Internasional

Intelijen Iran Sita Senjata AS dan Bahan Peledak dari Jaringan Asing di Tengah Upaya Destabilisasi Negara

Personel keamanan Iran bersenjata lengkap berjaga di area publik dengan latar bendera nasional Iran, di tengah meningkatnya operasi intelijen dan pengamanan menyusul klaim Teheran tentang penyelundupan senjata, sabotase asing, serta eskalasi ancaman keamanan di tengah gelombang kerusuhan nasional.

TEHERAN, UNHAS.TV - Otoritas intelijen Iran mengumumkan penyitaan senjata api, amunisi, dan lebih dari 200 kilogram bahan peledak yang disebut berasal dari jaringan yang didukung pihak asing dan terlibat dalam rangkaian kerusuhan di berbagai wilayah Iran.

Dalam pernyataan resmi Kementerian Intelijen Iran pada Selasa, 13 Januari 2026, disebutkan bahwa sebagian besar senjata yang disita merupakan senjata buatan Amerika Serikat yang disembunyikan di rumah-rumah warga dan digunakan oleh kelompok bersenjata yang dikategorikan sebagai militan.

Televisi pemerintah Iran juga melaporkan penangkapan sejumlah kelompok bersenjata di Kota Zahedan, Iran tenggara, yang menurut otoritas setempat memiliki keterkaitan dengan Israel.

Operasi tersebut dilakukan secara terpadu oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), kepolisian, dan badan intelijen nasional setelah kelompok tersebut diduga menyusup melalui perbatasan timur Iran.

Pengumuman ini muncul di tengah meningkatnya upaya pemerintah Iran membendung penggunaan internet satelit Starlink, layanan berbasis satelit milik perusahaan AS SpaceX, yang menurut Teheran dimanfaatkan untuk koordinasi kerusuhan dan aktivitas intelijen asing.

Dalam beberapa hari terakhir, Iran memberlakukan pembatasan internet secara luas setelah aparat keamanan mengklaim menemukan bukti komunikasi langsung antara pelaku kerusuhan di dalam negeri dan pihak-pihak di luar Iran.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam wawancara dengan Al Jazeera pada 13 Januari, menyatakan bahwa pemutusan internet dilakukan setelah aparat menghadapi operasi teror terorganisir dan menemukan bukti perintah yang datang dari luar negeri.

Menurutnya, rekaman suara menunjukkan adanya instruksi kepada agen-agen bersenjata untuk menembaki aparat keamanan dan warga sipil guna menciptakan kekacauan dan korban jiwa secara luas.

Di saat yang sama, lembaga penyiaran nasional IRIB melaporkan bahwa intelijen Iran berhasil menggagalkan penyelundupan besar perangkat Starlink dan peralatan elektronik canggih lainnya yang diduga ditujukan untuk kegiatan spionase dan sabotase, termasuk pengumpulan data di sekitar lokasi militer dan fasilitas rudal strategis.

Pengiriman tersebut disebut berasal dari salah satu negara di kawasan dan direncanakan untuk disebarkan di provinsi-provinsi yang sedang mengalami gejolak.

Sejumlah media internasional, termasuk Forbes, mencatat bahwa Iran kini meningkatkan kemampuan gangguan sinyal dengan menggunakan perangkat pengacau (jammer) kelas militer untuk memutus konektivitas satelit, menandai eskalasi baru dalam pengendalian ruang siber.

Langkah ini dipandang signifikan karena untuk pertama kalinya Iran secara sistematis mengganggu internet satelit, yang sebelumnya dianggap sebagai jalur komunikasi alternatif saat terjadi pemadaman jaringan domestik.

Personel keamanan Iran menunjukkan solidaritas di bawah poster Ayatollah Ali Khamenei, menyusul keberhasilan otoritas membongkar keterlibatan jaringan asing dan penyelundupan senjata yang mengancam stabilitas geopolitik negara
Personel keamanan Iran menunjukkan solidaritas di bawah poster Ayatollah Ali Khamenei, menyusul keberhasilan otoritas membongkar keterlibatan jaringan asing dan penyelundupan senjata yang mengancam stabilitas geopolitik negara.


Dari sudut pandang keamanan dan teknologi, perkembangan ini menunjukkan bagaimana internet satelit telah menjadi faktor strategis baru dalam konflik modern, tidak hanya sebagai alat komunikasi sipil, tetapi juga sebagai sarana koordinasi politik, intelijen, dan bahkan operasi keamanan lintas negara.

Sementara itu, narasi mengenai jumlah korban tewas dalam kerusuhan masih diperdebatkan. Kelompok aktivis berbasis di Amerika Serikat mengklaim angka korban mencapai 2.000 orang, namun media resmi Iran menyatakan bahwa sebagian besar korban merupakan warga sipil dan aparat keamanan yang tewas akibat serangan kelompok bersenjata.

Otoritas Iran menyebutkan bahwa proses identifikasi korban menghadapi tantangan serius akibat metode kekerasan ekstrem yang digunakan, termasuk pembakaran dan mutilasi.

Di tingkat geopolitik, ketegangan terus meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump berulang kali mengancam akan melakukan intervensi militer terhadap Iran, sementara Israel secara terbuka mendorong aksi perlawanan di dalam negeri Iran.

Laporan Wall Street Journal pada 10 Januari menyebutkan bahwa pejabat AS telah melakukan diskusi awal terkait kemungkinan serangan udara terhadap target militer Iran, meskipun belum ada keputusan final atau pergerakan militer konkret.

Iran sendiri menegaskan akan memberikan respons keras terhadap setiap serangan, termasuk kemungkinan menargetkan pangkalan militer AS dan Israel, sebuah pernyataan yang semakin memperkuat kekhawatiran komunitas internasional terhadap eskalasi konflik berskala regional.

Bagi masyarakat internasional dan dunia akademik, rangkaian peristiwa ini menyoroti pergeseran medan konflik modern, di mana senjata konvensional, teknologi satelit, perang informasi, dan intervensi geopolitik saling bertaut dalam membentuk dinamika keamanan global abad ke-21. (*)