Internasional

Wartawan Tak Sengaja Diundang ke Grup Chat, Rencana Serangan AS Bocor ke Media

MAKASSAR, UNHAS.TV - Rencana Amerika Serikat untuk menyerang kelompok Houthi, Yaman, bocor ke media Atlantic dan memicu perdebatan sengit di kalangan pejabat pemerintah.

Tidak hanya soal serangan, informasi yang turut beredar yakni pernyataan Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance yang menyebutkan Eropa seharusnya memberi imbalan uang kepada Amerika Serikat karena telah mengamankan jalur pengapalan logistik di kawasan Timur Tengah.

Bocornya informasi rahasia itu setelah Pemimpin Redaksi Atlantic, Jeffrey Goldberg, tiba-tiba menerima undangan masuk ke grup chat rahasia di aplikasi Signal pada 11 Maret 2025. Di grup chat itu terdapat nama Penasihat Militer Nasional Gedung Putih, Michael Waltz.

Juga ada nama Wakil Presiden AS JD Vance, Sekretaris Pertahanan Pete Hegseeth, dan Direktur Badan Intelijen Pusat (CIA) John Ratcliffe. 

Pihak Gedung Putih membenarkan kebocoran informasi tersebut karena seorang administratur grup chat tidak sengaja mengundang seorang pemimpin redaksi di grup itu.

Saat Goldberg diundang masuk ke grup itu, semua anggota grup tidak menyadari hal tersebut. Goldberg baru sadar bahwa grup memang berisi petinggi negara setelah apa yang didiskusikan di grup itu terbukti pada empat hari kemudian ketika Amerika Serikat menyerang Houthis di Yaman.

Presiden Amerika Serikat Doland Trump menegaskan sama sekali tidak tahu mengenai grup itu sehingga ia menolak berkomentar. Pihak Eropa juga belum mengeluarkan pernyataan terkait pernyataan Wakil Presiden Amerika Serikat.

Namun Partai Demokrat mengecam Presiden Trump yang dinilai lalai menjaga kerahasiaan negara. Tapi Partai Republik justru menyebut kesalahan ini justru berasal dari warisan di masa pemerintahan Presiden Joe Biden.(*)