News
Program
Unhas Speak Up

Ketegangan AS-Venezuela Memanas, Akademisi HI Unhas Soroti Ambisi Energi dan Dampak Global



Dosen Hubungan Internasional FISIP Unhas Pusparida Syahdan saat tampil dalam program Unhas Speak Up di Studio Unhas.TV, 8 Januari 2026. (dok unhas tv)


Pusparida menilai Trump memiliki pendekatan kebijakan luar negeri yang unik dan sangat nasionalistis, dengan slogan “Make America Great Again” yang menekankan kepentingan nasional Amerika Serikat di atas segalanya, termasuk dalam sektor energi.

“Trump secara terbuka menyampaikan ambisi kemandirian energi Amerika Serikat. Venezuela, yang secara geografis dekat dan dipersepsikan tidak stabil secara politik, dipandang sebagai sasaran empuk,” ujarnya.

Amerika Serikat kemudian membangun narasi yang mengaitkan kepemimpinan Venezuela dengan kartel narkotika dan instabilitas politik.

Narasi ini, menurut Pusparida, menjadi bagian dari strategi untuk membentuk opini publik domestik Amerika Serikat agar mendukung kebijakan keras terhadap Venezuela.

Dalam eskalasi terbaru, Amerika Serikat secara terbuka menyatakan bahwa kepentingan utamanya adalah minyak.

Tidak seperti presiden-presiden sebelumnya yang kerap menutupi kepentingan ekonomi di balik isu keamanan atau demokrasi, Trump justru menyampaikan secara terang-terangan keinginannya untuk menguasai sumber daya minyak Venezuela.

Pusparida menegaskan bahwa perkembangan ini masih berada pada tahap awal. Belum jelas bagaimana teknis implementasinya, siapa aktor utama yang terlibat, dan sejauh mana rencana tersebut akan direalisasikan.

Konflik ini juga tidak dapat dilepaskan dari kepentingan negara-negara besar lainnya. Venezuela memiliki hubungan energi yang kuat dengan Rusia dan Tiongkok.

Kedua negara tersebut telah mengecam tindakan Amerika Serikat, meski sejauh ini responsnya masih terbatas pada pernyataan diplomatik dan forum internasional seperti Dewan Keamanan PBB.

Menurut Pusparida, konstelasi ini berbahaya karena melibatkan tiga kekuatan besar dunia yang sama-sama memiliki senjata nuklir. Situasi ini berbeda dengan konflik Amerika Serikat dengan negara kecil lainnya, karena level negosiasi dan eskalasinya jauh lebih kompleks.

“Yang paling mengkhawatirkan adalah ketika hukum internasional tidak lagi dihormati. Jika negara besar merasa bebas memilih aturan mana yang ingin dipatuhi, maka stabilitas global menjadi rapuh,” tuturnya.

Meski hubungan ekonomi Indonesia dan Venezuela tidak terlalu besar, Pusparida menilai Indonesia tetap perlu waspada.

Fluktuasi harga minyak dunia, gangguan perdagangan internasional, serta potensi sanksi ekonomi dapat berdampak tidak langsung terhadap perekonomian nasional.

“Indonesia memiliki pengalaman menghadapi dampak perang dan krisis global. Pemerintah perlu mencermati perkembangan ini dan menyiapkan strategi untuk membentengi ekonomi nasional”, ujarnya.

(Zulkarnaen Jumar Taufik / Unhas TV)