Mahasiswa
Pendidikan

KBGI 2026 Fokus pada Inovasi Konstruksi untuk Rekonstruksi Pascabencana

Marco Alexandro Luntungan dari ITS dan Muh Sultan Dafansyah dari Universitas Muhammadiyah Malang peserta Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) ke-21 dan Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) ke-17 pada 18–22 Oktober 2026. (Unhas TV/Mustika Syaharuddin)

GOWA, UNHAS.TV - Rekonstruksi pascabencana menuntut pengembangan bangunan yang tidak hanya memiliki struktur kuat, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan pemanfaatan material dan fungsi ruang secara efektif.

Tantangan tersebut menjadi salah satu fokus dalam Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) XVII Tingkat Nasional 2026 yang diselenggarakan di Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin (Unhas), Kabupaten Gowa.

Melalui kompetisi ini, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi berkesempatan mengembangkan rancangan bangunan dengan pendekatan konstruksi yang berbeda.

Dua di antaranya berasal dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang masing-masing mengikuti kategori Bangunan Gedung Beton Pracetak dan Bangunan Gedung Baja.

Dalam pengembangan rancangannya, ITS memanfaatkan abu terbang hasil pembakaran batu bara sebagai campuran beton, sedangkan UMM menawarkan konsep pertanian atap untuk mengoptimalkan fungsi ruang bangunan.

Kedua inovasi tersebut menjadi bagian dari gagasan mahasiswa dalam menjawab tema rekonstruksi pascabencana yang diangkat pada KBGI tahun ini.

Pada kategori Bangunan Gedung Beton Pracetak, tim ITS memperkenalkan rancangan bangunan bernama Taguara Tower.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah penggunaan high-volume fly ash (HVFA) sebesar 60 persen dengan memanfaatkan fly ash atau abu terbang, yakni material sisa pembakaran batu bara dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), sebagai bahan campuran beton.

Peserta ITS, Marco Alessandro Luntungan, menjelaskan bahwa pemanfaatan abu terbang tersebut dilatarbelakangi oleh potensi material sisa pembakaran batu bara yang dinilainya belum digunakan secara optimal dalam bidang konstruksi.

“Dari segi material, Taguara Tower menggunakan HVFA sebesar 60 persen. Kami ingin meningkatkan pemanfaatan fly ash karena penggunaannya saat ini masih sangat terbatas,” jelas Marco.

Selain inovasi material, tim ITS turut mengembangkan fasad beton fotokatalitik pada bagian luar bangunan. Menurut Marco, teknologi tersebut ditujukan untuk mendukung kemampuan pemulihan permukaan beton.

Pengembangan lainnya dilakukan pada sistem sambungan antarkomponen bangunan melalui penambahan pelat. Inovasi tersebut bertujuan meningkatkan kekakuan struktur Taguara Tower, khususnya ketika menghadapi pengujian getaran dengan arah 45 derajat yang menjadi bagian dari kompetisi.

Meski menghadirkan sejumlah inovasi, proses pengerjaan rancangan tidak terlepas dari tantangan. Marco mengungkapkan bahwa tahap fabrikasi atau pembuatan komponen bangunan menjadi salah satu kendala terbesar karena membutuhkan proses pengerjaan yang sulit dan waktu yang panjang.

“Tantangan terbesar kami adalah proses fabrikasi yang cukup sulit dan membutuhkan waktu lama. Kami sering menginap di kampus hingga harus mengorbankan beberapa tugas dan nilai,” ungkapnya.

Marco berharap tim ITS mampu memperoleh hasil terbaik dan membawa pulang piala dari KBGI 2026. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Universitas Hasanuddin sebagai tuan rumah serta berharap pengembangan bidang teknik di Unhas terus mengalami kemajuan.

Sementara itu, inovasi berbeda dihadirkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui kategori Bangunan Gedung Baja. Dalam kategori tersebut, mahasiswa UMM mengembangkan konsep pemanfaatan area atap gedung sebagai ruang produksi pangan.

Konsep tersebut diwujudkan melalui penerapan rooftop farming atau pertanian atap yang berpotensi dikembangkan menjadi vertical farming, yakni sistem pertanian yang memanfaatkan ruang secara bertingkat.

Peserta UMM, Mohammad Sultan Dafansyah, menjelaskan bahwa gagasan tersebut dikembangkan sebagai salah satu pendekatan dalam menjawab tema rekonstruksi pascabencana pada KBGI 2026.

“Dalam perancangan gedung, kami menggunakan inovasi rooftop farming yang berpotensi dikembangkan menjadi vertical farming,” jelas Sultan.

Menurut Sultan, pemanfaatan area atap sebagai ruang produksi pangan dapat memberikan fungsi tambahan pada bangunan bertingkat.

Pendekatan tersebut memungkinkan area atap dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian, sekaligus mengoptimalkan penggunaan ruang yang tersedia.

Ia menilai bahwa konsep pertanian atap memiliki potensi untuk dikembangkan seiring dengan kecenderungan pembangunan gedung secara vertikal pada masa mendatang.

“Menurut saya, bangunan pada masa depan akan semakin berkembang secara vertikal. Karena itu, pemanfaatan area atap menjadi pilihan yang baik untuk bangunan bertingkat,” ujarnya.

Melalui rancangan tersebut, mahasiswa UMM menawarkan pemanfaatan ruang bangunan yang tidak hanya berorientasi pada fungsi struktural, tetapi juga berpotensi mendukung kegiatan produktif.

Dalam penerapannya, konsep pertanian atap tetap memerlukan perencanaan yang memperhatikan kapasitas dan keamanan struktur bangunan.

Berbagai inovasi yang dihadirkan ITS dan UMM menunjukkan dua pendekatan berbeda dalam pengembangan konstruksi pada KBGI XVII 2026.

Kategori Bangunan Gedung Beton Pracetak menampilkan pengembangan material dan sistem sambungan struktur, sedangkan kategori Bangunan Gedung Baja menghadirkan gagasan optimalisasi ruang melalui pertanian atap.

Melalui kompetisi ini, pengembangan konstruksi diharapkan tidak hanya berorientasi pada kekuatan bangunan, tetapi juga mempertimbangkan pemanfaatan material alternatif dan fungsi ruang secara optimal, khususnya dalam mendukung kebutuhan pembangunan dan rekonstruksi pascabencana.

(Mustika Syaharuddin / Unhas TV)