tampak gelap bagi mata, tetapi diam-diam sedang menyiapkan fajar.
*Penulis adalah blogger, peneliti dan digital strategist. Lulus kuliah di Unhas, UI, dan Ohio University. Kini tinggal di Boor, Jawa Barat.
undefined








