Budaya
Makassar

Unhas Akan Gelar Seminar Internasional Angkat Warisan Global Syekh Yusuf, Ketua AMSY Siap Berkontribusi

Panitia Seminar Internasional Syekh Yusuf mematangkan konsep bersama Dr. Sawedi Muhammad. (Foto: Dok.Pribadi). Panitia Seminar Internasional Syekh Yusuf mematangkan konsep bersama Dr. Sawedi Muhammad. (Foto: Dok.Pribadi).

MAKASSAR, UNHAS.TV – Universitas Hasanuddin (Unhas) mulai mematangkan pelaksanaan Seminar Internasional bertema "From Makassar to Cape Town: Syekh Yusuf, Global South Solidarity, Energy Sovereignty, and the Future of Indian Ocean Economy" yang akan menjadi salah satu agenda ilmiah utama dalam rangkaian Dies Natalis ke-70 Unhas, dengan menghadirkan warisan pemikiran dan perjuangan Syekh Yusuf Al-Makassari sebagai inspirasi bagi pembangunan dunia yang lebih adil, berkeadaban, dan berkeadilan.

Persiapan seminar tersebut dibahas dalam rapat yang berlangsung di Ruang Sekretaris Rektor Unhas, Selasa (7/7), dengan melibatkan panitia pelaksana dan unsur pimpinan universitas.

Seminar ini dirancang bukan sekadar menjadi forum akademik, melainkan ruang perjumpaan gagasan yang menghubungkan sejarah, ilmu pengetahuan, diplomasi, ekonomi, hingga masa depan kerja sama negara-negara Global South.

Panitia meyakini bahwa sudah saatnya Universitas Hasanuddin menghadirkan kembali Syekh Yusuf bukan hanya sebagai tokoh sejarah, tetapi sebagai pemikir dunia yang relevan menjawab berbagai persoalan kontemporer.

Spirit perjuangan Syekh Yusuf dinilai semakin penting di tengah perubahan geopolitik global yang ditandai meningkatnya ketimpangan, persaingan kekuatan besar, krisis energi, serta munculnya kembali berbagai bentuk dominasi ekonomi dan politik terhadap negara-negara berkembang.

Karena itu, seminar ini akan mengangkat kembali nilai-nilai universal yang diwariskan Syekh Yusuf, mulai dari sikap anti-hegemoni, anti-kolonialisme, penghormatan terhadap martabat manusia, hingga solidaritas Asia-Afrika yang melampaui batas bangsa, ras, agama, dan kawasan.

Bagi Unhas, pesan utama yang hendak dibangun melalui seminar ini adalah bahwa Sulawesi Selatan sejak dahulu telah melahirkan tokoh dunia yang gagasan dan perjuangannya tetap hidup hingga sekarang.

Syekh Yusuf dipandang sebagai representasi ulama Nusantara yang tidak hanya membangun tradisi keilmuan Islam, tetapi juga menjadi pelopor perjuangan transnasional melawan kolonialisme VOC melalui jaringan intelektual, spiritual, dan sosial yang membentang dari Makassar, Banten, Sri Lanka hingga Afrika Selatan.

Nilai-nilai tersebut dinilai sangat relevan untuk dikenalkan kembali kepada generasi muda, khususnya sivitas akademika Universitas Hasanuddin.

Melalui seminar ini, Unhas ingin menegaskan bahwa sivitas akademika tidak cukup hanya mengenal Syekh Yusuf sebagai pahlawan nasional atau ulama besar asal Gowa, melainkan juga memahami universalitas gagasan, keberanian moral, serta visi kemanusiaannya yang melampaui ruang dan waktu.

Warisan pemikiran Syekh Yusuf diharapkan menjadi inspirasi dalam membangun budaya akademik yang kritis terhadap segala bentuk ketidakadilan, sekaligus terbuka terhadap kolaborasi global yang berlandaskan kesetaraan.

Lebih jauh lagi, seminar ini juga ingin menunjukkan bahwa Sulawesi Selatan memiliki sejarah dan peradaban Islam yang pernah mencapai puncak kejayaan.

Jejak intelektual, spiritual, dan politik yang diwariskan para ulama Nusantara, termasuk Syekh Yusuf, menjadi bukti bahwa kawasan ini pernah menjadi salah satu simpul penting jaringan keilmuan Islam dunia.

Spirit kejayaan tersebut dipandang perlu dihidupkan kembali melalui penguatan riset, diplomasi akademik, dan kerja sama internasional sehingga sejarah tidak berhenti sebagai romantisme masa lalu, tetapi menjadi energi baru dalam membangun masa depan.

Dr. drg. Muh. Arief Rosyid, M.KM. berdiskusi bersama panitia mematangkan Seminar Internasional Syekh Yusuf Al-Makassari sebagai forum strategis menghidupkan kembali warisan intelektual, solidaritas Global South, dan jejaring kolaborasi internasional dalam rangka Dies Natalis ke-70 Universitas Hasanuddin. (Foto:Dok.Pribadi).
Dr. drg. Muh. Arief Rosyid, M.KM. berdiskusi bersama panitia mematangkan Seminar Internasional Syekh Yusuf Al-Makassari sebagai forum strategis menghidupkan kembali warisan intelektual, solidaritas Global South, dan jejaring kolaborasi internasional dalam rangka Dies Natalis ke-70 Universitas Hasanuddin. (Foto:Dok.Pribadi).


Dari Jalur Dakwah Menjadi Koridor Ekonomi Samudra Hindia

Selain mengangkat dimensi spiritual dan perjuangan politik Syekh Yusuf, seminar ini juga akan memperluas pembahasan pada aspek yang selama ini relatif kurang mendapat perhatian, yakni peran jaringan perdagangan, diaspora, dan konektivitas maritim yang mengiringi perjalanan hidupnya.

Jalur historis Makassar–Banten–Sri Lanka–Cape Town tidak hanya dipahami sebagai rute pengasingan seorang ulama, tetapi juga sebagai koridor peradaban yang mempertemukan perdagangan, pertukaran budaya, penyebaran ilmu pengetahuan, serta hubungan antarmasyarakat di kawasan Samudra Hindia.

Panitia memandang jalur sejarah tersebut memiliki potensi besar untuk direkonstruksi menjadi gagasan kerja sama ekonomi masa depan yang melibatkan pengembangan pelabuhan, logistik maritim, perdagangan internasional, usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), industri halal, ekonomi kreatif, hingga penguatan diplomasi ekonomi Indonesia dengan negara-negara Asia dan Afrika.

Pendekatan inilah yang membedakan seminar ini dari berbagai forum tentang Syekh Yusuf yang pernah diselenggarakan sebelumnya karena tidak hanya membicarakan masa lalu, tetapi juga menawarkan arah pembangunan masa depan yang berbasis sejarah dan peradaban.

Sebelumnya, pada Minggu (14/6/2026), panitia telah bertemu dengan Ketua Angkatan Muda Syekh Yusuf Al-Makassari (AMSY), Dr. Drg. Muh. Arief Rosyid Hasan, M.KM, untuk membahas konsep pelaksanaan seminar.

Arief menyambut baik inisiatif Universitas Hasanuddin tersebut dan menyatakan kesiapan AMSY untuk berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan.

"Kegiatan ini sangat baik dan saya siap menjembatani serta membantu segala kebutuhan demi kesuksesan seminar tersebut. Pelaksanaannya harus memiliki nilai tambah dan berbeda dari kegiatan-kegiatan serupa yang pernah diselenggarakan oleh lembaga lain," ujar Arief saat ditemui di Cafe Expose Pettarani.

Sementara itu, Sekretaris Rektor Unhas, Dr. Sawedi Muhammad, S.Sos., M.Sc., menegaskan bahwa Universitas Hasanuddin memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan seminar tersebut.

Menurutnya, seminar internasional harus mampu melahirkan dampak yang berkelanjutan, baik dalam bentuk jejaring akademik internasional, rekomendasi kebijakan, maupun inisiasi berbagai kerja sama strategis yang memperkuat posisi Unhas sebagai perguruan tinggi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

"Seminar ini harus melahirkan dampak yang berkelanjutan, baik dalam bentuk penguatan jejaring internasional, rekomendasi kebijakan, maupun inisiasi kerja sama baru yang mendukung visi Unhas sebagai perguruan tinggi yang berdampak," kata Sawedi.

Ketua Panitia, Supratman, S.S., M.Sc, Ph.D., menjelaskan bahwa pemilihan Syekh Yusuf sebagai tema utama didasarkan pada pengakuan internasional terhadap kiprah ulama, sufi, pemikir, dan pejuang asal Gowa tersebut.

Ia mengungkapkan bahwa Sidang Umum UNESCO ke-43 telah menetapkan peringatan 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari sebagai UNESCO Anniversary 2026, sebuah pengakuan yang menempatkan Syekh Yusuf sebagai figur dunia yang memiliki kontribusi penting terhadap nilai-nilai perdamaian, toleransi, keadilan, dan perjuangan melawan penindasan.

"Ini merupakan pengakuan dunia bahwa Syekh Yusuf bukan hanya milik Sulawesi Selatan atau Indonesia, tetapi milik peradaban dunia. Karena itu, seminar ini menjadi momentum untuk menghidupkan kembali gagasan-gagasan beliau tentang solidaritas Global South, anti-hegemoni, anti-kolonialisme, serta membangun masa depan kerja sama Samudra Hindia yang lebih adil dan berkelanjutan," ujar Supratman.

Melalui seminar internasional tersebut, Universitas Hasanuddin berharap warisan pemikiran Syekh Yusuf tidak hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah, tetapi terus hidup sebagai sumber inspirasi dalam membangun ilmu pengetahuan, memperkuat kerja sama antarbangsa, mengembangkan ekonomi maritim, serta meneguhkan posisi Indonesia sebagai salah satu pusat peradaban dan pemikiran Global South di abad ke-21.(*)