.webp)
KOTORAN - Seorang warga tampak mengumpulkan kotoran sapi di kandang untuk diolah menjadi biogas di Kabupaten Sinjai, Minggu (1/3/2026). Program pengolahan limbah ternak menjadi energi ramah lingkungan ini merupakan Program Biogas Kampung Energi Terpadu bantuan dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN UID Sulselrabar. (dok pln uid sulselrabar)
Manfaatnya tak berhenti pada energi. Residu biodigester berpotensi menjadi pupuk organik untuk lahan pertanian warga.
Penggunaan pupuk ini diharapkan menekan biaya pembelian pupuk kimia sekaligus meningkatkan kesuburan tanah. Residu juga dapat dikembangkan sebagai bahan campuran pakan ternak, seperti ikan dan ayam, memperkuat integrasi antara sektor energi, pertanian, dan peternakan.
Bupati Sinjai, Ratnawati Arif, menyampaikan apresiasi atas dukungan atas program yang diluncurkan PLN UID Sulselrabar tersebut.
“Program ini menurut saya memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam menyediakan akses energi memasak yang lebih ramah lingkungan serta meningkatkan kualitas lingkungan desa,” ujarnya dikutip dalam rilis bagian komunikasi dan TJSL UID Sulselrabar.
Menurut Ratnawati, pemanfaatan limbah ternak menjadi energi dan pupuk organik mendorong kemandirian energi dan ketahanan ekonomi warga.
“Ini merupakan contoh kolaborasi yang sangat baik antara pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat dalam membangun desa ke arah yang lebih berkelanjutan,” katanya.
.webp)
KOTORAN - Seorang warga tampak mengumpulkan kotoran sapi di kandang untuk diolah menjadi biogas di Kabupaten Sinjai, Minggu (1/3/2026). Program pengolahan limbah ternak menjadi energi ramah lingkungan ini merupakan Program Biogas Kampung Energi Terpadu bantuan dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN UID Sulselrabar. (dok pln uid sulselrabar)
General Manager PLN UID Sulselrabar, Edyansyah, menegaskan program ini ditujukan untuk menciptakan dampak jangka panjang.
“Melalui TJSL PLN Peduli, kami meninjau berbagai jenis energi terbarukan yang aman, bersih, ramah lingkungan, dan berbasis pada berbagai sumber daya yang berkelanjutan," ujarnya.
"Biogas di Dusun Bakae ini menjadi contoh nyata bagaimana limbah ternak dapat diubah menjadi sumber energi bersih serta memberikan dampak langsung bagi ekonomi masyarakat,” lanjut Edyansyah.
Ia menambahkan, pengembangan program tidak berhenti pada uji coba delapan rumah tangga. “Kami berharap program ini dapat terus berkembang ke depannya dan menjangkau rumah-rumah lainnya. Selain itu, program ini juga akan menunjang kemandirian energi dan kesejahteraan masyarakat desa,” kata Edyansyah.
Bagi warga Dusun Bakae, perubahan itu terasa konkret. Api biru di dapur bukan sekadar simbol teknologi ramah lingkungan, melainkan tanda berkurangnya beban ekonomi dan bertambahnya rasa aman.
Jika kapasitas biodigester dimaksimalkan dan jumlah penerima manfaat diperluas, semakin banyak dapur yang menyala tanpa bergantung pada elpiji.
Dari kandang sapi di sudut dusun, energi baru lahir. Limbah yang dulu terbuang kini menyalakan kompor, menyuburkan tanah, dan membuka peluang usaha.
Di desa kecil di Sinjai Timur itu, transisi energi bukan wacana besar. Ia hadir dalam bentuk sederhana: api biru yang menyala setiap pagi di dapur Hasriani. (*)



-300x178.webp)




