Lingkungan
News
Terkini

Kualitas Udara Makassar Memburuk Dampak Karhutla, PM2.5 Capai 155,5 Mikrogram, Ini Artinya?

DAMPAK KARHUTLA - Kabut asap menyelimuti langit Kota Makassar, Sulawesi Selatan, diduga akibat dampak karhutla di sejumlah wilayah, Kamis (15/10/2026). BMKG mencatat konsentrasi PM2.5 mencapai 155,5 mikrogram per meter kubik. (Unhas TV / Wandi Nojeng)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Kabut asap masih menyelimuti langit Kota Makassar, Sulawesi Selatan, hingga Kamis (15/10/2026). Penurunan kualitas udara tersebut merupakan dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat kualitas udara di Makassar berada dalam kategori tidak sehat. Konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 mencapai 155,5 mikrogram per meter kubik. Kondisi itu diperkirakan mengalami peningkatan pada waktu tertentu.

Berdasarkan data prediksi Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah IV Makassar, kualitas udara dapat memburuk terutama pada pagi dan malam hari. Pada pukul 09.00 WITA, kategori kualitas udara diprediksi meningkat menjadi sangat tidak sehat.

Prakirawan BMKG Makassar, Nurahmi, mengatakan peningkatan konsentrasi partikulat tersebut terpantau pada 14 Oktober 2026. Menurut dia, perubahan kualitas udara cenderung terjadi pada waktu tertentu dalam sehari.

“Peningkatannya biasa terjadi di awal pagi jam 7 sampai jam 8 WITA dan di jam malam di jam 7 sampai jam 8 WITA,” kata Nurahmi.

PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil, yakni berdiameter kurang dari atau sama dengan 2,5 mikrometer.



KABUT ASAP - Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar Nurahmi menunjukkan angka kondisi kabut asap yang mencatat konsentrasi PM2.5 mencapai 155,5 mikrogram per meter kubik, Kamis (15/10/2026). Kabut asap menyelimuti langit Kota Makassar, Sulawesi Selatan, diduga akibat dampak karhutla di sejumlah wilayah. (Unhas TV / Wandi Nojeng)


Karena ukurannya, partikel ini dapat masuk ke saluran pernapasan. Paparan dalam konsentrasi tinggi menjadi perhatian terutama bagi kelompok rentan.

BMKG mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan selama kualitas udara memburuk. Masyarakat juga diminta menggunakan masker sebagai salah satu upaya mengurangi paparan polutan.

Nurahmi mengatakan BMKG belum dapat memastikan kapan kabut asap akan berakhir. Kondisi tersebut bergantung pada keberadaan sumber kebakaran di Sulawesi Selatan maupun wilayah lain yang berpotensi memengaruhi kualitas udara.

“Selama masih ada kebakaran di Sulawesi Selatan atau di wilayah lainnya, masih bisa berpotensi adanya kabut asap,” ujarnya.

Kondisi udara diperkirakan baru berpeluang membaik ketika hujan mulai turun secara lebih konsisten. BMKG memprediksi musim hujan di Sulawesi Selatan berlangsung secara bertahap. Wilayah Sulawesi Selatan bagian utara diprakirakan mulai memasuki musim hujan pada awal November 2026.

Adapun Kota Makassar diprediksi memasuki musim hujan pada awal Desember 2026. Jeda waktu tersebut membuat masyarakat tetap diminta mewaspadai kemungkinan berlanjutnya penurunan kualitas udara.

Kabut asap yang menyelimuti Makassar menjadi perhatian karena kualitas udara yang buruk dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat dengan sensitivitas terhadap polusi udara.

Untuk sementara, BMKG meminta masyarakat mengikuti perkembangan informasi kualitas udara dan menyesuaikan aktivitas luar ruangan dengan kondisi terkini.

(Wandi Nojeng / Unhas TV)