Laporan Penutup EKA SASTRA dari World Economic Forum di Davos, Swiss
Davos kembali sunyi. Salju masih menutupi lereng Pegunungan Alpen, berkilau diterpa cahaya senja yang cepat menghilang di balik gunung.
Di jalan-jalan sempit kota kecil ini, iring-iringan kendaraan para delegasi bergerak pelan, satu per satu meninggalkan hotel, aula konferensi, dan lorong-lorong diskusi yang selama beberapa hari terakhir dipenuhi percakapan tentang nasib dunia.
World Economic Forum 2026 resmi ditutup, tanpa deklarasi besar, tanpa satu kesepakatan tunggal yang bisa disebut sebagai arah bersama. Yang tertinggal justru lebih banyak kegelisahan yang jujur, bahwa dunia sedang bergerak, tetapi belum sepenuhnya tahu ke mana.
Selama beberapa hari, para pemimpin negara, CEO korporasi multinasional, akademisi, dan pelaku pasar duduk dalam satu ruang percakapan yang sama. Tema-tema besar terus berulang, dari geopolitik, energi, kecerdasan buatan, fragmentasi global, hingga masa depan kapitalisme.
Tidak ada optimisme yang gegap gempita, tetapi juga tidak sepenuhnya pesimisme. Yang terasa adalah kesadaran kolektif bahwa tatanan lama mulai retak, sementara tatanan baru masih mencari bentuknya.
Dunia yang Berbicara Terlalu Keras
Nada perbincangan di Davos 2026 terasa lebih tegas, bahkan keras. Pidato Donald Trump, misalnya, menandai kembalinya politik kekuatan besar secara terang-terangan. Kepentingan nasional diletakkan di garis depan, dan geopolitik kembali menjadi variabel utama dalam ekonomi global.
Kritik terhadap Eropa, isu perdagangan, hingga pernyataan mengenai wilayah strategis seperti Greenland menunjukkan bahwa ekonomi dan keamanan kini berjalan berdampingan, tanpa banyak basa-basi normatif.
Di sisi lain, para pemimpin Eropa seperti Emmanuel Macron dan tokoh keuangan global seperti Mark Carney mengingatkan dunia tentang memudarnya rules-based order.
Globalisasi yang dulu dipromosikan sebagai jalan bersama menuju kemakmuran kini terbelah oleh kepentingan, identitas, dan krisis kepercayaan. Dari sudut pandang akademik, inilah fase re-politicization of the global economy, ketika pasar tidak lagi berdiri di atas asumsi stabilitas institusional global, melainkan harus membaca ulang peta kekuasaan dan ketegangan politik.
Kapitalisme, Teknologi, dan Krisis Legitimasi
Kegelisahan global juga terasa kuat dalam diskusi tentang masa depan kapitalisme. Sejumlah pemimpin dunia usaha menegaskan bahwa kapitalisme tidak bisa lagi diukur semata dari efisiensi dan akumulasi keuntungan.
Ketimpangan sosial, menurunnya kepercayaan publik, dan tekanan politik membuat pertumbuhan ekonomi tanpa pemerataan justru menjadi sumber instabilitas baru. Kapitalisme, jika ingin bertahan, harus menemukan kembali pijakan moral dan sosialnya.
Perdebatan tentang kecerdasan buatan bergerak dalam nada yang sama. Di satu sisi, AI dipromosikan sebagai mesin produktivitas generasi baru. Di sisi lain, para eksekutif dan pembuat kebijakan mengingatkan potensi disrupsi besar terhadap pasar tenaga kerja dan struktur sosial.
Teknologi, sekali lagi, bukan hanya soal kecepatan inovasi, tetapi juga soal kesiapan institusi, etika, dan kemampuan masyarakat untuk beradaptasi. Davos 2026 memperlihatkan bahwa tantangan utama dunia bukan kekurangan teknologi atau modal, melainkan jurang antara laju perubahan ekonomi dan kapasitas sosial untuk mengelolanya.
Indonesia dan Pilihan Jalan Tengah
Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, Indonesia hadir dengan nada yang berbeda. Dalam pidatonya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan Indonesia sebagai Land of Opportunity, negara dengan pasar besar, sumber daya strategis, serta komitmen terhadap stabilitas dan perdamaian.
Pesannya tidak provokatif, tidak pula defensif. Ia menawarkan kerja sama, keterbukaan, dan rasa percaya sebagai fondasi hubungan ekonomi global.
Pendekatan yang kerap dirujuk sebagai Prabowonomics menekankan pertumbuhan yang disertai pemerataan, penguatan industri domestik, serta pembangunan sumber daya manusia.
Dalam lanskap global yang penuh ketidakpastian, pesan ini dibaca sebagai upaya menjaga legitimasi sosial di tengah dorongan akselerasi ekonomi. Bukan sekadar mengejar pertumbuhan, tetapi memastikan bahwa pertumbuhan itu memiliki wajah manusia.
Kehadiran Indonesia Pavilion, yang dibuka oleh Rosan Roeslani, memperkuat pesan tersebut. Pavilion ini menjadi ruang pertemuan antara pelaku usaha, mitra internasional, dan diaspora Indonesia.
Diplomasi ekonomi tidak lagi berlangsung kaku di ruang-ruang resmi, melainkan mengalir dalam percakapan, jaringan, dan rencana kolaborasi. Di tengah dunia yang semakin proteksionis, Indonesia justru menampilkan keterbukaan yang penuh perhitungan, bukan keterbukaan yang rapuh.
Pelajaran dari Davos
Jika ada satu benang merah dari Davos tahun ini, maka ia terletak pada kesadaran bahwa ekonomi global tak lagi netral secara politik. Geopolitik, keamanan, dan legitimasi sosial kini menjadi bagian tak terpisahkan dari keputusan ekonomi. Pertumbuhan tanpa kepercayaan publik justru menjadi sumber risiko, bukan jaminan stabilitas.
Dalam situasi seperti ini, negara-negara menengah seperti Indonesia memiliki ruang strategis untuk memainkan peran penyeimbang. Bukan melalui adu kekuatan, tetapi lewat stabilitas domestik, konsistensi kebijakan, dan pendekatan dialogis. Pilihan ini mungkin tidak selalu menjadi tajuk utama, tetapi justru itulah yang membuatnya relevan di tengah dunia yang gaduh dan mudah tersulut.
Davos 2026 berakhir tanpa kesimpulan tunggal. Namun mungkin itulah kesimpulan paling jujur. Dunia tidak sedang bergerak menuju satu arah yang terang benderang, melainkan sedang meraba-raba mencari keseimbangan baru.
Di tengah kebisingan global, pilihan Indonesia untuk berbicara dengan nada yang lebih tenang, tentang stabilitas, kepercayaan, dan kerja sama, menjadi tawaran yang patut diperhitungkan.
Dan ketika malam turun sepenuhnya, kota kecil ini kembali tenggelam dalam hening. Salju jatuh pelan, menutup jejak langkah yang beberapa hari lalu dipenuhi perdebatan tentang masa depan. Lampu-lampu hotel meredup satu per satu. Para delegasi pulang ke negeri masing-masing, membawa catatan, kegelisahan, juga secuil harapan bahwa dunia masih bisa menemukan jalan tengahnya.
Di udara dingin yang kian menajam, butiran salju terus menari tanpa suara. Dan di tengah keheningan Alpen, kata-kata sederhana itu terasa pas untuk menutup perjalanan ini:
“Let it snow, let it snow, let it snow.”
undefined
-300x169.webp)


-300x167.webp)




