Karir

Ketua Senat FISIP Unhas Tekankan Aspirasi Publik dalam Seleksi Pemilihan Calon Dekan 2026

Pemaparan Kertas Kerja Calon Dekan FISIP Unhas di Gedung Ipteks, Unhas, Kamis (16/4/2026). (Dok Unhas TV)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Ketua Senat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, Prof Dr Hamka Naping MA menegaskan pentingnya dialog publik dan penjaringan aspirasi dalam rangkaian pemilihan calon dekan FISIP Unhas periode 2026–2030.

Menurut dia, forum semacam itu bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang bagi para calon pemimpin untuk membaca kebutuhan riil fakultas dari berbagai pemangku kepentingan.

Pernyataan itu disampaikan Prof Hamka dalam dialog publik penyerapan aspirasi dan pemaparan visi misi calon dekan FISIP Unhas yang digelar di Gedung IPTEKS, Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar, Kamis (16/4/2026).

Acara tersebut dihadiri ratusan civitas akademika dan melibatkan lima panelis dari berbagai latar belakang, antara lain mantan dekan, unsur legislatif daerah, akademisi, dan alumni.

Bagi Prof Hamka, kehadiran unsur yang beragam dalam forum itu memiliki makna strategis. Senat, kata dia, tidak hanya membutuhkan calon dekan yang mampu menyusun visi besar di atas kertas, tetapi juga sosok yang cakap menangkap pesan, harapan, dan kritik dari stakeholder yang selama ini menjadi bagian dari pertumbuhan FISIP.

“Dialog publik dan penjaringan aspirasi ini memiliki fungsi penting dalam rangka bagaimana seorang pemimpin mampu menangkap pesan-pesan atau keinginan-keinginan dari stakeholder,” kata Prof Hamka.

Karena itu, menurut dia, alumni, dosen, mantan dekan, dan unsur lain sengaja dihadirkan agar para calon dekan dapat mendengar langsung aspirasi yang berkembang mengenai arah pengembangan fakultas ke depan.

Prof Hamka menjelaskan, seluruh masukan yang muncul dalam forum itu semestinya tidak berhenti sebagai catatan sesaat. Aspirasi publik, kata dia, harus diolah menjadi bahan yang konkret dalam penyusunan kertas kerja dan visi misi calon dekan.

Dari situlah Senat akan menilai sejauh mana seorang calon mampu merumuskan program yang rasional, relevan, dan menjawab kebutuhan kelembagaan.

Ia menekankan, kemampuan menangkap dan meramu aspirasi menjadi salah satu indikator penting dalam proses seleksi.

Seorang calon dekan, menurut Guru Besar Ilmu Administrasi Unhas ini, bukan hanya dituntut memiliki gagasan besar, tetapi juga kepekaan untuk menerjemahkan kebutuhan komunitas akademik ke dalam kebijakan yang operasional.

“Kalau dia bisa tangkap dengan baik dan meramu dengan berbagai macam hal yang rasional untuk pengembangan fakultas, maka itu akan menjadi pertimbangan penting bagi Senat untuk memilih mereka,” ujar Prof Hamka.

Dalam forum tersebut, empat calon dekan memaparkan visi, misi, serta program strategis masing-masing.

Pokok-pokok yang mengemuka mencakup penguatan mutu akademik, peningkatan kesejahteraan dosen dan tenaga kependidikan, serta upaya memperluas daya saing fakultas pada tingkat global.

Para panelis juga memberikan masukan mengenai kualitas lulusan, penguatan kemahasiswaan, pengelolaan anggaran, dan arah penelitian.

Namun, di mata Hamka, inti dari seluruh proses itu tetap terletak pada kemampuan para calon membaca kehendak bersama. Ia berharap seluruh kandidat dapat menangkap inti keinginan stakeholder dan menjabarkannya secara terukur dalam dokumen kerja mereka.

Dengan begitu, proses pemilihan tidak semata memilih figur, melainkan menentukan arah FISIP dalam beberapa tahun mendatang.

Ketua Panitia, Dr Muh Iqbal Latief MSi., menyebut dialog publik ini menjadi bagian dari tahapan penjaringan aspirasi yang akan menjadi referensi dalam penyusunan program strategis dekan terpilih.

Adapun tahapan berikutnya, Senat Fakultas dijadwalkan melakukan penjaringan pada 20 April 2026 untuk menetapkan tiga besar calon dekan yang akan diusulkan kepada rektor.

(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)