Lingkungan
Mahasiswa

Kabut Asap Selimuti Makassar, Mahasiswa Tetap Kuliah di Tengah Kekhawatiran Kesehatan

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unhas Fathona Aqilla (kiri) dan Andi Keisya Rameyza N mengeluhkan kondisi kabut asap di Kota Makassar. (Unhas TV / Venny Septiani Semuel)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Kabut asap yang menyelimuti langit Makassar dalam beberapa hari terakhir mengganggu aktivitas mahasiswa.

Kondisi udara yang diduga berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan itu memunculkan kekhawatiran terhadap kesehatan, jarak pandang, hingga konsentrasi saat mengikuti perkuliahan.

Fathona Aqilla, mahasiswa Ilmu Komunikasi Unhas, mengatakan perubahan kondisi langit terasa dalam beberapa hari terakhir.

Pemandangan yang sebelumnya cerah berubah menjadi putih berkabut. Aktivitas di luar ruangan pun tidak lagi senyaman biasanya. “Jarak pandang saya terhadap jalan itu sangat berkurang,” kata Fathona.

Ia juga mengaku khawatir karena sejumlah temannya mengalami gangguan kesehatan ketika kabut asap mulai dirasakan di Makassar.

Menurut Fathona, beberapa mahasiswa mengalami mata merah, sedangkan sebagian lainnya mengeluhkan kondisi tubuh yang tidak fit.

Ia juga mengaku mengalami influenza. Meski demikian, penyebab keluhan kesehatan tersebut belum dapat dipastikan hanya berdasarkan kesaksian para mahasiswa.

Situasi itu membuat Fathona berusaha menyesuaikan diri saat menjalani kegiatan perkuliahan. Ia menggunakan masker dan menjaga jarak dengan teman-temannya sebagai langkah untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan.

Dampak kabut asap, menurut dia, tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik. Kekhawatiran terhadap kesehatan diri dan teman-temannya turut memengaruhi konsentrasi belajar.

Namun, kewajiban akademik tetap harus dijalankan di tengah kondisi yang belum sepenuhnya nyaman. “Jadi mau tidak mau, kita harus tetap berusaha untuk survive,” ujarnya.

Pengalaman serupa disampaikan Andi Keisya Rameyza N., mahasiswa yang juga merasakan perubahan kondisi langit Makassar. Ia menilai udara berkabut cukup mengganggu aktivitas, terutama karena mahasiswa harus bepergian ke kampus dan menghabiskan waktu di luar ruangan.

Keisya mengatakan aktivitas perkuliahannya sejauh ini masih berjalan lancar. Ia tidak merasakan perubahan berarti dalam kegiatan akademik, tetapi melihat perbedaan kondisi langit yang sebelumnya biru dan cerah menjadi berkabut.

“Kalau saya sendiri tidak merasakan perubahan sama sekali, cukup lancar. Cuma mungkin dari langit yang kita lihat di daerah Makassar ini tentunya ada perubahan,” kata Keisya.

Meski aktivitas kuliah masih berlangsung, ia berharap kondisi tersebut segera ditangani. Menurut dia, penanganan diperlukan agar masyarakat yang merasa terganggu oleh kabut asap dapat kembali beraktivitas dengan nyaman.

Fathona juga berharap kampus dan pemerintah memperkuat langkah perlindungan bagi mahasiswa, termasuk memberikan informasi mengenai pencegahan paparan asap dan penggunaan masker yang sesuai.

Paparan asap dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan. Partikel halus di udara juga berpotensi memperburuk gangguan pernapasan, terutama pada kelompok rentan.

Untuk mengurangi risiko, masyarakat dapat membatasi kegiatan di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menutup jendela saat udara luar tercemar, serta mengikuti informasi kualitas udara dari sumber resmi.

Penggunaan masker yang sesuai dapat membantu mengurangi paparan partikel, meski tingkat perlindungannya bergantung pada jenis dan kecocokan masker. Apabila muncul sesak napas, nyeri dada, atau keluhan yang memburuk, pemeriksaan medis perlu segera dilakukan.

Kabut asap yang dirasakan mahasiswa di Makassar menunjukkan bahwa dampak karhutla berpotensi meluas melampaui wilayah kebakaran.

Di tengah aktivitas akademik yang terus berjalan, pemantauan kualitas udara, perlindungan kesehatan, dan penanganan sumber pencemaran menjadi hal yang perlu mendapat perhatian.

(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)