MAKASSAR, UNHAS.TV - Keselamatan nelayan tidak lagi dipandang hanya sebagai persoalan saat melaut, tetapi menjadi bagian dari sistem usaha yang menentukan mutu produk, kepastian pasar, hingga keberlanjutan ekosistem pesisir.
Gagasan tersebut disampaikan Direktur Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan (Polipangkep), Prof Dr Mauli Kasmi SPi MSi, dalam Pelatihan dan Sertifikasi Kompetensi Kecakapan Nelayan Kota Makassar, Selasa (15/9/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Prof. Mauli memaparkan manajemen risiko operasi penangkapan ikan dengan pendekatan yang lebih luas.
Ia menghubungkan keselamatan kerja nelayan dengan penguatan kualitas hasil perikanan, transformasi usaha, serta pengembangan ekonomi biru melalui riset terapan.
Pemaparan itu berkaitan erat dengan Program Bestari Saintek 2026 yang dipimpin Prof Mauli. Program tersebut mengusung Model Living Lab Kolaboratif Hilirisasi Riset Marikultur Karang Hias untuk membangun rantai pasok ekspor yang berkelanjutan dan inklusif.
.webp)
MANAJEMEN RISIKO - Prof. Mauli Kasmi memaparkan manajemen risiko operasi penangkapan ikan dalam Pelatihan Kompetensi Kecakapan Nelayan di Makassar, Selasa (15/9/2026). Program ini menghubungkan keselamatan nelayan dengan penguatan ekonomi biru berkelanjutan. (Dok Polipangkep)
Melalui pendekatan pendidikan vokasi dan riset terapan, manajemen risiko diterjemahkan menjadi praktik kerja mulai dari kapal berangkat, proses produksi, penanganan hasil, hingga produk memasuki pasar ekspor.
“Pergi mencari rezeki. Pulang harus selamat,” menjadi pesan utama Prof Mauli yang disampaikan kepada puluhan nelayan yang menjadi peserta pelatihan tersebut.
Menurut Prof Mauli, setiap aktivitas kerja perlu diawali dengan identifikasi bahaya dan pengendalian risiko.
Nelayan harus memahami apa yang dikerjakan, potensi kesalahan yang mungkin terjadi, dampak yang dapat muncul, langkah pencegahan, serta memastikan kondisi telah aman setelah pengendalian dilakukan.
Dalam praktik sederhana, prinsip tersebut dirangkum melalui tahapan melihat, menilai, mencegah, mengerjakan, dan memeriksa.
Pendekatan ini bertujuan membangun kebiasaan keselamatan yang tidak hanya bergantung pada pengalaman, tetapi juga berdasarkan pertimbangan teknis.
Pada operasi penangkapan ikan, risiko dapat muncul dari berbagai faktor. Kapal yang tidak laik, gangguan mesin, selang bahan bakar yang rusak, alat komunikasi yang tidak berfungsi, peralatan keselamatan yang tidak memadai, hingga perubahan cuaca dapat mengancam keselamatan awak kapal.
Risiko tersebut tidak hanya berdampak pada manusia, tetapi juga memengaruhi produktivitas usaha. Kecelakaan kerja dapat menyebabkan kerusakan alat, kehilangan waktu operasi, penurunan mutu ikan, serta peningkatan biaya yang harus ditanggung keluarga nelayan.
Karena itu, pemeriksaan sebelum berangkat menjadi bagian penting dalam operasi penangkapan. Pemeriksaan mencakup kondisi kapal, mesin, bahan bakar, alat tangkap, navigasi, komunikasi, alat keselamatan, kesiapan awak, cuaca, hingga ketersediaan es untuk menjaga mutu hasil tangkapan.
Dari Keselamatan Menuju Rantai Pasok Berkelanjutan
>> Baca Selanjutnya
MANAJEMEN RISIKO - Prof. Mauli Kasmi memaparkan manajemen risiko operasi penangkapan ikan dalam Pelatihan Kompetensi Kecakapan Nelayan di Makassar, Selasa (15/9/2026). Program ini menghubungkan keselamatan nelayan dengan penguatan ekonomi biru berkelanjutan. (Dok Polipangkep)








