News

Kick-Off BKGN 2026 Dibuka Wamenkes, FKG dan RSGM Pendidikan Bergerak Bersama Perkuat Kesehatan Gigi Masyarakat

Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD., Ph.D., membuka Kick-Off Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2026 yang digelar di SDN Menteng 01 Jakarta, Kamis (17/9/2026).

JAKARTA, UNHAS.TV – Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD., Ph.D., membuka Kick-Off Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2026 yang digelar di SDN Menteng 01 Jakarta, Kamis (17/9/2026).

BKGN 2026 merupakan kolaborasi nasional antara Kementerian Kesehatan RI, Unilever Indonesia melalui Pepsodent, Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI), Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI), serta Asosiasi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Indonesia (ARSGMPI).

Memasuki penyelenggaraan ke-17, BKGN 2026 mengusung semangat “Gigi Kuat, Senyum Sehat, Indonesia Hebat”, dengan perhatian besar pada penguatan upaya promotif dan preventif serta pengenalan paradigma baru mengenai pentingnya menjaga keseimbangan mikrobioma (microbiome) mulut.

Dalam sambutannya, Prof. Dante menekankan bahwa kesehatan gigi dan mulut perlu dijaga sejak usia dini dan tidak seharusnya baru mendapat perhatian ketika seseorang mengalami sakit gigi. Pemeriksaan kesehatan gigi kini juga menjadi bagian dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG), termasuk bagi anak-anak sekolah.

Ia mengingatkan pentingnya membiasakan anak menyikat gigi pada waktu yang tepat, menggunakan pasta gigi berfluorida, memperhatikan pola konsumsi, serta menjalani pemeriksaan kesehatan gigi secara berkala. Pendekatan promotif dan preventif dinilai penting agar masalah kesehatan gigi dapat ditemukan dan ditangani sedini mungkin.

AFDOKGI dan ARSGMPI Gerakkan FKG–RSGM Pendidikan Se-Indonesia

Salah satu kekuatan utama BKGN 2026 adalah keterlibatan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) dan Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Pendidikan yang bergerak bersama di berbagai wilayah Indonesia.



Melalui koordinasi AFDOKGI dan ARSGMPI, FKG dan RSGM Pendidikan menjadi jejaring strategis untuk memperluas jangkauan BKGN. Rangkaian BKGN 2026 akan dilaksanakan melalui 29 FKG dan RSGM Pendidikan di berbagai wilayah Indonesia, terutama pada periode Oktober hingga Desember 2026.

Ketua AFDOKGI, Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D., menegaskan pentingnya pendekatan kesehatan gigi dan mulut yang mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan.

Rongga mulut merupakan ekosistem kompleks yang dihuni lebih dari 700 spesies mikroorganisme. Karena itu, tujuan perawatan bukan semata-mata menghilangkan sebanyak mungkin bakteri, tetapi juga mempertahankan keseimbangan mikrobioma mulut.

Dalam pelaksanaan BKGN 2026, AFDOKGI mendorong keterlibatan Fakultas Kedokteran Gigi di berbagai wilayah untuk bergerak bersama RSGM Pendidikan. Sinergi ini penting karena FKG memiliki kekuatan akademik melalui dosen, mahasiswa, dan peserta pendidikan dokter gigi spesialis, sementara RSGM Pendidikan menjadi wahana pendidikan klinis sekaligus pusat pelayanan kesehatan gigi dan mulut kepada masyarakat.

Kolaborasi FKG dan RSGM Pendidikan tersebut diharapkan membuat edukasi dan pelayanan BKGN tidak hanya terpusat di kampus dan rumah sakit, tetapi semakin dekat dengan masyarakat melalui kegiatan promotif, preventif, serta pelayanan kesehatan gigi di berbagai komunitas.

Ketua ARSGMPI, Dr. drg. A. Tajrin, M.Kes., Sp.B.M.M., Subsp.C.O.M(K), mengatakan kolaborasi antara AFDOKGI dan ARSGMPI menjadi salah satu kekuatan utama dalam pelaksanaan BKGN secara nasional.

“FKG dan RSGM Pendidikan tidak dapat dipisahkan. Keduanya merupakan satu ekosistem pendidikan dan pelayanan kesehatan gigi. Melalui kolaborasi AFDOKGI dan ARSGMPI, kita ingin Fakultas Kedokteran Gigi dan RSGM Pendidikan di berbagai wilayah Indonesia bergerak bersama, memanfaatkan kekuatan akademik, tenaga profesional, peserta didik, serta fasilitas pelayanan untuk memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat,” ujar A. Tajrin.

Pesantren dan Komunitas Ibu Menjadi Sasaran Penting

BKGN 2026 juga memperluas jangkauan edukasi kepada kelompok masyarakat yang memiliki peran strategis dalam membangun perilaku kesehatan, khususnya anak-anak dan warga pesantren serta komunitas ibu.



Pesantren menjadi salah satu sasaran penting karena merupakan komunitas pendidikan dengan jumlah anak dan remaja yang besar. Melalui jejaring FKG dan RSGM Pendidikan, edukasi kesehatan gigi dan mulut diharapkan dapat menjangkau para santri sekaligus membangun kebiasaan hidup sehat di lingkungan pesantren.

“Anak-anak pesantren perlu mendapatkan perhatian karena mereka hidup dan belajar dalam sebuah komunitas. Jika kebiasaan menjaga kesehatan gigi dan mulut dapat dibangun di lingkungan pesantren, dampaknya bukan hanya kepada seorang anak, tetapi dapat berkembang menjadi budaya hidup sehat di dalam komunitas tersebut,” jelas A. Tajrin.

Selain pesantren, komunitas ibu menjadi kelompok prioritas karena ibu memiliki peran penting dalam membentuk perilaku kesehatan di lingkungan keluarga.

“Peran ibu sangat penting. Dari ibulah kebiasaan anak untuk menyikat gigi, memilih makanan, membatasi konsumsi gula, hingga membawa anak memeriksakan giginya secara rutin dapat mulai dibentuk. Meningkatkan literasi kesehatan gigi seorang ibu berarti sekaligus memperkuat kesehatan gigi seluruh keluarga,” tambahnya.

BKGN 2026 Kenalkan Paradigma Keseimbangan Mikrobioma Mulut

Salah satu perhatian khusus dalam BKGN 2026 adalah meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai oral microbiome atau mikrobioma mulut, yakni komunitas mikroorganisme yang secara alami hidup di dalam rongga mulut.

Prof. Suryono menjelaskan bahwa rongga mulut merupakan salah satu ekosistem mikroba terbesar dalam tubuh manusia dengan lebih dari 700 spesies mikroorganisme. Tidak seluruh mikroorganisme tersebut merugikan. Karena itu, paradigma perawatan kesehatan gigi dan mulut perlu bergeser dari sekadar menghilangkan bakteri menjadi menjaga keseimbangan mikrobioma mulut.

Ketika keseimbangan tersebut terganggu atau terjadi disbiosis (dysbiosis), kelompok bakteri yang berpotensi merugikan dapat berkembang lebih dominan dan berkontribusi terhadap berbagai masalah kesehatan gigi dan mulut, termasuk plak, karies, gangguan gusi, dan bau mulut.

A. Tajrin menambahkan, pemahaman mengenai keseimbangan mikrobioma perlu diterjemahkan ke dalam bahasa sederhana agar mudah dipahami masyarakat.

“Masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua bakteri di rongga mulut harus dianggap sebagai bakteri jahat. Ada mikroorganisme yang hidup bersama dan berperan dalam mempertahankan ekosistem rongga mulut. Yang harus kita jaga adalah keseimbangannya agar bakteri yang merugikan tidak menjadi dominan dan menimbulkan penyakit,” jelasnya.

Unilever Hadirkan Pepsodent Pro.Care dengan Teknologi Microbiome Active

Sejalan dengan edukasi mengenai keseimbangan mikrobioma, Personal Care Community Lead Unilever Indonesia, drg. Ratu Mirah Afifah, GCClinDent., MDSc., menjelaskan bahwa BKGN terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat dan perkembangan ilmu kesehatan gigi dan mulut.

Menurut Mirah, BKGN 2026 membawa paradigma mengenai pentingnya perlindungan ekstra dengan menjaga keseimbangan mikrobioma mulut sebagai salah satu fondasi kesehatan gigi dan mulut secara menyeluruh.

Pada momentum BKGN 2026, Pepsodent juga memperkenalkan inovasi baru, Pepsodent Pro.Care dengan teknologi Microbiome Active. Teknologi tersebut menggunakan One Trillion Active Ions yang.

Menurut Pepsodent, dirancang untuk membantu menekan pertumbuhan bakteri yang merugikan sekaligus mendukung bakteri baik sehingga membantu mempertahankan keseimbangan mikrobioma mulut. Pepsodent juga menyatakan teknologi tersebut telah melalui pengujian klinis dan dirancang untuk memberikan perlindungan hingga 24 jam.



“Kami harap seluruh rangkaian kegiatan BKGN 2026 dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya keseimbangan microbiome mulut, yang kemudian bertransformasi menjadi rutinitas menyikat gigi sehari-hari yang mampu memberikan perlindungan ekstra bagi senyum keluarga Indonesia,” ujar drg. Ratu Mirah.

Kehadiran inovasi tersebut sekaligus memperkuat pesan BKGN 2026 bahwa perkembangan ilmu kesehatan gigi dan mulut perlu diterjemahkan menjadi edukasi serta kebiasaan sehari-hari yang mudah diterapkan masyarakat.

Dari Kick-Off Menuju Gerakan Bersama FKG–RSGM di Seluruh Indonesia

Kick-Off BKGN 2026 di SDN Menteng 01 Jakarta menjadi titik awal rangkaian kegiatan yang selanjutnya akan bergerak melalui jejaring Fakultas Kedokteran Gigi dan RSGM Pendidikan di berbagai wilayah Indonesia.

Keterlibatan AFDOKGI bersama jejaring Fakultas Kedokteran Gigi serta ARSGMPI bersama jejaring RSGM Pendidikan diharapkan menjadikan BKGN bukan sekadar kegiatan pelayanan kesehatan gigi tahunan, melainkan gerakan nasional yang mengintegrasikan pendidikan, pelayanan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

“BKGN adalah gerakan bersama. AFDOKGI dengan jejaring Fakultas Kedokteran Gigi dan ARSGMPI dengan jejaring RSGM Pendidikan memiliki kekuatan besar jika bergerak dalam satu arah. Bersama Kementerian Kesehatan, PB PDGI, Unilever Indonesia, dan seluruh pemangku kepentingan, kita ingin edukasi dan pelayanan kesehatan gigi menjangkau masyarakat seluas-luasnya, termasuk anak-anak pesantren dan komunitas ibu,” tegas A. Tajrin.

Kolaborasi tersebut diharapkan semakin memperkuat peran FKG dan RSGM Pendidikan sebagai bagian penting dari sistem kesehatan nasional, khususnya dalam membangun masyarakat yang tidak hanya memperoleh pelayanan ketika sakit, tetapi juga memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mencegah penyakit serta menjaga kesehatan rongga mulut sepanjang hayat.

Dengan semangat “Gigi Kuat, Senyum Sehat, Indonesia Hebat,” BKGN 2026 menjadi momentum bagi FKG dan RSGM Pendidikan se-Indonesia untuk bergerak bersama, membawa edukasi dan pelayanan kesehatan gigi dari kampus dan rumah sakit menuju sekolah, pesantren, keluarga, komunitas ibu, hingga masyarakat di berbagai penjuru Indonesia.