MAKASSAR, UNHAS.TV - Perang melawan Iran tercatat merupakan perang paling mahal yang harus ditanggung oleh Pemerintah Amerika Serikat. Satu sumber pejabat tinggi di Pentagon, sebagaimana dikutip dari CNN, menyebutkan, militer AS telah merugi sekitar 25 miliar dolar AS atau setara dengan Rp434,052 triliun hingga awal pekan ini.
Ini adalah prakiraan terendah karena tidak memasukkan biaya kerusakan besar yang diderita oleh pangkalan-pangkalan AS di wilayah tersebut. Salah satu sumber mengatakan perkiraan biaya sebenarnya lebih mendekati 40-50 miliar dolar AS atau setara Rp800 tirilun jika memperhitungkan biaya pembangunan kembali instalasi militer AS dan penggantian aset yang hancur.
Serangan Iran di seluruh Teluk pada awal perang secara nyata merusak setidaknya sembilan situs militer AS hanya dalam 48 jam, menghantam fasilitas di Bahrain, Kuwait, Irak, UEA, dan Qatar.
Iran yang menggunakan drone dan rudal balistik berkecepatan supersonic juga berhasil menghantam sistem radar dan fasilitas militer di beberapa negara di Timur Tengah, termasuk baterai rudal THAAD di Yordania, serta dua bangunan fasilitas sistem radar di Uni Arab Emirate.
Tidak hanya itu, Iran juga mencatat keberhasilan dengan merontokkan pangkalan pesawat tempur Angkatan Udara AS E-3 Sentry yang berpangkalan di Arab Saudi.
Meski saat ini, Iran, Israel, dan Amerika Serikat tengah dalam posisi gencatan senjata, namun belum ada tanda perang akan berakhir sampai tuntutan Iran terpenuhi, salah satunya, Amerika Serikat menanggung seluruh kerugian Iran di perang itu. Itu berarti, potensi kerugian AS akan terus memuncak.
Atas alasan itu pula, Wakil Menteri Pertahanan Bidang Pengendali Keuangan Jules W Hurst menghadiri rapat bersama Komisi Angkatan Bersenjata DPR, 29 April 2026, di Capitol Hill, Washington DC, 29 April 2026.
Kehadiran pejabat keuangan Departemen Pertahanan AS itu untuk meminta persetujuan DPR agar anggaran Departemen Pertahanan untuk tahun fiskal 2027 ditambah.
Anggota senat dari Partai Demokrat, Ro Khanna, tidak yakin bahwa kerugian AS mencapai 25 miliar Dollar AS setelah melihat perkembangan perang di wilayah itu. Apalagi, sebelumnya pihak Pentagon menegaskan telah menghabiskan anggaran 11 miliar Dollar AS pada enam hari pertama peperangan. Ro Khanna berpikir, angka itu terlalu disederhanakan.
Apalagi, Pentagon berusaha membujuk Gedung Putih agar segera mengirim pengajuan penambahan anggaran sebesar 200 miliar Dollar AS untuk perang yang kemungkinan masih lama berakhir.
"Sekutu AS kemungkinan akan turut membantu meringankan kerugian itu untuk pembangunan kembali fasilitas militer tetapi kami tidak yakin seberapa banyak yang harus dikeluarkan karena kami sedang menilai apa yang harus dibangun kembali di masa depan," kata Jules W Hurst.
Jules W Hurst menambahkan, pada tahun fiskal 2027, Kementrian Pertahanan mengajukan anggaran sebesar 1,5 triliun Dollar AS atau setara Rp26,04 kuintriliun. Ini angka yang tergolong sangat banyak.(*)








