
Mahasiswa Psikologi Unhas Melissa Tandiari dan We Tenri Dio berhasil meraih 2 emas di Pimnas 38 di Unhas Oktober 2025 lalu. (dok unhas tv)
Produk utama riset ini adalah modul intervensi yang mereka sebut AIware—sebuah rangkaian enam sesi berbasis mindfulness.
Benang merahnya sederhana namun menuntut: AI boleh dipakai sebagai alat bantu, bukan pengganti.
Kalimat itu terdengar normatif sampai kita melihat kenyataan: banyak mahasiswa tidak sadar kapan bantuan berubah menjadi ketergantungan.
Di dalam AIware, mindfulness diposisikan sebagai latihan membangun “jeda” sebelum bertindak. Jeda itu penting karena ketergantungan sering bekerja otomatis: ada tugas, ada cemas, lalu tangan refleks membuka AI.
Ketika jeda terbentuk, mahasiswa diajak mengenali dorongan, menamai kecemasannya, lalu memilih strategi belajar yang lebih berdaya—membaca, menyusun kerangka sendiri, baru kemudian menggunakan AI untuk memeriksa, merangkum, atau memberi sudut pandang alternatif.
Secara ilmiah, pendekatan itu sejalan dengan temuan-temuan yang menunjukkan mindfulness dapat membantu regulasi atensi dan emosi. Dua fondasi yang sering goyah saat beban akademik tinggi.
Pada mahasiswa, MBIs (mindfulness-based interventions) banyak diteliti dalam kaitan dengan kesejahteraan mental, stres, dan kapasitas regulasi diri—faktor yang sangat berkaitan dengan motivasi dan persistensi belajar.
Makassar: Kota Digital, Literasi yang Belum Merata
Tim ini memilih Makassar sebagai lokasi riset bukan karena kebetulan. Mereka melihat kota ini cukup siap secara infrastruktur digital. Akses perangkat dan konektivitas relatif mudah, namun praktik literasi digital dan kebiasaan belajar bijak tidak otomatis ikut naik.
Ada jarak antara “bisa mengakses” dan “mampu mengendalikan.” Di ruang itulah ketergantungan mudah tumbuh: ketika solusi tercepat selalu tersedia, latihan berpikir yang lambat menjadi terasa tidak efisien.
Mereka menyebut bahaya ketergantungan AI bukan sekadar nilai turun, melainkan hilangnya otonomi. Dalam bahasa yang lebih sehari-hari: mahasiswa bisa mulai meragukan kemampuannya sendiri. Dan ketika rasa mampu melemah, motivasi ikut turun.
Sejumlah riset tentang “ketergantungan AI” dan dampaknya pada keterampilan berpikir juga mulai muncul, antara lain mengaitkan ketergantungan yang lebih tinggi dengan turunnya kemampuan berpikir kritis, dengan mekanisme seperti kelelahan kognitif atau cognitive offloading.
Di atas kertas, enam sesi terdengar mudah. Di lapangan, itu seperti menjaga lilin tetap menyala di angin. Tantangan terbesar mereka adalah mencari partisipan yang bersedia mengikuti seluruh rangkaian.
Mahasiswa punya jadwal yang berubah, tugas menumpuk, organisasi, keluarga, kerja sambilan. Satu sesi yang terlewat bisa mengganggu alur intervensi.
Mereka bernegosiasi dengan realitas: menyesuaikan waktu, menjaga komunikasi, dan—ini yang sering tak terlihat—merawat kepercayaan partisipan. Mindfulness bukan resep instan.
Ia butuh latihan kecil yang diulang, dan hasilnya sering terasa sebagai perubahan halus: lebih sadar saat ingin “mengambil jalan pintas”, lebih berani memulai dari upaya sendiri.
Di salah satu momen yang mereka kenang, beberapa partisipan bercerita tentang perubahan setelah sesi berjalan. Tim
ini tidak menyebutnya sebagai “kesembuhan” atau “terapi”—mereka menjaga istilah tetap proporsional. Tapi mereka mengingat ekspresi lega ketika partisipan merasa kembali memegang kendali belajar.
Bagi peneliti muda, mendengar itu seperti menerima validasi yang paling jujur: riset mereka menyentuh manusia, bukan hanya tabel.
Malam Terakhir dan Dokumen yang Nyaris Tertinggal
Ada adegan khas kompetisi mahasiswa yang nyaris selalu sama yakni detik-detik akhir saat unggah dokumen. Di situlah air mata, tawa kering, dan kalimat “tolong cek lagi” bertemu jadi satu.
Tim Unhas pun mengalaminya. Salah satunya tim Melissa Tandiari. Ketegangan yang membuat mereka sadar bahwa prestasi tidak hanya ditentukan oleh ide, tapi juga oleh manajemen waktu, pembagian kerja, dan ketenangan saat sistem unggah terasa lambat.
Namun mereka tidak menutupi peran dukungan seperti dari dosen pembimbing, teman lintas jurusan, hingga lingkungan yang memberi ruang untuk jatuh-bangun.
Kolaborasi menjadi kata yang terus mereka ulang, bukan sebagai slogan, melainkan sebagai pengalaman nyata. Di tim multidisiplin, ego harus disisihkan. Semua orang memegang bagian penting: yang menghitung, yang menulis, yang menyusun narasi, yang melatih presentasi.
Di tengah euforia menang, mereka tetap mempromosikan cara berpikir yang sangat “riset sosial”: mulai dari masalah yang dekat, bukan yang dibuat-buat.
Mereka menyebut ada empat pertanyaan kunci yang mereka pegang seperti kompas: apa masalahnya, siapa sasarannya, bagaimana cara menyelesaikannya, dan konsekuensi apa yang mungkin muncul dari solusi itu.
Dengan kompas itu, topik yang semula luas—AI dan pendidikan—dipersempit menjadi isu yang bisa ditangani: motivasi belajar mahasiswa yang terancam oleh ketergantungan.
Mereka juga menolak sikap anti-AI. Bagi mereka, AI tetap alat—seperti kalkulator, seperti mesin pencari—yang harus ditempatkan pada porsi yang benar.
Mindfulness, dalam modul mereka, bukan untuk membuat mahasiswa “kembali ke masa lalu” tanpa teknologi, melainkan agar mahasiswa tetap menjadi subjek utama dalam proses belajar.
Dua medali emas di PIMNAS 38 akhirnya menjadi lebih dari capaian lomba. Ia menjadi penanda bahwa keresahan generasi kampus tentang AI bisa dijawab bukan dengan panik, melainkan dengan desain intervensi yang rapi dan empatik.
Di tengah budaya serba cepat, mereka menawarkan sesuatu yang terasa kuno namun relevan: berhenti sebentar, menyadari diri, lalu belajar lagi—dengan tangan sendiri memegang kemudi. (*)


-300x200.webp)





