MAKASSAR, UNHAS.TV - Euforia Piala Dunia 2026 terasa sampai ke lorong-lorong permukiman di Jalan Titang, Kelurahan Barana, Kecamatan Makassar, Kota Makassar.
Di kawasan yang dikenal warga sebagai Kampung Bola itu, bendera negara peserta Piala Dunia 2026 kembali berkibar di depan rumah-rumah warga.
Piala Dunia 2026 menjadi edisi ke-23 turnamen sepak bola terbesar di dunia. Untuk pertama kalinya, ajang empat tahunan ini digelar di tiga negara sekaligus, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Jarak ribuan kilometer dari arena pertandingan tidak membuat semangat warga Titang meredup. Mereka tetap merayakannya dengan cara yang telah diwariskan lebih dari empat dekade: memasang bendera negara favorit.
Di sepanjang kawasan Titang, bendera Argentina, Brasil, Jerman, Prancis, hingga negara peserta lainnya terlihat menghiasi rumah warga. Dalam satu rumah, dukungan bahkan bisa terbelah.
Ada keluarga yang memasang dua sampai tiga bendera sekaligus karena setiap anggota keluarga memiliki tim jagoan berbeda.
Tradisi itu bermula pada akhir 1980-an. Saat itu, hanya beberapa pemuda yang memasang bendera negara favorit mereka.
Salah satu yang paling dikenang warga adalah Argentina, yang identik dengan nama besar Diego Maradona. Dari kebiasaan kecil itu, antusiasme warga perlahan meluas hingga menjadi tradisi kolektif.
Ketua RT 03, Muhammad Syafar, yang juga disebut sebagai salah seorang pendiri tradisi tersebut, mengatakan pemasangan bendera awalnya dilakukan secara spontan.
Tidak ada panitia khusus atau instruksi dari pemerintah setempat. Warga bergerak atas dasar kecintaan terhadap sepak bola.
“Ada nama bintangnya itu yang ternama, kalau saya tidak salah, Diego Maradona. Itu memang kita sudah berkenaan memang di situ. Cuma pasang benderanya baru satu, ada dua, yang pasang Argentina dan berhasil,” kata Syafar di Makassar, Selasa (16/6/2026).
Menurut Syafar, tradisi itu semakin ramai sejak Piala Dunia 1994. Pada masa itu, sekitar separuh rumah warga mulai ikut memasang bendera. Sejak saat itu, setiap Piala Dunia digelar, Kampung Bola kembali hidup dengan warna-warni bendera negara peserta.
“Mulai tahun 94, sudah ada per rumah, sudah ada kurang lebih 50 persen pasang rumah. Sudah mulai agak semarak. Terus itu berkelanjutan setiap Piala Dunia. Mereka itu spontanitas saja, sukarela,” ujar Syafar.
Bagi warga Titang, Piala Dunia bukan sekadar tontonan. Ajang ini menjadi ruang sosial yang mempertemukan warga lintas usia. Selain memasang bendera, mereka juga rutin menggelar nonton bareng, terutama saat turnamen memasuki fase gugur, mulai babak 16 besar hingga final.
Syafar mengatakan biasanya terdapat dua hingga tiga titik nonton bareng di kawasan tersebut. Kegiatan itu tidak hanya diikuti warga setempat, tetapi juga menarik penonton dari luar Titang, terutama ketika pertandingan besar berlangsung.
Tradisi Kampung Bola juga dinilai memberi dampak positif bagi anak muda. Menurut Syafar, aktivitas sepak bola dan kegiatan kolektif selama Piala Dunia membuat remaja memiliki ruang berkumpul yang lebih sehat.
Ia menyebut kegiatan itu ikut menjauhkan anak muda dari kenakalan remaja. “Dampaknya, anak muda di sini cenderung ke arah positif. Karena ada kegiatannya,” kata Syafar.
Warga berharap tradisi Kampung Bola terus dipertahankan oleh generasi berikutnya. Tradisi ini menjadi identitas kawasan Titang, sebuah kampung yang merawat kecintaan pada sepak bola, kebersamaan warga, dan ingatan kolektif yang bertahan sejak akhir 1980-an.
(Venny Septiani Semuel / Moh. Resha Maharam / Unhas TV)
PIALA DUNIA - Euforia turnamen Piala Dunia 2026 terasa sampai ke lorong-lorong permukiman di Jalan Titang, Kelurahan Barana, Kecamatan Makassar, Kota Makassar. (Unhas TV / Moh Resha Maharam)



 PhD-300x169.webp)


_1-300x189.webp)

